bc

90 Hari Menaklukan Hati Sang Istri

book_age18+
21
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
age gap
friends to lovers
arranged marriage
badgirl
kickass heroine
heir/heiress
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
witty
city
office/work place
secrets
polygamy
addiction
office lady
like
intro-logo
Uraian

Pernikahan mereka dimulai tanpa cinta dan juga janji bahagia. Hanya ada satu kesepakatan absurd yang dilantunkan Bhumi Narendra, yaitu—90 hari menaklukan hati sang istri, Nayyala Barathawardana. Sejak awal, mereka memang tidak saling membenci. Tapi juga bukan sepasang adam-hawa yang bisa saling mencintai.

Track record Bhumi yang terbiasa menaklukan hati, tidak berlaku untuk sang istri. Alih-alih belajar mencintai, Nayyala justru tersangkut oleh masa lalu yang masih membekas dalam hati.

Jika cinta tak kunjung hadir hingga hari terakhir, siapa yang benar-benar harus pergi? Bhumi—atau perasaan yang selama ini tidak Nayyala sadari?

Kisah age gap romance ini disisipi unsur komedi. Don't be too serious!

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 - Perjanjian 90 Hari
“Kalau dalam waktu sembilan puluh hari Mas belum bisa naklukin hati kamu, Mas janji nggak akan ganggu hidup kamu lagi.” “Mas Bhumi kok bilang begitu?” Pria itu tercenung, teringat kata-kata sang perempuan tepat sebelum ia menyanggupi pernikahan ini. “Ya, tapi … aku nggak janji bisa buka hati buat Mas Bhumi.” Sedangkan perempuan bertubuh mungil itu tersentak kala mendapati suaminya datang sambil membawa kertas yang katanya perjanjian pernikahan. Nayyala paham kalau Bhumi melakukannya bukan tanpa alasan. Mereka memang tidak saling membenci, tapi juga jauh dari kata saling mencintai. Tepatnya, bagi Nayyala Barathawardana, putri satu-satunya Rama Barathawardana. Pemilik Semesta Resort yang ada di bawah naungan Barathaland Group—tidak pernah menganggap Bhumi sebagai pria yang bisa ia cintai. Hubungan mereka terlalu canggung untuk sebuah romansa apalagi pernikahan nyata. Bahkan, hubungan mereka lebih pantas disebut sebagai adik-kakak. Bagaimana tidak, Nayyala sudah lama mengenal pria itu—juga rekam jejaknya sebagai playboy cap kuda. Jadi, Nayyala tidak heran jika Bhumi mengajukan perjanjian absurd ini. Tapi apa katanya tadi? Nggak akan ganggu hidupnya lagi? Nayyala sempat dibuat bingung. Apa itu artinya mereka akan bercerai lalu menjadi asing? “Mas?” Nayyala membuyarkan lamunan Bhumi. “Eh, iya? Sampai mana tadi?” Bhumi mencengir agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan sang istri. “Mas bilang nggak akan ganggu hidup aku lagi, itu artinya … kita bakal cerai?” Atmosfer penthouse mewah itu seketika berubah mencekam. Setelah seminggu menikah, Bhumi mengajak Nayyala tinggal di penthouse yang selama ini ia tempati. Bhumi bahkan menolak rumah pemberian mertua alih-alih menutupi pernikahan yang sangat canggung ini. Perlu digarisbawahi, kalau Bhumi menikahi Nayyala hanya untuk menghormati keinginan Rama. Yups, bisa dibilang hanya untuk mempertahankan kerajaan bisnis. Tapi, lebih dari itu—juga karena kontribusi mulutnya sendiri yang suka asbun alias asal bunyi. “Paman … bagaimana kalau saya melamar Nayyala?” “Ide bagus itu, Bhumi! Paman tahu kemampuan kamu. Tapi kamu benar mau nikahi Nayyala?” Dan lebih aneh, Rama segampang itu menyetujui ke-asbunan-nya. Sempat sekali ia mendapat cacian dari sang sahabat—Sadewa, tepatnya ketika Bhumi mengatakan bahwa akan mempersunting Nayyala. “Lo ‘kan cuma jago kandang! Gue juga yakin lo nggak siap berkomitmen! Terus kenapa berani-beraninya ajak anak gadis orang nikah? Sepupu gue lagi!” Kalau dipikir-pikir, Bhumi memang tidak se-siap itu untuk berkomitmen. Terlebih setelah ia patah hati di masa putih abu-abu. “Tuh, ‘kan! Mas Bhumi, oi! Melamun terus ih!” Nayyala bersedekap. Bibir mengerucut. Dan dahi mengkerut. Heran sekali, pria yang suka banyak omong ini tiba-tiba jadi kosong melompong. “Hmmmmmm, kata ‘cerai’ itu terlalu berlebihan, Nay. Intinya, Mas bakal antar pulang kamu ke ayah secara baik-baik, kalau tiba waktunya.” Nayyala hanya bergeming. Tidak ada perasaan apapun atas ucapan itu. Biasanya, orang lain akan merasa tersakiti. Apalagi, ini diucapkan oleh seorang suami. Tapi, lain halnya dengan Nayyala yang tak terindahkan sama sekali. “Udah ah, Mas mau berangkat dulu.” Bhumi mengacak rambut Nayyala dengan senyum sumringahnya. Karena dengan begitu ia bisa menutupi perasaan yang entah mengapa jadi gegana. Dulu Bhumi tak pernah memikirkan soal cinta. Terlebih setelah hati itu dipatahkan oleh cinta pertamanya. Akan tetapi, Bhumi merasa ada sesuatu yang berbeda. Entah sejak kapan tepatnya—setiap melihat tingkah menggemaskan Nayyala membuat jantungnya selalu berdetak kencang. Apakah itu pertanda hatinya telah sembuh dari luka patahnya? Apa itu artinya ia jatuh cinta pada Nayyala? “Mas nggak sarapan dulu?” “Nanti siang aja Mas balik lagi, sekarang udah telat—ada rapat mendadak.” Nayyala hanya mengangguk. Sungguhan hatinya baik-baik saja sekalipun sang suami tidak memakan sarapan pagi yang ia buatkan. Sementara, Bhumi jelas gugup setelah mengatakan kalimat pertama tadi. Menaklukkan hati? Seorang Bhumi? Seperti dirinya sendiri meragukan itu terjadi. *** Bhumi benar-benar kembali di jam makan siang. Sarapan pagi yang dibuatkan Nayyala masih tersaji di meja bar—dengan selembar kertas berisi perjanjian pernikahan mereka yang sudah ditandatangani oleh istrinya. Ah! Perempuan impulsif itu memang tidak pernah berpikir panjang dalam mengambil keputusan. Kemungkinan besar, ia bahkan tidak membaca isi perjanjiannya. Setelah menghabiskan setengah hari berdiskusi di kantor ayah mertuanya, Rama—di Bogor. Kini, Bhumi dilanda lapar. Ia benar-benar rela tidak sarapan hanya untuk mencicipi masakan Nayyala—pertama kali dalam hidupnya setelah seminggu mereka menikah. Bhumi duduk di kursi bar. Siang itu tidak ada tanda-tanda keberadaan Nayyala. Ia tahu kalau jam segini istrinya sudah berkelana kemana saja. Maklum, Nayyala benar-benar princess of Barathawardana. Satu-satunya dari keluarga tersebut yang tidak turut andil dalam keberlangsungan hidup perusahaan. Pekerjaannya setelah lulus sarjana seni hanya seputar pilates, padel, shopping, atau merecoki keponakannya—Mahesa. Tapi, itu bukan sesuatu yang Bhumi permasalahkan. Ia memaklumi usia Nayyala yang masih terlalu muda untuk berumah tangga. Di tengah lamunan, Bhumi menggigit omelet buatan istri tercinta. Walaupun benih cinta itu baru ada seujung kuku saja. Namun, di gigitan pertama, Bhumi langsung tersedak. “Uhuk!” Wajah Bhumi memerah karena makanan itu tersangkut di tenggorokan. Ia yang semula percaya diri melahap omelet itu, justru terkejut dengan rasanya yang sangat tidak manusiawi. “Buset dah, rasa apaan nih?!” Omelet yang kadung tersangkut, tak sempat ia muntahkan. Alhasil, dengan amat terpaksa Bhumi menelan itu walau rasanya absurd. Bhumi menjauhkan piring itu. Tapi, tidak langsung membuang sisa makanan ke tong sampah yang ada disana. Bisa-bisa ia diamuk Nayyala kalau ketahuan. “Nggak lagi-lagi deh gue makan masakan bini sendiri.” Bhumi mendengus, membungkus sisa omelet itu untuk dibuang di tong sampah parkiran basement. Waktu sudah hampir jam satu siang—tapi Nayyala belum memberikan kabar. Sampai ada satu notifikasi yang datang. Ia pikir dari istrinya. Ternyata dari Sadewa. Sadewa: Man, bisa ke kantor sebentar nggak? Gue butuh bantuan lo. Lagi-lagi Bhumi mendengus. Rasanya ia ingin membelah diri seperti amoeba. Selain menjadi wakil Rama di Semesta Resort, tanggung jawab Bhumi masih tersangkut sebagai wakil Sadewa di SB-Art. Tapi ia cukup beruntung karena dengan kesibukannya, Bhumi tidak perlu terusik dengan pernikahan yang justru seperti sedang main rumah-rumahan ini. Langkah kaki Bhumi menapaki lantai marmer nan sunyi. Ia melangkah sambil membawa kantong kresek. Jangan tanya isinya apa. Tentu saja, omelet dengan rasa yang tidak manusiawi buatan sang istri. Daripada ia berakhir di rumah sakit, lebih baik ia buang diam-diam. Setidaknya dengan begitu ia bisa menjaga hati sang istri. *** Tiba di kantor Sadewa, wajah Bhumi tak seceria biasanya. Hal itu membuat para pegawai langsung bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan pria paling berisik itu? “Pagi, Pak Bhumi?” sapa Danny dengan ciri khasnya yang jenaka. Namun, sapaan itu tentu tidak mendapatkan balasan seperti biasanya. Bhumi terlihat lebih murung, entah mengapa. Padahal kalau dipikir-pikir, ia baru saja menikah. Dan tentu saja vibes pengantin baru sedang manis-manisnya, bukan? Tapi, lain hal kali ini dengan ekspresi wajah Bhumi yang tidak menunjukkan raut bahagia. Menuju ruang Sadewa, Bhumi tak sadar kalau Danny di belakangnya sedang mengejek. “Nggak dapat jatah apa semalam? Muka kusut banget kayak pakaian nggak digosok satu abad.” Bhumi terus saja melangkah dengan hati gundah gulana. Ah, sejak awal ia memang terlalu gegabah. Bisa-bisanya menawarkan diri dengan melamar Nayyala. Padahal, ia sendiri tak tahu bagaimana cara mencintai dengan benar. Maklum saja, benar kata Sadewa—Bhumi hanya jago kandang. Ia tidak benar-benar bisa meyakinkan seorang perempuan untuk membalas perasaannya. Ia hanya sering menggoda, tanpa benar-benar berani mengencani mereka. “Kenapa muka kusut begitu?” tanya Sadewa ketika Bhumi sudah duduk di hadapannya. “Laper,” jawabnya asal. Tapi, benar juga. Karena tadi Bhumi tidak jadi makan masakan Nayyala yang dzolim tersebut. “Ada makanan nggak?” sambat Bhumi, melupakan sejenak perasaan anehnya. Baru seminggu satu atap dengan Nayyala sudah membuat tubuhnya panas dingin seperti ini. “Tuh ada di pantry.” Secepat kilat Bhumi berlari ke arah pantry. Tepatnya, di sudut ruangan tersebut yang terpisah oleh dinding kaca. Sadewa menggeleng seraya menghela napas. Kalau sudah seperti ini, Bhumi pasti tidak bisa diajak diskusi. Kembali ke hadapan Sadewa, Bhumi membawa sekaleng soda dan toast. “Ada apa panggil gue?” tanya Bhumi dengan mulut penuh. Mata Sadewa mendelik. Ingin kesal tapi Bhumi sahabatnya sendiri. “Lo masih wakil gue, kalau lo lupa.” “Iye, tau. Ada apa?” “Sebelum bahas kerjaan. Kita bahas lo dulu.” Tatapan Sadewa mengamati sikap Bhumi yang terkesan cuek tapi jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Gue? Memangnya ada apa?” “Lo sama Nayyala gimana?” “Gimana apanya?” Bhumi mencoba mengalihkan topik perbincangan. “Ya, gimana … udah seminggu, ‘kan?” “Terus?” “Udah sejauh mana?” Sebenarnya Bhumi hanya pura-pura bodoh. Ia bukan tidak mengerti maksud perbincangan sahabatnya. Hanya saja, ia malas membahas itu. Apalagi teringat ide konyol soal perjanjian 90 hari yang ia ajukan. “Sejauh mata memandang.” Sadewa yang geram karena Bhumi tidak bisa diajak serius pun langsung melempar bolpoin dengan asal. “Eits, nggak kena!” Bhumi menjulurkan lidah kala bolpoin itu meleset tepat satu senti di telinga kanannya. Beruntung refleksnya cepat. “Gue serius!” seru Sadewa. “Gue apalagi.” Hanya gelengan kepala yang bisa Sadewa berikan. Biarlah Bhumi menghabiskan toast yang ada di mulutnya. Daripada keselek dan berakhir tinggal nama? Bhumi terus mengunyah, mengabaikan pandangan Sadewa yang sudah semakin curiga. Tak lama kemudian, suara dering ponselnya berbunyi. Sebuah nama tertera di layar—Nayyala. Bhumi buru-buru mengangkatnya. Baru selesai menggeser ikon hijau—suara pekikan di seberang membuat toast yang ada di mulutnya tersembur ke baju Sadewa. Byuuuurrr! “Sial, Bhumi!” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.0K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.5K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
3.7K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.6K
bc

After We Met

read
187.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook