Nadira berteriak dan hendak mencegah Wulan. Namun, tanpa diduga, di belakang gadis itu kini ada Nathan yang sedang memegang ujung gunting.
Wulan terbelalak ketika menyadari ada orang lain yang kini menggenggam gunting tersebut. Ketika menoleh, Nathan sudah menatapnya dingin dengan rahang mengeras. Seakan jemari Wulan melemah, sehingga perlahan genggamannya pada benda itu terbuka.
Tak lama kemudian terlihat tetes darah yang keluar dari tangan Nathan. Wulan langsung menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua telapak tangan. Nathan perlahan menjauh dari Wulan dan mulai berjalan mundur sambil menggenggam gunting itu di tangannya.
"Jangan lakukan hal bodoh! Aku sudah bilang akan bertanggung jawab dan menikahimu! Jangan berpikir untuk mengakhiri hidup karena bisa saja kamu membunuh orang lain yang bahkan belum sempat terlahir." Nathan menatap dingin Wulan yang kini kembali menangis histeris.
"Bisa saja hasil hubungan satu malam kita kini sudah mulai berkembang. Kalau kamu bunuh diri, artinya kamu merampas hak untuk hidup seorang anak yang belum lahir!"
"Tapi aku nggak bisa menikah tanpa didasari dengan rasa cinta, Dok! Aku nggak bisa! Terlebih Dokter menikahiku karena terpaksa! Aku nggak mau!" Wulan menangis histeris dan langsung masuk ke kamarnya.
Nadira terlihat mengembuskan napas kasar. Dia merapikan meja di depannya dan membawa semua makanan yang belum tersentuh kembali ke bawah. Nathan memilih untuk tetap tinggal di sana dan memikirkan cara untuk membujuk Wulan.
Lelaki tersebut mulai mengayunkan langkah ke arah pintu kamar. Dia menempelkan punggung pada daun pintu, lantas tubuhnya merosot ke atas lantai. Dia mengusap wajah secara kasar.
"Berikan aku kesempatan untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku lakukan kepadamu, Lan. Untuk masalah cinta, bukankah semua bisa berkembang seiring berjalannya waktu? Besok aku akan mendatangi rumahmu untuk melamar kamu."
Nathan perlahan beranjak dari atas lantai. Lelaki tersebut berjalan gontai meninggalkan ruang atas dan menutup pintunya rapat. Ruangan itu kini hanya menyisakan kesunyian yang semakin merantai hati Wulan.
Keesokan harinya Nathan langsung mengemudikan mobil menuju rumah sang ibu. Sesampainya di rumah Pitaloka, Nathan langsung menghampiri ibunya itu dan duduk di sampingnya. Kala itu Pitaloka sedang ada di taman belakang sambil melihat ART-nya menyirami bunga-bunga kesayangan wanita tersebut.
"Bu, aku mau nikah." Nathan melirik sang ibu yang sedang tersenyum sambil memandangi taman.
Kalimat singkat yang keluar dari bibir Nathan itu membuat Pitaloka langsung menoleh. Dia menatap sang putra, lalu menggenggam erat jemarinya. Mata wanita yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu langsung berbinar.
"Siapa yang akan kamu nikahi?" tanya Pitaloka dengan senyum yang semakin merekah.
"Wulan."
Mendengar jawaban Nathan membuat senyum Pitaloka mendadak layu. Dia mengerutkan dahi dan menatap Nathan dengan banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya. Nathan menarik napas sebelum akhirnya kembali bicara.
"Aku akan menikahi Wulan, Bu."
"Wulan siapa?" Pitaloka kini tak hanya mengerutkan dahi, tetapi juga menautkan kedua alisnya.
"Wulan, kasir yang bekerja di kafe Nadira."
Mendengar pengakuan sang putra membuat Pitaloka langsung melepaskan genggaman tangannya dari jemari Nathan. Dia menatap tajam Nathan, kemudian mengembuskan napas kasar. Pitaloka pun terkekeh.
"Kamu mau menikah dengan gadis yang hanya lulusan SMP itu? Bagaimana bisa kamu yang seorang dokter spesialis kejiwaan menikahi gadis seperti dia? Kayak nggak ada yang lain saja, Nath!" seru Pitaloka.
Nathan terdiam. Ibunya memang tahu soal latar belakang Wulan karena Nadira sering menceritakan tentang gadis itu kepadanya.
"Aku akan tetap menikahinya meski Ibu menolak. Aku sudah ...." Nathan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Aku sudah menidurinya dalam kondisi mabuk. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan kepadanya, Bu." Nathan kini menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan.
"Dia belum hamil, 'kan? Nggak masalah, masih bisa dicegah. Suruh dia minum obat buat mencegah kehamilan atau semacamnya! Beri dia kompensasi uang atau apalah! Jangan menikah dengannya! Kalian tidak cocok bersama! Dia hanya akan menjadi istri yang melemparkan kotoran ke wajahmu suatu saat nanti!" Pitaloka beranjak dari kursi dan mulai masuk ke rumah.
"Sekuat apa pun Ibu menolak, aku akan tetap menikahi Wulan!" seru Nathan sebelum akhirnya meninggalkan kediaman sang ibu.
Pada hari yang sama Nathan mengajak adiknya untuk mendatangi rumah Wulan yang ada di seberang pulau. Nathan yang datang bersama Mikaila membuat orang tua Wulan kebingungan, terlebih di hari yang sama Wulan juga pulang tanpa memberi kabar lebih dulu.
"Dilihat dari penampilanmu, kamu itu orang kaya dan berpendidikan. Anak kami cuma babu, Le." Joko dengan gurat penuaan pada dahi mengucapkan kalimat itu penuh rasa segan.
"Saya sudah memilih putri Bapak untuk menjadi istri saya, Pak. Saya nggak bisa mundur." Nathan tetap menyembunyikan alasan kenapa dia menikahi Wulan untuk menjaga nama baik sang calon istri.
"Jika memang mau menikahi Wulan, kamu tidak boleh membuat putriku itu meneteskan air mata. Apa kamu sanggup melakukannya juga?"
Nathan terdiam seketika. Mendengar ucapan Joko membuat lelaki itu seakan ditampar. Mendadak rasa ragu menyergap hatinya. Nathan berpikir apakah nantinya benar-benar bisa menjaga hati Wulan, sementara belum menikah saja dia sudah melukai hati gadis polos tersebut.
"Semua tergantung Wulan," ucap Joko sambil melirik Wulan yang sejak tadi diam membisu di sampingnya.
"Saya mau menikah dengan dokter Nathan, Pak. Jadi, restui kami!" Suara Wulan terdengar lemah dan sedikit bergetar.
Semua yang ada di ruangan itu kini menoleh ke arah Wulan. Gadis itu masih menunduk sambil meremas roknya. Perlahan Wulan mengangkat wajah dan menatap Nathan dengan mata sebak.
Mereka mulai menyiapkan dokumen dan keperluan acara pernikahan sederhana di tempat itu tanpa kehadiran ibu Nathan. Kurang dari satu bulan keduanya pun akhirnya sah menjadi suami istri. Setelah selesai acara, Nathan membawa Wulan kembali ke Denpasar.
Nathan memilih untuk mengajak Wulan tinggal di apartemen. Wulan pun hanya mengikuti kemauan Nathan. Terlebih saat mengingat Pitaloka tidak merestui pernikahan itu, dia merasa ini adalah keputusan yang terbaik.
"Istirahatlah! Aku akan langsung bekerja dan pulang malam. Tidak usah menyiapkan makan malam atau menungguku pulang!"
Wulan tersenyum kecut. Dia tidak bisa berharap lebih terhadap pernikahan itu. Dia berpikir paling tidak jika ternyata dia benar-benar hamil, anaknya sudah memiliki lelaki yang akan dipanggil ayah.
Hari itu Wulan hanya membersihkan dan merapikan apartemen Nathan. Saat malam tiba, rasa kantuk pun mulai mendera Wulan. Dia memilih untuk segera merebahkan tubuh ke atas ranjang yang sebelumnya pernah dia tiduri di malam sialnya itu.
Namun, ketika baru saja dia hendak memejamkan mata, pintu ruangan itu terbuka. Nathan sudah berdiri di ambang pintu dengan sepasang mata yang terlihat seperti serigala marah karena teritorialnya dijamah. Wulan hanya bisa menelan ludah kasar.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di kamarku? Keluar!" teriak Nathan.