“Max!” Teriakan itu membuat Kanaya terjaga dari tidur lelapnya. Ini pertama kalinya gadis itu terbangun lebih dulu dari Max. Kanaya mengusap matanya berulang kali sementara teriakan di luar semakin kecang. “Max, bangun ada yang nyariin,” kata Kanaya mencoba membangunkan Max. Tidak sulit membangunkan pria itu, Max segera membuka matanya lalu duduk seraya bersandar pada kepala ranjang. “Max, kamu di mana, Nak?” Teriakan itu terdengar semakin dekat. Max sadar bahwa ia sedang bersama Kanaya di satu kamar. Bisa bahaya kalau ibunya tahu Max dan Kanaya tidur di kasur yang sama. Dia tidak ingin ibunya salah paham. Walau mereka sebentar lagi akan menikah, tapi itu bukan alasan untuk tidur berdua. “Kamu harus sembunyi,” kata Max membuat Kanaya bingung. “Kenapa harus bersembunyi?” tanya Kanay

