Rasa hangat dan nyaman membuat Kanaya enggan membuka mata. Beberapa kali tubuhnya terguncang, tapi Kanaya tidak menyerah untuk tetap tidur pulas. Dengkuran halus yang keluar dari mulutnya menandakan betapa nyenyaknya tidur gadis itu. Max berkacak pinggang melihat Kanaya masih bergelung dalam selimut. Sudah lebih dari setengah jam ia meminta Kanaya untuk segera membuka mata. Namun, gadis itu mengabaikan ucapannya. Kanaya masih setia dengan selimut yang membungkus tubuhnya. “Kanaya, ayo bangun. Hari ini saya akan memperkenalkan kamu dengan mama,” kata Max membuat mata indah itu terbuka. Kanaya segera duduk menyibak selimutnya cepat-cepat. “Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku belum mandi dan ganti baju.” Kanaya mulai panik. Rasa kantuknya seketika hilang. Ia tidak ingin berpenampilan bur

