“Gue butuh duit.”
“Berapa?”
“200 juta.”
“Buat apa lagi emang?” Tristan bertanya datar.
“Buat modal, emang buat apa lagi?”
“Ntar di transfer sama Jake.”
“Okey. Jangan lewat jam 3 ya.”
Rossa menatap meja Jake yang kosong. Dia harus laporan juga pada Tristan. Mumpung teman sekantornya lagi pada makan siang, dia lekas bergegas. Sedikit ragu untuk mengetuk. Tapi 5 centi sebelum tangannya mengetuk, pintu itu sudah terbuka dari dalam.
Otomatis Rossa mundur memberi jalan. Seorang wanita yang usianya berkisar 30-an jika dia tidak salah, menatapnya beberapa menit. Lalu tersenyum sebentar dan pergi begitu saja. Aura dari dalam ruangan sedikit tidak bersahabat. Rossa hendak melangkah masuk, namun berhenti sejenak karena Jake juga hendak keluar.
“Ada apa, Ros?”
“Ehh, gue mau laporan. Pak Tristan ada di dalam?”
Mumpung sosok itu sedang di kamar mandi, Jake menarik tangan Ros keluar dan menutup pintu. Kasihan Ros jika harus menjadi pelampiasan nanti.
“Loh, kenapa?”
“Nanti aja, lo lihat kan tadi ada emak-emak baru keluar?”
“Emak-emak?”
“Iya, janda kembang maksudnya.” Jake nyengir.
Ros mengangguk.
“Dia itu buat suasana hati pak Bos keruh, daripada lo kena amukannya. Mending tunda aja, biar gue yang nanti laporan sama dia. Ini doang kan?” Jake mengambil berkas itu, dan mengecek beberapa halaman. “Okay good, kerja lo emang selalu bagus. Lo gak makan siang?”
“Oh ya, kalo gitu gue cabut duluan.”
“Mau cabut kemana?”
Jake dan Rossa mendadak menatap ke belakang. Tristan sedang berdiri di belakang mereka dengan suasana wajah yang begitu horor. Rossa berdiri kaku, menatap Jake yang sudah kabur dulu. Belum juga Rosa berhasil kabur, tubuhnya sudah ditarik masuk ke dalam ruangan.
Wajah Ros memerah, dan panik. Takut jika ada pegawai lain yang melihatnya. Bisa jadi hidupnya sulit nanti.
“Bos, saya…”
Rossa tersentak saat Tristan bergerak cepat dan menciumnya dalam. Tubuhnya bertumpu ke arah tembok.
“Bos…sialan, ini pelecehan bos, nanti saya bisa lapor ke…”
Alih-alih melepaskan, Tristan justru menarik Rossa ke dalam pelukannya, dan berkata, “Aku kangen.”
Jika saja Tristan itu adalah laki-laki normal, atau pacarnya. Ros akan dimabuk senang mendengar kata-kata itu. Namun dia justru merasa risih, dan memilih mendorong Tristan. Rossa merasa ada yang berbeda dari Tristan. Sorot mata lelaki itu tidak seperti biasa. Seolah tatapan jahil yang biasa ditunjukkan hilang begitu saja.
“Lo capek?”
“Hmmm…mau tidur bentar. Gue udah begadang semalaman.”
Rosa diam melihat Tristan yang sudah berjalan ke arah sofa dan rebahan. Dia bingung juga sudah begini. Dan asumsi Rosa hanya tertuju pada wanita itu. Entah apa hubungannya dengan Tristan, yang pasti itu ada sesuatu yang tidak beres.
“Lo gak makan? Perasaan dari pagi ga keluar cari makan.”
“Ternyata lo perhatian juga, gimana kalo gue makan lo aja?”
“Aneh. Kanibal emang lo?”
“Bukan makan daging, tapi itu…” Tristan menaik turunkan alisnya, menatap Rossa lekat.
Refleks Rossa ikut menatap ke arah pandang Tristan. Sialan. Lelaki itu memang tidak ada benarnya. Otaknya sudah miring. Kedua tangan Rossa membentuk tanda silang di depan dadanya. Melindungi asetnya dari tatapan petaka itu.
“Bisa gak sih sehari aja otak lo normal?”
“Otak gue normal sebagai lelaki, Ros. Bedanya, gue ini berterus terang, tidak seperti lelaki lain yang membayangkan tapi sok-sok polos di luar. Kau pasti suka lelaki jujur kan? Jadi jelas aku sudah masuk ke dalam daftarmu.”
Rossa melotot, tetapi Tristan hanya tersenyum dan menutupi matanya dengan tangannya sendiri. Jelas sekali bahwa Tristan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Merasa penasaran, akhirnya Rossa memutuskan untuk mendekat. Tetap menjaga jarak juga, dia tidak mau terulang hal yang sama untuk kedua kalinya.
“Oh ya, tadi gue ketemu sama wanita cantik. Kalo gak dia mengenakan blouse biru, dan rambutnya di gerai. Dia baru keluar dari ruangan lo, dia siapa?”
Helaan nafas terdengar.
“Dia bukan siapa-siapa. Tenang aja, gak akan ada yang bisa gantiin lo kok di hati gue. Apa jangan-jangan kamu cemburu? Jangan cemburu, aku tahu aku ini tampan. Tapi hatiku tetap untukmu.”
“Siapa yang cemburu ya, dasar menyebalkan. Gue mau keluar dulu, dan lain kali, tolong jangan mencium saya tanpa izin.”
“Ros…” Tristan menghentikan langkah Rossa. “Tenang aja, you’re the only one. Gak usah dipikirin.”
“Lepasin, gue gak peduli juga.”
Begitu keluar ruangan, Rosa lekas menuju ke kantin untuk mengisi perutnya. Walau dia masih terpikirkan. Jika memang wanita itu bukan siapa-siapnya Tristan. Kenapa wajah lelaki itu terlihat aneh? Begitu terus hingga Rosa duduk di meja makan. Dia sedang sibuk memikirkan Tristan, tanpa menyadari dia ingin mengenal lelaki itu semakin dalam.
Bunyi ponselnya, dan wajah ponakannya yang lucu membuyarkan perhatian Rosa. Dia tersenyum begitu melihat wajah yang sangat dekat dengan layar. Sampai-sampai dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah yang sangat dia rindukan itu.
“Aunty Ros, apa kabar?”
“Jauhkan layarnya, sayang. Aunty gak bisa lihat wajah kamu.”
Perlahan layar itu bergerak menjauh. Sosok itu kini terlihat jelas, dan membuat Rossa tersenyum. Mbak Lis, dan beberapa rekan kerjanya ikut duduk di meja yang sama sesekali mengajak Rafael berbicara.
“Oh ya, mama mana sayang? Aunty pengen ngomong.”
“Mama masih masak, aunty Ros.”
“Kalau begitu, Rafael makan dulu ya. Aunty mau balik kerja lagi.”
***
Sudah larut malam, tapi tidak ada sosok Rossa di apartemen. Tristan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Kopernya sudah ada di depan kamar. Dia ada perjalanan dinas subuh nanti. Sejak tadi dia menunggu wanita itu untuk pamit. Pesannya juga tidak dibalas.
Benar sudah dewasa. Tapi kan kejahatan tidak memandang usia. Akhir-akhir ini saja banyak kejadian perdagangan manusia di daerah Kamboja sana. Rata-rata mereka dewasa. Mereka diculik, ditawari pekerjaan dengan gaji tinggi, dan banyak motif lainnya. Apalagi saat ini, layar tv di hadapan Tristan sedang menunjukkan perkembangan berita perdagangan yang menyeret oknum kepolisian.
Apa gak tambah khawatir dia?
Ya minimal kasih kabar kek. Tristan duduk di sofa, sambil merentangkan tangan.
Sedangkan Rosa sedang mengumpat kesal. Dia baru saja pulang dari kosan sepupunya, dan bukannya mereka bisa bicara. Sepupunya—Jemimah—malah sibuk berteriak dan mendesah dari kamar. Selalu saja seperti itu. Kadang Rosa berpikir, kok bisa orang-orang having s*x without relationship yang pasti? Kalo hamil, dan cowoknya gak tanggung jawab, cuman tau ahahah dan asal masuk lobang saja, gimana? Kalo udah punya anak, semuanya jadi susah.
Jika bukan sepupu, Rossa jijik bertemu dengan wanita itu. Beda kasus dengannya. Itu namanya accident, yang bahkan tidak dia inginkan.
Begitu tiba di depan apartemen, perhatian Ros tertuju pada pemuda yang kesulitan membawa beberapa kotak di lift.
“Eh, hati-hati, mas.” Rossa refleks menangkap box itu.
“M…maaf, mbak. Aduh, mbaknya kena ya?”
“Gak kok. Biar saya bantu aja.”
Dari tombol yang ditekan, Rosa tidak perlu bertanya lantai berapa, karena tujuan mereka sama.
“Aduh, makasih ya mbak. Nama mbaknya siapa?”
“Rosalina Hyunhe, panggil Rosa saja. Masnya dengan?”
“Zaman Gary. Kebetulan saya baru pindah kesini.”
Mereka berhenti di unit yang bertepatan sekali di sebelah unit Rosa.
“Masnya pengacara ya?”
“Eh?” Zaman terkejut, “darimana anda tau?”
“Dari kemejanya. Dulu saya pernah ikut sidang terbuka di firma hukum itu, dan melihat beberapa pengacara mengenakan kemeja seperti itu juga.”
“Ingatan mbaknya keren. Oh ya, terima kasih sudah membantu saya ya. Mbaknya unit berapa?”
“Kebetulan di sebelah, mas Zaman.”
“Wah, kebetulan sekali.”
Rossa mengangguk, dan berjalan menjauh. Dia membuka pintu dan langsung disambut dengan aura dingin sosok yang tengah berdiri di tengah ruangan. Andai lampu tidak menyala, mungkin Rosa akan teriak. Di sana, Tristan sedang menatapnya dari atas sampai bawah. Memutar tubuhnya, sampai Rosa benar-benar pusing.
“Apa-apan sih? Lo ngapain juga berdiri di tengah kayak hantu?”
“Darimana aja, kenapa chat aku gak di balas?”
“Terserah gue aja dih. Lepas gak.” Rosa melotot.
“Lo itu rawan di culik, tau gak sih berita viral akhir-akhir ini? Kalo kamu di tangkap, bisa jadi aku jadi tersangka.”
“Dih.”
“Kan dibilangin ngeyel banget sih. Udah makan belum?”
“Eh kebetulan banget, gue beli seblak di jalan tadi. Lo mau makan bareng?”
Bibir Tristan membentuk lekukan. Dia mengambil alih kresek itu. “Biar gue letakin di piring, tuan putri.”
Ting nong
Bel mereka berbunyi. Rosa berbalik dan membuka. Dan melihat siapa disana, membuatnya tersenyum.
“Maaf mengganggu, Ros. Ini, saya hanya punya ini. Terima kasih sudah membantu saya tadi. Oh ya, apa kamu punya pel-an? Tadi saya lupa beli.”
Tristan tanggap dan mengintip. Seorang lelaki? Dan kenal dengan Rossa?
“Oh ya, tunggu sebentar ya.”
“Babe, celana dalam aku kamu taro mana? Ini cuman ada dalaman kamu doang.”
Wajah Rosa mendadak memerah. Tangannya yang baru saja menyerahkan tongkat pel langsung kaku. Dia menatap Zaman yang sepertinya juga terkejut.
“Sayang, kok dipanggil gak nyaut sih? Eh…ada tamu, kok gak disuruh masuk?”
Tangan Tristan merangkul pinggang Rossa.
“Apaan sih, lepasin tangan lo.” Rosa berusaha tetap tersenyum.
“Eh, maaf mengganggu ya.” Zaman meraih pel itu, “Saya permisi dulu, terima kasih atas pinjamannya.”
“Iya…sama-sama.”
Begitu pintu tertutup. Tristan langsung kabur.
“TRISTAN BERENGSEK. Lo apaan sih huh? Bab beb, palamu a*u. CD apaan juga anying, gue pecahin juga pala lo ya lama-lama. SINI JANGAN KABUR.”
Nafas Tristan nyari habis. Dia menelan ludah di balik pintu kamarnya yang sudah terkunci. Untungya dia pernah menjadi mantan atlet lari. Jadi soal kecepatan, tidak usah diragukan.
Nafas Rossa ngos ngosan. Dia menghentakkan kakinya kesal dan berhenti menggedor pintu kamar Tristan. Hari ini moodnya benar-benar buruk. Segera Rosa menuju kamarnya. Membanting pintu dengan keras, dan berteriak di balik bantal. Air matanya menetes. Rasanya benar-benar sesak. Dan entah kenapa Rossa juga menjadi sentimental hari ini.