Melati Tanpa Wangi 34 Banyak perempuan yang lebih cantik darinya, Wina terlalu sederhana, kecantikannya pun biasa, tidak terlalu mencolok. Ia bak berlian yang belum digosok, penampilannya yang lusuh menyembunyikan kilau di baliknya. Hampir setiap hari aku mengamatinya, melalui monitor led mataku mengawasi setiap gerak-geriknya, dari satu ruang ke ruang lainnya. Sosok pekerja yang tekun, ia tak pernah berhenti dan membiarkan diri bersantai, apa pun pekerjaan yang ada pasti dikerjakan. Apakah ia juga akan menjerit dan berlari ketakutan kalau kuperlihatkan wajah monsterku? Aku tak berani menampakkan diri, tak ingin mendapat reaksi menyakitkan dari perempuan yang kudamba. Aku memilih menatap dalam persembunyian, mengagumi melalui gambar dalam layar. Tak kubiarkan perempuan sederhana itu

