Wulan terbelalak mendengar teriakan Nathan. Entah mengapa hatinya menjadi sangat sakit. Baru kali ini dia melihat Nathan yang biasanya tenang menjadi lelaki yang meledak-ledak.
Wulan perlahan turun dari atas ranjang. Dia berjalan ke arah pintu. Ketika berada di depan Nathan, Wulan terdiam sejenak.
Perempuan tersebut menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. Namun, bukannya ditenangkan, justru Wulan mendapatkan perlakuan di luar dugaan. Nathan mendorong tubuh Wulan dan langsung membanting pintu secara kasar.
"Tega sekali Anda, Dokter! Beginikah cara Anda memperlakukan seorang istri!" teriak Wulan di antara isak tangis yang perlahan pecah.
Wulan perlahan berjalan gontai ke arah ruang tengah. Dia menyalakan televisi dan membaringkan tubuh ke atas sofa. Isak tangis terus keluar dan air mata mulai membanjiri wajah ayu Wulan.
Perempuan itu tak menyangka, lelaki yang tampak selalu tenang dan arah di hadapannya sebelum menikah menjadi sosok yang sangat dingin sekarang. Bahkan terlihat sekali emosi Nathan yang terus meledak-ledak layaknya bom ketoka bicara dengannya. Rasa kantuk kembali membuat Wulan memejamkan mata dan terlelap.
Keesokan harinya Wulan bangun kesiangan. Dia terperanjat ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 08:00. Dia langsung menoleh ke arah kamar Nathan dan langsung terbelalak. Perlahan Wulan bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kamar Nathan.
"Sebesar itukah Anda membenciku, Dok?" gumam Wulan dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Di hadapannya kini sudah ada koper dan tas yang kemarin dia gunakan untuk mengangkut pakaian dan barang pribadi miliknya. Tatapan Wulan buram ketika melihat sebuah catatan kecil yang ditempel Nathan pada pintu kamarnya. Wulan mengambil catatan itu dengan tangan gemetar.
Di sana tertulis kalau Wulan diminta untuk pindah dan tidur di kamar sebelah. Nathan juga menunggalkan pesan, ketika dia pulang, Wulan harus sudah masuk kamar dan menampakkan diri di hadapan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Nathan juga mengatakan bahwa Wulan berhak melakukan apa saja yang dia mau selama pernikahan berlangsung.
"Ternyata Anda benar-benar lelaki yang kejam, Dok! Seharusnya aku tetap bertahan untuk tidak menikah dengan Anda. Padahal Anda yang bersikukuh untuk menikahiku. Tapi ... pada akhirnya justru kembali membuat luka." Wulan kembali meneteskan air matanya.
Perempuan tersebut beranjak dari depan kamar Nathan. Dia memilih untuk menarik kopernya ke kamar sebelah yang kemarin belum sempat dia bersihkan. Wulan langsung menata barang-barangnya di ruangan dengan ukuran setengah lebih kecil daripada milik Nathan.
Setelah semua selesai, Wulan baru mengisi perutnya yang terus berteriak. Dia memutuskan untuk membuat mi instan. Wulan menikmati sarapan sekaligus makan siangnya itu sambil berkirim pesan dengan Nadira.
Wulan meminta izin kepada Nadira untuk bisa kembali bekerja di kafe. Beruntungnya Nadira mengizinkan Wulan untuk kembali bekerja. Perempuan tersebut langsung bersiap dan memakai seragamnya untuk pergi ke kafe.
***
"Apakah dia baik kepadamu?" tanya Devi sambil menatap teman kerjanya itu sambil tersenyum.
Wulan terdiam seketika dan menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengelap meja kasir. Wulan memaksakan senyum pada rahangnya yang kaku, lantas mengangguk. Devi berteriak kecil sambil menggandeng tangan Wulan dan mengoceh.
Wulan yang merasa tidak ingin membahas Nathan, kini mengalihkan perhatian Devi karena ada pelanggan yang datang. Hari itu Wulan baru tahu kalau Ridwan sudah tidak bekerja di sana. Berdasarkan cerita Devi, Ridwan keluar karena merasa bersalah atas insiden yang menimpa dirinya dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri.
Hari itu berlalu sangat cepat. Wulan sengaja mengambil jam lembur karena mengingat pesan yang dia baca tadi pagi. Seharusnya di jam sekarang Nathan sudah tidur dan tidak ada di rumah ketika dia sampai.
"Hati-hati di jalan, Lan!" Devi melambaikan tangan ketika hendak meninggalkan Wulan sendirian.
Malam itu Wulan sedang memesan ojek online untuk kembali ke apartemen Nathan, Akan tetapi, setiap pesan, selalu ditolak. Dia memutuskan untuk kembali ke kafe dan menginap di ruang atas.
Akan tetapi, baru saja Wulan balik kanan, sebuah motor berhenti tepat di depan kafe. Saat menoleh, dia mendapati Ridwan ada di atas motornya sambil tersenyum kikuk.
"Nggak dijemput? Mau aku antar pulang?" tanya Ridwan sambil menyodorkan helm kepada Wulan.
"Ayo, ini sudah malam, loh! Aku antar pulang!" Ridwan kembali menggoyangkan helm dalam genggamannya itu,
Mau tak mau akhirnya Wulan mengambil alih benda tersebut dan memakainya. Dia langsung naik ke atas motor Ridwan dan lelaki itu bergegas melajukan motornya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Sekarang tinggal di mana?" tanya Ridwan sebelum motornya melaju semakin jauh.
"Apartemen Emerald."
"Weh, jadi istri orang berkelas emang beda, ya?" Ridwan terkekeh, tetapi tidak ada sahutan yang diberikan oleh Wulan.
Lelaki tersebut melirik ke arah spion. Dari pantulan cermin kecil di depannya itu, Ridwan bisa melihat dengan jelas kalau Wulan tengah meneteskan air mata. Akhirnya Ridwan memilih untuk diam.
Lelaki itu tahu kalau Wulan sedang tidak baik-baik saja, Namun, dia enggan untuk mengorek lebih dalam kondisi mantan rekan kerjanya tersebut. Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit, akhirnya mereka sampai.
"Makasih, ya, Bang." Wulan menyodorkan helm yang dia pakai kepada Ridwan.
Lelaki itu mengambil helm tersebut dari tangan Wulan dan tersenyum tipis. Hatinya terasa begitu nyeri ketika menyadari mata wulan tampak merah dan masih basah. Lelaki itu semakin yakin kalau ada yang sedang dialami oleh Wulan.
"Kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita. Kalau memang nggak kuat dengan pernikahanmu, ngomong. Biar kusamperi dokter Nathan! Aku akan menghajarnya kalau sampai ketahuan sudah menyakitimu!" ujar Ridwan sambil menunjukkan lengan kecilnya kepada Wulan.
Melihat hal itu membuat Wulan terkekeh. Dia sedikit terhibur dengan tingkah Ridwan yang sebenarnya memang humoris. Hal itulah yang membuat Wulan dan nyaman dengan lelaki berdarah Bugis itu meski baru mengenalnya satu bulan.
"Badanmu kalah besar sama dokter Nathan. Bagaimana kamu bisa menghajarnya?" Wulan terkekeh sambil menatap lengan Ridwan yang sama sekali tidak memiliki otot yang terlatih itu.
Sontak Ridwan menarik kembali lengannya. Dia menurunkan lengan jaket dan berdeham. Senyuman yang kini mulai terukir di bibir Wulan membuat Ridwan menjadi sedikit lebih lega.
"Lan, aku minta maaf, ya? Seharusnya malam itu aku tetap bersamamu dan mengantarmu pulang. Aku ...."
"Nggak apa-apa, Bang. Lagi pula memang harus takdirnya begini. Kita bisa apa. Doakan saja aku kuat menghadapi pilihanku untuk menikah dengan dokter Nathan." Wulan tersenyum tipis kemudian meninggalkan Ridwan dan masuk ke apartemen.
Ketika baru membuka pintu dan berniat masuk ke unit apartemen milik Nathan, Wulan terperanjat. Lelaki tersebut sedang berdiri sambil menatap tajam ke arahnya. Wulan menunduk dan memilih untuk mengabaikan Nathan dan berjalan begitu saja melewati suaminya itu tanpa sepatah kata pun.
"Dari mana saja kamu?"