Rossa menghela nafas. Padahal masih pagi. Dia menutup pintu setelah menandatangani bukti penerimaan paket. Dan lihat, kamarnya sudah hampir penuh dengan kotak kiriman Tristan.
“Kali ini apa lagi?”
Tas Dior yang baru saja rilis. Rossa menarik nafas dalam, mengeluarkan tas harga ratusan juta itu dan menatap catatan di dalam kotak. Isinya lagi-lagi sama. Permintaan maaf Tristan. Padahal rasa kesalnya sudah hilang, tapi karena setiap hari di kirimi hadiah mulu, Rossa jadi kesal lagi.
Dia menatap pesan WA yang baru saja masuk. Kebetulan Tristan masih dinas di luar kota, dan itu memberikan kebebasan untuknya. Rossa mengabaikan pesan itu dan segera mengenakan pakaian trainingnya. Hari minggu seperti ini enaknya jogging, apalagi dia sudah cukup lama tidak olahraga karena sibuk mengejar urusan duniawi.
Tas itu Rossa masukkan kembali ke dalam kotak. Dia tidak pernah menggunakan hadiah itu sama-sekali. Bukannya tidak suka, jangan ditanya. Itu barang branded semua, tapi Rossa sadar diri. Dia tidak selevel dengan merk itu. Lebih baik harga yang 50 ribuan di toko online, pas lagi flash sale apalagi, asal dia sendiri yang beli.
Masih 1 putaran keliling taman, nafas Ros sudah ngos-ngosan. Benar-benar jompo.
“Eh, Ros?”
Suara itu. Rossa menoleh dan mendapati Zaman dengan pakaian olahraga juga.
“Benar ternyata. Aku sudah melihatmu tadi, tapi takut salah orang.” Seru Zaman tersenyum.
“Kau juga sering olahraga di sini?”
“Ya, hampir setiap pagi. Minum dulu, Ros. Wajahmu merah sekali.”
“Benarkah?” Rossa menyentuh wajahnya yang memang panas, dan tersenyum malu-malu. “Aku tidak sering olahraga. Lebih suka rebahan soalnya.”
“Dasar. Mau lari satu putaran lagi?”
“Tapi…”
“Ayo, dipaksa saja.”
Akhirnya Rossa ikut. Nafasnya kembali ngos-ngosan, lututnya sudah lemas. Inilah efek jangka panjang dari rebahan. Semua otot-ototnya jadi tidak tahan dan tidak lagi kebal seperti dulu. Rosa menarik nafas panjang saat mereka sudah berhenti dan memilih duduk.
Rossa tidak peduli Zaman sudah menghilang entah kemana. Dia butuh duduk, jika tidak, kakinya akan melepuh. Tubuhnya panas semua, dan keringatan.
“Ros, ini diminum dulu.”
“Eh?”
“Tadi saya beli dari warung depan, sepertinya kamu udah gak kuat.”
“Makasih, Tuan Zaman.”
“Jangan panggil begitu.” Zaman tersenyum dan duduk di seberang kursi. Dia tidak ingin menimbulkan fitnah, jadi memilih duduk berjauhan.
Sedangkan Rosa yang melihat itu langsung diam, dan menatap Zaman yang duduknya jauh. Refleks Ros mencium ketek, tapi gak bau-bau banget kok. Masih dalam tahap wajar setelah selesai olahraga. Gak bau jigong banget.
“Maaf, saya tidak ingin membuat fitnah, Ros. Jadi lebih baik duduk berjauhan saja.”
Mulut Rossa terbuka sedikit. Kan! Inilah yang dia kesal dari ulah Tristan.
“Sebenarnya, gue dan Tristan itu tidak ada hubungan apa-apa, Zaman. Lo pasti berpikir dia pacar gue kan?”
“Pacar?” Zaman mengerutkan kening, “saya pikir suami kamu malah.”
Gleg–Rossa tersedak minumannya sendiri.
“Eh, kamu gak papa?”
“Gue aman. Wait, lo mikir dia suami gue?” Rosa bertanya serius, dan anggukan Zaman membuatnya menghela nafas. “Maaf, tapi gue masih single.”
“Tapi kok….”
“Itu adalah apartemen untuk sewa dua orang. Sebelumnya gue gak tau siapa yang udah nyewa duluan, dan karena keadaan kepepet, saya terima aja. Trus pas tau dia yang nyewa, gue awalnya nolak dan gak terima. Tapi udah terlanjur bayar, dan fyi, kalo gue keluar juga uangnya cuman dibalikin ¼ doang. Rugi dong gue.”
Zaman masih diam. Mencerna.
“Dia emangnya siapa?”
Nah ini dia. Ros tidak tahu harus menjawab apa. Kalo di bilang atasan, pasti semua orang bakal curiga dan tidak akan percaya orang selevel Tristan ngekontrak di satu apartemen yang sama sepertinya.
“Dia teman sekantor gue. Aslinya kere banget, tapi kebanyakan gaya. Trus dia juga udah neken kontrak, dan karna gue gak tega, ya udah lah. Nasi sudah jadi bubur. Walau kadang tingkahnya emang kayak yang kamu lihat kemarin.” Rossa berdoa agar omongan tidak ada yang mendengar selain Zaman. Kere dari mana? Orang Tristan beli tas Dior yang harganya ratusan juta aja gak pake mikir.
Zaman tersenyum, menatap lama Rossa dan mengangguk.
“Kalo kamu butuh bantuan, bisa ngetuk pintu apartemen saya kok. Tidak usah segan-segan.”
“Ngomong-ngomong, manggil lo-gue aja.” Rosa terkekeh saat Zaman sudah tidak duduk sejauh tadi lagi, “gue gak terbiasa manggil saya-kamu. Rasanya aneh aja.”
“Aslinya, saya bukan orang Jakarta. Tapi ngerantau.”
“Dari?”
“Malang. Jadi saya gak terbiasa manggil lo-gue, tapi bakal gue biasain. Orang ibu kota memang seleranya beda.”
Tawa Ros pecah. Dia benar-benar merasa Zaman itu lucu. Tidak hanya tingkah, namanya saja terdengar lucu. Mereka menghabiskan waktu hingga akhirnya Zaman memutuskan untuk lanjut dan Rossa kembali ke apartemen. Dan tadi juga sempat saling bertukar nomor. Rossa ada janji juga bertemu dengan ponakannya.
Ros sudah tiba di apartemen. Dan hendak menuju kamarnya.
“ARGHHH…SETAN, ANJING.”
Rossa berteriak saat ada yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Brugh, sosok itu jatuh karena kena pukulan Rosa. Segera Rosa berlari dan mengambil sapu.
“Hak, dasar berengsek. Loh…” Rossa terdiam menatap sosok yang meringis di bawah, “Tristan?”
Wajah Tristan memerah sambil memegang asetnya yang baru saja kena tendangan maut. Itu benar-benar sakit.
“Arghh…telor gue pecah, Ros.”
“Telor?” Rosa diam sejenak dan menatap ke arah yang di maksud. Wajahnya lagi-lagi memerah.
“AAAAA…Ros, AAAA TOLONG.” Tristan berteriak keras saat Rosa malah gencar menendang asetnya itu lagi. Buru-buru dia bangkit dan menahan tangan Rosa. Wajahnya sudah keringat dingin. Rosa benar-benar sangat menyeramkan. “Lo gila?”
“Lo yang gila main peluk-peluk sembarangan.”
“Tapi gak harus telor gue juga kan. Kalo pecah, kita gak bisa punya keturunan nanti.”
“Gila lo.”
“Udah, Ros. Udah ya, gue minta maaf.”
Akhirnya Rossa luluh juga. Dia menatap Tristan yang wajahnya masih memerah. Apa sesakit itu ya? batinnya.
“Lo dari mana kok keringetan gitu?”
“Olahraga. Lo bisa gak sih jadi normal dikit, Tris? Kalo datang ya langsung saja masuk noh ke kamar lo, tidur, rebahan, scroll sosmed. Bukannya malah ngumpet di balik pintu trus meluk orang sembarangan. Untung ‘itu’ lo doang yang kena, kalo gue bawa yang tajam dan nusuk. Kan bisa gawat.”
Ngeri juga nih cewek. Batin Tristan.
“Gue haus.”
Rossa yang udah selesai mandi dan berpakaian rapi berhenti dan menatap Tristan yang masih di ruang tamu sejak tadi.
“Haus tinggal ambil, kenapa malah bilang gue?”
“Ya gue mau dibuatin.”
“Dih. Enak aja, emang gue pembantu lo?” walau menolak, Rossa tetap melangkah menuju kulkas. Kebetulan dia baru membuat lemonade semalam. “Nih, paduka raja.”
“Gitu dong, paduka Ratu.”
Keduanya duduk berhadapan. Awkward sih, tapi ya gimana, Ros butuh pengakuan atas minuman yang dia buat.
“Enak banget, lo buat sendiri?”
“Iya dong, tadi malam gue buat.”
“Lain kali masak juga dong.”
“Dikasih jantung malah minta tai lo ya.”
“Kenapa sih mulut lo kasar banget? Butuh diajarin lagi?” Melihat Rossa yang refleks menutup bibirnya, membuat Tristan terkekeh. “Gimana, lo suka ga hadiah gue? Kita udah damai kan. Sorry soal kemarin, tapi lo itu jangan gatel banget dong sama cowok lain.”
“Tris, gue mau ketemu sama ponakan gue. Jangan buat gue badmood ya.”
“Wait, dimana?”
“Bukan urusan lo.”
“Ini urusan gue.”
“Gak.”
“Iya.”
Tristan diam sejenak. “Gue anterin.”
“Gak usah, lo diam aja napa? Istirahat gitu.”
“Ros.” Tristan diam lagi. Sejujurnya suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia bahkan sengaja pulang ke apartemen lebih cepat agar bisa melihat wajah Rossa yang sudah beberapa hari tidak membalas pesannya. “Lo sebenci itu ya sama gue?”