Chapter 2 - Si Impulsif

1441 Kata
Bhumi langsung menuju tempat kejadian dimana sang istri tengah ditahan oleh security. Entah apa yang perempuan itu lakukan sampai-sampai berurusan dengan petugas keamanan di pusat perbelanjaan. Yang ia dengar kala di telepon, Nayyala berteriak meminta pertolongan. Bhumi sendiri tak tahu duduk perkara yang menyebabkan sang istri bermasalah. Tapi, melihat tindak tanduk Nayyala yang selalu bersikap impulsif ada kekhawatiran bahwa istrinya lah yang salah. Tiba di tempat tersebut, Bhumi melihat sang istri duduk di kursi dengan beberapa orang di dekatnya. Di sisi kanan Nayyala, ada seorang pria berkepala botak. Di hadapan yang terhalang meja pertemuan, ada pria berjas seperti manajer toko dan perempuan berpakaian sales. Satu lagi, pria berseragam satpam yang ada di belakang manajer toko. Mereka duduk, seolah tengah mencari solusi atas apa yang terjadi. “Ada apa ini?” tanya Bhumi. Mendengar suara sang suami, Nayyala langsung menoleh. Matanya berbinar seperti anak kucing yang berhasil menemukan induk. Senangnya dalam hati kala sang suami beserta kakak sepupu menghampiri dengan wajah panik. Sedangkan Bhumi masih dibuat bingung dengan apa yang terjadi. Di dalam ruang keamanan, raut wajah Nayyala memelas seperti tersangka yang baru saja mencuri celana dalam. “Ma—“ Belum genap Nayyala mengadu, pria botak disana langsung nyeletuk. “Anda Om-nya bocah ini?” Terlihat sekali ia sangat kesal. Bahkan, seolah tak terima dengan kesalahan yang ‘mungkin’ Nayyala perbuat. “What?” Bhumi mendelik. Ia hendak buka mulut. Namun, si pria botak itu kembali menyela. “Kalau punya ponakan tolong ajarin sopan santun, ya.” “Saya—“ “Bilangin jangan suka ikut campur urusan orang!” Sadewa yang ada disamping Bhumi hanya bisa menepuk pundak sang sahabat seraya mengucapkan belasungkawa atas ucapan yang terlontar. Sebab, orang itu menganggap Bhumi sebagai om dari istrinya sendiri? ‘Sial memangnya setua itu apa muka gue?’ Bhumi bermonolog, sedangkan Sadewa mengikik dalam hati. “Oke, harap tenang!” Alhasil, satpam disana menengahi perdebatan yang terjadi. Ia langsung memandang Bhumi yang mendekati sang istri. “Bapak ini Om-nya?” tanya seorang pria berjas, manajer toko. Lagi-lagi semua orang menganggapnya sebagai om dari sang istri. “Bukan, Pak! Dia suami saya!” Akhirnya, si impulsif itu menegaskan status mereka dari kesalahpahaman yang terjadi. “Nah, itu! Dia istri saya. Kenapa memangnya?” Semua orang disana—terkecuali perempuan berpakaian sales terperangah. Bahkan, pria botak itu bersikap skeptis. Seolah tak percaya. Pasalnya, perempuan di dekatnya itu masih tampak muda. Sementara pria yang mengaku sebagai suaminya terlihat lebih tua. Ya … walau tubuh atletisnya sangat menggoda. “Jadi gini, Pak … Mbak-nya ….” Manajer toko itu hendak menjelaskan duduk perkara yang terjadi diantara mereka, sampai satu waktu Nayyala menghampiri Bhumi, bergelayut sambil menunjuk pria botak disana dengan suara menggebu. “Jadi gini lho, Mas. Tadi, aku lagi belanja lingerie …” “Apa?” Bola mata Bhumi membola. Untuk apa Nayyala membeli lingerie? Sementara pernikahan mereka bukan sesuatu yang nyata? “Diem dulu, aku belum selesai ngomong!” pekik Nayyala yang tak suka ucapannya di potong. Bhumi akhirnya bungkam dan Sadewa hanya menggeleng di dekat mereka. Pasutri ini sungguh ajaib sekali! “Terus aku lihat, tua bangka ini—“ Nayyala menunjuk pria botak itu dengan mata tajam. “Heh! Jangan sembarangan asal tunjuk, ya! Nggak sopan! Kamu nggak tau siapa sa—“ “Pssst!” Bhumi mengulurkan tangan, membungkam bibir pria botak itu dengan satu telunjuk yang menempel disana. Lagi-lagi, Sadewa hanya menggeleng. Sungguh jatuh harga dirinya sebagai keluarga Barathawardana. “Jadi Mas, tua bangka ini nggak tau diri banget! Pas aku lagi pilih lingerie, dia berusaha grepe-grepe si Mbak itu!" ujar Nayyala menunjuk ke arah seorang perempuan yang tengah tertunduk dengan wajah ketakutan. "Padahal aku lihat si Mbaknya udah risih. Tapi dia terus pegang-pegang dengan dalih mau mastiin ukuran,” sambung Nayyala dengan semangat menyala-nyala. Sebagai perempuan yang—women support women—Nayyala tentu tidak terima spesiesnya dilecehkan. Sebab geram melihat tangan dan mata yang jelalatan itu—Nayyala dengan berani memukul kepala botaknya pakai clutch louis vuitton yang baru dibeli beberapa hari lalu. Alhasil, keributan tak bisa dihindari dan berakhirlah mereka disini. Tatapan Nayyala masih tertuju pada pria botak itu. Sementara suaranya sudah menggema di seluruh penjuru ruangan. Ia menolak berhenti menegakkan keadilan. “Ya, kalau mau beli buat istrinya, kenapa nggak diajak sekalian aja tuh istri?! Kan kasihan Mbaknya—dia nggak punya power buat melawan si tua bangka ini! Aku yakin, dia ngancem—ya, 'kan, Mbak?” Nayyala beralih ke perempuan itu yang masih takut-takut. “Mulut kamu!” Pria botak itu hendak berdiri dan menyentil bibir Nayyala. Namun, langsung ditahan satpam. Sedangkan Nayyala bersembunyi di balik ketiak sang suami. Dalam hati Bhumi pun mencaci. ‘Duh bini gue. Nggak ada takut-takutnya amat nyari masalah sama orang.’ Tak menemui titik tengah, Sadewa pun maju. Sikapnya lebih tenang daripada mereka yang sedang beradu mulut. “Perkenalkan, Pak. Saya Sadewa Barathawardhana. Sepupu perempuan ini.” Rahang pria botak itu mengendur setelah Sadewa yang maju. Suasana pun terasa lebih kondusif. Bhumi masih dipegang Nayyala sebagai tameng dirinya. “Barathawardana?” ulang pria botak itu. “Kayak nggak asing." Cukup lama pria itu berpikir, sampai akhirnya ia kembali nyeletuk. "Pemilik Barathaland Group?” Sial. Pria botak itu sadar dengan identitas mereka. Jika sudah seperti ini biasanya …. “Ah! Menarik sekali. Bagaimana kalau seluruh publik tahu—Barathaland Group memelihara keturunan yang nggak beradab seperti dia, ya?” Bhumi dan Sadewa saling memandang, seolah bisa membaca situasinya. Sementara Nayyala tidak terima dengan ucapan pria disana. “Heh! Inget, ya! Bapak juga nggak bermoral karena sudah—” “Nayyala,” bisik Bhumi seraya membungkam bibir sang istri dengan telapak tangannya. “Hmmmmp …. Hmmmmp!” “Jadi, mau Bapak bagaimana?” tawar Sadewa. *** Sepanjang perjalanan Nayyala hanya bisa menunduk di kursi penumpang belakang. Sadewa terus menasehatinya sampai kuping panas. Sungguhan! “Kalau sampai Paman tahu kelakuan kamu bisa menyebabkan kerugian perusahaan—” “Mas—” “Man,” gumam Bhumi sambil menepuk lengan Sadewa yang tengah duduk di kursi kopilot. Terdengar suara hela napas. Perempuan yang tadi menyala-nyala dengan suara toaknya, kini diam seribu bahasa. Ia tak berani mengangkat kepala saat mengingat si pria botak itu meminta uang damai yang fantastis. Nayyala tak bisa berbuat apa-apa karena pria itu mengancam akan merusak reputasi keluarga mereka. Ah, memikirkannya saja sudah sakit kepala. Ia yang tidak bisa bekerja membantu perusahaan—justru hampir menghancurkannya. “Biar gue yang ngomong nanti,” bisik Bhumi, tak ingin Sadewa terus memojokkan istrinya. Menit-menit berlalu, Bhumi kembali ke penthouse setelah mengantar sahabatnya ke kantor. Mereka terpaksa tidak jadi mendiskusikan proyek baru yang katanya tembus ratusan miliar tersebut gara-gara sikap impulsif Nayyala. “Harusnya tadi Mas Bhumi hajar si botak itu! Ih aku kesel banget sumpah! Bisa-bisanya dia buat m***m di depan umum! Siang bolong pula!” Nayyala menyentakkan kakinya ketika tiba di dalam penthouse tersebut. Rasa kesalnya tak bisa hilang sampai sekarang. “Nayyala … tenang, ya.” Bhumi berbelok ke pantry mengambil air dingin lalu menuang ke gelas. Ia menghampiri Nayyala kembali yang sudah duduk bersedekap tangan di sofa. “Minum dulu,” pinta Bhumi. Rasanya Bhumi ingin tertawa. Ketimbang jadi suami—bukankah ia terlihat lebih cocok jadi nanny? “Aku kalau ketemu cowok setipe itu lagi … aku pastiin tangannya copot!” seru Nayyala setelah meneguk air dingin tersebut. Nyatanya, air dingin itu tidak bisa menenangkan hatinya yang masih panas. “Iya, Mas tahu.” Nayyala menatap Bhumi sedetik kemudian. Tatapannya nyalang seperti tengah membidik. “Mas Bhumi nggak gitu kalau lihat cewek, ‘kan?” Glek. Bhumi tersedak air liurnya sendiri ketika melihat Nayyala seolah mengintimidasi. Mentang-mentang ia terkenal sebagai playboy cap kuda, Nayyala seolah menuduhnya. “Ya … ya … nggak lah! Memang Mas Bhumi cowok apaan?” Bhumi menyugar rambut demi menutupi rasa gugup. Padahal sebelum menikah, ia pria yang paling tidak bisa melihat perempuan seksi. Bawaannya ingin bersiul, menyanyi, dan menari bersama di atas ranjang. Syukurnya ia pria dengan iman yang kuat akan godaan. Walau sering menaklukan banyak hati perempuan, ia tidak pernah menidurinya hanya karena birahi. Daripada menghancurkan diri, lebih baik bermain sendiri. Lho? “Oh, ya. Tadi aku beli lingerie. Mas mau lihat?” Bhumi menelan ludah. Menganggap Nayyala sedang bercanda. “Sebentar, ya. Aku pakai dulu.” Nayyala meluncur ke kamar sebelum Bhumi sempat menghentikannya. Tiba-tiba saja air liurnya berproduksi lebih banyak. Sialan! Belum apa-apa tubuhnya sudah menegang. “Heh, tong! Sopan sedikit, ya, lo!” Bhumi menatap ke bagian bawahnya. Sungguhan, bisa-bisa ia gila satu atap dengan Nayyala. Detik berikutnya, Nayyala keluar dengan sehelai pakaian yang bisa disebut kurang bahan dan transparan. “Tada! Mas Bhumi!” seru Nayyala yang langsung disambut dengan mata membulat pria disana. Glek. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN