Sial.
Bhumi tak bisa berhenti mengingat betapa indah lekukan tubuh Nayyala hanya dengan mengenakan sehelai lingerie. Nyatanya, ia tak kalah jelalatan dengan si pria botak yang ditemui kemarin. Bedanya, Bhumi masih sopan karena memandang istri sendiri. Alhasil, berakhirlah ia disini. Di kamar mandi pagi-pagi sekali.
Jangan tanya selelap apa tidurnya. Ia bahkan tidak bisa memejamkan mata dengan benar. Sekalipun terpejam, pikirannya selalu berkelana kemana-mana. Ah, perempuan itu. Bisa sekali membuatnya gelisah.
Pagi itu, Bhumi bangun sebelum ayam berkokok. Eh tapi, kokokan ayam mana terdengar dari gedung tinggi itu, ya? Sudahlah. Bhumi bangun pagi sekali karena ternyata ia mimpi basah. Hal itu tentu saja dipicu dengan sikap polos Nayyala yang memperlihatkan diri dengan lingerie. Entah apa yang perempuan itu pikirkan. Berpakaian setengah telanjang di hadapan pria yang memiliki nafsu birahi. Bhumi memandang wajahnya yang memerah di depan cermin wastafel kamar mandi. Ia teringat wajah polos perempuan itu kemarin.
“Tada! Mas Bhumi!” seru Nayyala.
Bhumi yang sudah mengencang, semakin menegang. Tatapannya naik turun seiring dengan air liur yang tertelan di tenggorokan. Sungguh kepalanya pening sekali saat ini.
“Bagaimana? Bagus nggak lingerie aku?”
Glek.
Bhumi menggeleng hingga membuat bibir Nayyala mengerucut—menganggap gelengan itu sebagai sebuah ketidaksetujuan. Padahal, Bhumi sedang berusaha menghilangkan pikiran joroknya.
‘Jirr! Celana gue ketat banget. Tong! Gue bilang juga yang sopan! Ah elah!’
Bhumi membantin. Sedangkan Nayyala memberengut hebat.
“Ih, Mas Bhumi! Lingerie yang aku pakai jelek banget emang, ya?”
“Eh? Bu-bukan … i-ituuu ….”
Lidah Bhumi kelu. Ia tak bisa berkata-kata, sebab seluruh tubuhnya menegang.
Jika kalian pikir Bhumi tak punya hawa nafsu untuk perempuan kecil yang tengah menantang di kusen pintu—tentu saja salah. Ayolah, Bhumi pria normal. Telah melajang sejak jaman putih abu-abu. Ya, kurang lebih setara empat belas tahun. Tentu saja bukan waktu yang sebentar. Sekalipun ia kerap kali menggoda perempuan, itu hanya sekedar basa-basi saja. Sejujurnya, ia tidak minat terhadap mereka. Tapi sekarang, ia kalah karena dihadapkan dengan perempuan yang sudah sah sebagai istri dengan pakaian yang minim pula! Tidak salah kalau dirinya jadi birahi. Lihat sekarang, darahnya memanas, tubuh pun kian gemetar, dan bagian dalam dirinya terasa mengeras. Ah, sial … sial! Bhumi mencaci dirinya sendiri.
Ia buru-buru melepas jas—melangkah gugup ke arah sang perempuan.
“AC dingin, Nay. Nanti kamu masuk angin.”
Bhumi menyampirkan jas itu dari depan. Lalu, membalikkan tubuh Nayyala untuk ia paksa masuk ke kamar. Dan lagi-lagi sial. Melihat dari belakang, lekukan tubuh itu semakin menggodanya.
‘Ah, nikmat mana lagi yang kau dustaskan Bhumi!’
Monolog Bhumi.
“Mas ih, kenapa sih?”
Dengan polos Nayyala menanyakan sikap sang suami. Sementara Bhumi, langsung menutup pintu kamar tanpa perlu menjawab lagi.
Bhumi menghela napas. Lamunannya buyar ketika sesuatu dalam dirinya berkedut. Ia benar-benar bisa gila jika harus menahan diri. Sebagai pria dewasa, tentu saja ia memiliki keinginan. Apalagi sudah beristri. Dan tanpa disadari tangannya mulai bergerilya disana. Mengusap sambil memainkannya.
***
Nayyala terbangun di kamar. Sejak semalam sikap Bhumi sangat aneh. Pria itu selalu menghindari kontak mata. Bahkan, Bhumi cenderung menutup diri darinya. Salah toel sedikit, tubuh Bhumi langsung gemetar.
“Gue buat salah apa, ya?”
Nayyala yang tengah menggosok gigi menatap pantulan dirinya di cermin. Oh, ya. Meski tinggal bersama, Bhumi dan Nayyala memutuskan untuk tidak tidur satu kamar. Selain pernikahannya yang canggung. Nayyala juga belum berani satu ranjang dengan seorang pria. Sedangkan, Bhumi menghormati privasi sang istri. Ia tak ingin memaksa jika Nayyala memang belum siap tidur di ranjang yang sama.
Selesai bebersih dan mandi pagi, Nayyala keluar kamar. Tapi, heran sekali karena tidak ada tanda-tanda keberadaan sang suami. Hari ini, ia berniat untuk mengunjungi Rinjani. Ya, seperti yang sudah dibilang. Nayyala itu pengacara—alias pengangguran banyak acara. Baik Rama maupun Bhumi pun tak menuntut dirinya harus bekerja. Jadi, ia benar-benar hidup hanya sebagai istri rumah tangga.
“Mas Bhumi!” seru Nayyala, memenuhi seluruh penjuru ruang. Ia memindai penthouse yang luas hanya dengan sekali pandangan. Tak ada tanda-tanda pria itu disana. Nayyala pun lantas menghampiri kamar yang ada di sebelah kamarnya.
“Mas Bhumi, udah bangun belum?”
Lagi-lagi tak ada sahutan. Nayyala mengetuk pun tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan membuka kamar itu tanpa permisi. Dan ternyata tidak dikunci. Titik pandangnya langsung terkagum kala mendapati kamar yang begitu rapi. Itu pertama kali Nayyala memasuki ruang pribadi sang suami. Pasalnya, seminggu menikah mereka tak pernah mencampuri urusan masing-masing. Ya, ketimbang jadi suami istri, mereka justru terlihat seperti orang asing yang tinggal bersama.
“Mas! Mas Bhumi di dalam?”
Nayyala mengitari pandangannya. Tak ada tanda-tanda pria itu disana. Ia hanya melihat ranjang yang terlihat berantakan. Bedcover putih itu menggulung membuat Nayyala menggelengkan kepala.
“Semua serba rapi, tapi kenapa dia nggak langsung beresin kasur, sih?” gumam Nayyala, lebih kepada dirinya sendiri.
Mengambil inisiatif, Nayyala mendekat ke sisi ranjang. Berusaha memainkan peran sebagai istri yang baik. Ia menarik bedcover itu—untuk dirapikan. Namun, ia mendelik ketika melihat ada lingkaran yang tampak seperti ompol.
“Dih, Mas Bhumi ngompol? Jorok banget sih!”
Nayyala pun mengurungkan niat baiknya. Ia tidak sanggup jika harus berurusan dengan sesuatu yang jorok. Alhasil, ia menjauh lalu menelusuri kembali kamar utama yang luas tersebut. Sampai satu ketika, ia mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi. Langkahnya buru-buru mendekat. Rasa penasaran semakin pekat.
Sementara di dalam kamar mandi. Bhumi memandang pantulan dirinya yang sudah memanas. Ah, sungguh! Pikiran liarnya tak bisa diam. Apalagi mimpi yang membuatnya jadi panas dingin. Pagi itu, ia sudah hampir setengah jam di kamar mandi. Tapi, rasa asing itu tak kunjung tuntas. Akhirnya, Bhumi melecehkan dirinya sendiri. Dengan bermodalkan foto di ponsel, yang ia letakkan di atas wastafel. Serta ingatan tentang lekuk tubuh sang perempuan kala mengenakan baju haram—disinilah Bhumi, tengah mencari kesenangan untuk dirinya sendiri.
Tanpa sehelai benang, tubuhnya sudah memanas. Bahkan, air keringat mengucur deras. Otot-ototnya pun mengeras.
“Ah, Nay! Kamu berhasil buat saya gila,” bisiknya—menggema. Tapi, seharusnya ia tak khawatir karena perempuan itu tak akan bisa mendengar. Selain kamar mereka terpisah. Kamar itu pun dirancang kedap suara.
Bhumi terpejam sambil menyebutkan nama perempuan yang berhasil merebut kewarasannya. Meski ia sesekali melakukan hal gila itu sebagai seorang pria. Akan tetapi, tak ada yang lebih gila daripada membayangkan istri sendiri. Padahal, jika dipikirkan kembali—hubungan mereka sudah sah sebagai suami istri. Seharusnya hal yang wajar jika Bhumi meminta haknya sebagai suami? Hanya saja, Bhumi cukup tahu diri. Pernikahan mereka terlalu cepat. Disamping usia sang istri yang terpaut jauh, Nayyala pun hanya menganggap dirinya sama seperti Nakula—seorang kakak yang menjaga adik kecilnya. Lebih dari itu, Bhumi tahu bahwa Nayyala belum selesai dengan masa lalunya. Itu mengapa, ia mengajukan perjanjian untuk menaklukan hati istrinya dalam kurun waktu 90 hari.
“Mas Bhumi!”
Suara itu samar-samar terdengar, membuyarkan lamunan Bhumi tentang fantasi gilanya.
“Shiit!”
Bhumi mengumpat. Waktunya sangat tidak tepat. Ia mengutuk dalam hati.
“Mas Bhumi di dalam?”
“Jangan, Nay. Nggak sekarang, please!”
Bhumi meracau pelan sambil terus memainkan dirinya dengan cepat. Sial. Ia tidak bisa menahan. Tapi, suara istri kecilnya terus memecah konsentrasi. Seolah, itu berhasil menjadi pemicu atas gairahnya yang membara.
“Mas Bhumi di dalam, ya? Lagi apa?”
Kali ini dibersamai ketukan pintu. Bhumi menggeleng. Bibirnya hendak menjawab, tapi yang keluar justru desahan.
“Sssshhhh … no … no … no ….”
“Mas! Mas Bhumi! Kenapa?”
Sedangkan diluar sana Nayyala hanya mendengar sepenggal kata ‘no’ yang membuat dirinya semakin khawatir.
“Mas aku masuk, ya!”
“Ah … no … sssshhhh …!”
Sial!
Bhumi mencaci maki dirinya sendiri. Tidak bisa. Tidak boleh. Tidak sekarang. Bhumi semakin terdesak keadaan. Ketika tubuhnya semakin menegang, deru nafas mulai tak beraturan—suara kenop pintu justru bergeser pelan.
“Ah … no … jangan masuk, Nay!” seru Bhumi dengan napas tersengal-sengal.
Namun, Nayyala tak mendengar dengan jelas. Ia hanya mendengar suara aneh yang membuatnya semakin penasaran.
Bodohnya Bhumi, tidak mengunci pintu kamar mandi. Dan ketika Nayyala berhasil menekan kenop tersebut—pintu kamar mandi pun terbuka sepenuhnya.
Waktu sempat terasa berhenti. Ketika tatapan Nayyala beradu pandang dengan mata Bhumi yang berkabut.
Satu detik … dua detik … tiga detik …. Sebelum akhirnya suara pekikan meluncur.
“AAAARRRGGGHHHH! MAS BHUMI LAGI NGAPAIN?!”
***