Wulan terdiam seketika setelah mendengarkan ucapan Ridwan. Dia menatap sendu lelaki tersebut dan mulai tersenyum tipis. Tak lama berselang Wulan mengangguk sehingga membuat Ridwan merasa lega dan tersenyum lebar. "Terima kasih atas niat baikmu, Bang. Tapi, aku hidup bukan hanya sekedar ingin memiliki payung untuk berteduh saat hujan atau panas." Mendadak senyuman Ridwan lenyap. Kini ada kekecewaan yang bergelayut di dadanya. Dia menatap nanar perempuan yang ada di hadapannya tersebut. "Aku butuh rumah yang kokoh untuk melindungiku dari panas, hujan, bahkan badai dan gempa bumi. Bang, kita hidup itu bukan cuma ada panas dan hujan. Tapi ini bukan tentang panas dan hujan. Aku tahu maksudku, dan aku pun yakin kamu juga mengerti maksudku." Wulan tersenyum tipis kemudian beranjak dari kursi.

