Nathan terus mencoba kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Kepingan ingatan tersusun samar di dalam benaknya. Nathan mengusap wajah kasar ketika mengingat satu hal yang membuatnya tersadar.
Lelaki itu teringat kalau ada seorang wanita yang meneriakkan bahwa dia bukanlah Nadira saat dia mencumbu seseorang. Akan tetapi, semua masih samar mengenai siapa wanita tersebut. Nathan langsung menampar pipinya sendiri hingga menjadi kemerahan.
"Aku tidur dengan siapa semalam?" Nathan berteriak sambil mengacak rambut frustrasi.
Nathan memejamkan mata sambil terus berusaha mengingat lagi suara siapa yang dia dengar dalam kondisi setengah sadar itu. Tak lama kemudian dia terbelalak. Bayangan semu itu perlahan menjadi lebih jelas dan pada akhirnya dia menyadari satu hal.
"Wulan!” seru Nathan dengan mata terbelalak.
Nathan kembali memukuli kepalanya untuk melampiaskan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Nathan terlalu malu untuk menghadapi Wulan sekarang. Terlebih dalam ingatannya semalam dia tengah bercinta dengan Nadira.
Nathan yakin sudah mengucap nama Nadira berulang kali. Lelaki tersebut tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi mental Wulan sekarang. Nathan memutuskan untuk segera membersihkan diri dan mendinginkan kepala di bawah guyuran air.
Setelah selesai, lelaki itu keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ketika keluar dari kamar dan melewati ruang ramu, di sana ada ponsel yang tergeletak di atas meja. Saat meneliti benda itu, Nathan semakin yakin kalau Wulan adalah wanita yang sudah dia renggut keperawanannya. Ya, ponsel itu milik Wulan.
"Ternyata benar Wulan! Dasar b******k! Bagaimana kamu bisa melakukan hal sekotor itu dengan gadis polos seperti dia!" Nathan kembali merasa dadanya diimpit dengan beban yang sangat berat.
Nathan tetap memaksakan diri datang ke rumah sakit karena ada banyak pasien yang menunggu. Sepanjang hari dia tidak bisa bekerja dengan tenang. Bayangan bagaimana kondisi mental Wulan sekarang membuat dirinya kacau. Lelaki itu hanya memberikan konseling kepada pasien ala kadarnya.
Pasien terakhirnya hari itu adalah Chandra. Namun, suami dari Nadira itu tidak berniat untuk melakukan sesi konseling seperti ketika dia tertekan akibat tuntutan sang ibu yang menginginkan cucu kandung. Kali ini Chandra datang dengan niat yang berbeda.
"Tolong datang ke kafe. Tadi pagi Wulan pulang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Nadira dan Ridwan terus mendesaknya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Wulan tetap bungkam." Chandra mengembuskan napas perlahan dan menyandarkan punggung pada kepala kursi.
Nathan tidak memberikan tanggapan apa pun atas permintaan Chandra. Dia tahu betul alasan kenapa Wulan frustrasi. Namun, Nathan masih enggan mengungkapkannya kepada Chandra.
"Aku sibuk, jadi minta psikolog lain saja untuk menangani Wulan. Jam praktikku sudah selesai. Silakan keluar," ucap Nathan sambil menunjuk pintu keluar kepada Chandra.
Chandra akhirnya hanya bisa membawa rasa kecewanya keluar dari ruang praktik dokter tersebut. Nathan benar-benar semakin tertekan. Dia berteriak histeris setelah Chandra keluar dari ruangannya. Perawat yang membantunya sampai keheranan saat mengetahui menyaksikan kondisi Nathan yang sangat kacau.
Setelah berpikir panjang, Nathan akhirnya memutuskan untuk mendatangi Wulan. Saat dia ada di ambang pintu mess tempat Wulan tinggal, kakinya terpaku di atas lantai. Dia mendengar Chandra dan Nadira tengah berdebat soal siapa yang telah memperkosa Wulan.
Keduanya tahu alasan itu setelah Wulan mau membukakan pintu kamarnya. Nadira melihat karyawannya tersebut masih memakai pakaian yang sama dengan kondisi sobek di sana-sini. Nathan mengumpulkan keberanian dan akhirnya membuka pintu dan melewati Ridwan yang berdiri di depannya.
"Aku yang akan bertanggung jawab! Aku yang telah menodai Wulan." seru Nathan sehingga membuat Nadira dan Chandra menoleh ke arahnya.
Nadira yang kecewa dan tidak terima dengan apa yang dilakukan Nathan kepada Wulan langsyng mengambil langkah cepat mendekati lelaki tersebut. Dia mengangkat lengan, lalu mendaratkannya begitu keras pada pipi Nathan. Nathan mengabaikan rasa panas yang kini mendera pipinya, lantas berjalan ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat.
“Jangan berani mendekati Wulan!” teriak Nadira penuh emosi.
Namun, Nathan mengabaikan perempuan tersebut. Lelaki itu terus mendekat dan mulai mengangkat lengannya. Sebuah ketukan dia daratkan pada permukaan pintu tersebut.
"Wulan, ini aku ...." Nathan mencoba untuk membuka komunikasi dengan Wulan.
"Buka pintunya, mari kita bicara. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam. Aku akan menikahimu!" ujar Nathan dengan suara lemah.
"Maaf, semalam aku benar-benar tidak sadar, Lan. Jika dalam kondisi sadar, aku pasti tidak akan melakukan hal bodoh itu. Aku minta maaf." Kini bahu Nathan merosot dengan kepala tertunduk lesu.
"Pergi, Dok!" teriak Wulan dari dalam kamar dan tak lama berselang terdengar suara keras benda yang dilempar ke arah pintu.
"Nath, ikuti aku!" ujar Chandra sambil menarik lengan Nathan.
Keduanya akhirnya berdiskusi di lantai bawah. Nathan duduk sambil terus mengusap wajah kasar. Sesekali terdengar embusan napas keluar dengan sedikit hentakan.
"Minumlah dulu, katakan apa yang sebenarnya terjadi!" Chandra menyodorkan secangkir cairan pekat mengandung kafein ke depan Nathan.
Nathan hanya menatap kosong ke arah kopi tersebut. Chandra terus mencecar lelaki di hadapannya itu dan akhirnya Nathan menceritakan semua. Chandra menatap tajam lelaki di hadapannya itu kemudian menggebrak meja.
"Kalau begitu kamu harus menikahi Wulan! Tapi, jika sampai di masa yang akan datang kamu menyakitinya, aku dan Nadira tidak akan pernah memaafkanmu," bentak Chandra.
"Aku datang ke sini memang untuk hal itu. Kamu tidak perlu mengajariku tentang apa itu tanggung jawab!" Suara Nathan terdengar dingin, tetapi penuh dengan penekanan.
"Aku akan kembali lagi nanti malam untuk membujuk Wulan. Aku ingin membicarakan hal ini dengan ibuku." Nathan beranjak dari kursi lantas meninggalkan kafe tersebut.
***
"Aku sudah tidak memiliki harapan untuk masa depan, Bu." Wulan terlihat seperti mayat hidup malam itu.
Nadira berusaha membujuk Nadira untuk makan. Sudah tiga hari sejak kejadian nahas itu menimpa Wulan dan gadis itu masih belum mau makan. Kondisinya sangat kacau dan terlihat pucat.
"Lan, jika kamu terus begini, bagaimana bisa melanjutkan hidup. Pikirkan kedua orang tuamu yang ada di kampung, Lan.”
“Melanjutkan hidup untuk apa, Bu? Aku sudah nggak mau hidup lagi. Aku sudah menghancurkan harapan bapak sama mamak!” Wulan kini menatap Nadira dengan mata berkaca-kaca.
Perlahan air mata Wulan menetes membasahi pipi. Isak tangis keluar dari bibir gadis tersebut. Tangisan Wulan terdengar begitu menyayat hingga membuat hati Nadira ikut tercabik-cabik.
"Lebih baik aku sakit dan mati, Bu! Aku sudah berusaha keras untuk mengubah hidup bapak sama mamak! Tapi apa ini! Aku baru saja mau mengikuti kejar paket C, malah kemalangan menimpaku! Sepertinya aku ditakdirkan untuk menjadi manusia paling sengsara! Apa salahku, Bu? Sampai Tuhan memperlakukanku seburuk in!" Suara Wulan bergetar di antara isak tangis.
Nadira berusaha menenangkan Wulan, tetapi usahanya seakan sia-sia. Perempuan itu terus berontak dan mendorong Nadira yang berusaha memberikannya pelukan. Tiba-tiba Wulan menatap gunting yang tergeletak di atas meja dan langsung menyambarnya.
"Lebih baik aku mati!" ujar Wulan sambil mengangkat benda tajam itu.