"Mbak Anita, kalau ada apa-apa bisa tanya saya," ujar Khansa, orang yang dipercaya sebagai tangan kanan Rahma. "Baik, makasih Mbak Khansa." Anita merasa nyaman berada di ruko yang disewa oleh ibunya. Orang-orang yang bekerja di sana juga ramah padanya. Selain itu, mereka terampil sekali dalam menyelesaikan pesanan jahitan. Rahma pandai memilih tenaga kerja. Anita kagum pada ibunya. Dia harus banyak belajar dari Rahma. Ponsel Anita berbunyi di saat melihat pekerjaan para pekerja. Dia menarik benda pipih itu dari tasnya, lalu membaca pesan yang membuatnya ternganga. "Astaga," desis Anita, menutup mulutnya. "Kenapa, Nit?" tanya Rahma, menangkap keganjilan sikap anaknya. "Eh, nggak apa-apa kok, Bu. Aku permisi sebentar ya, ke belakang?" pamit Anita. Meski merasa aneh, tapi Rahma

