Rapat berlangsung dengan suasana mencekam. Proposal yang diajukan mentah-mentah ditolak oleh Tristan, disuruh kerjakan ulang, revisi, dan tidak ada kerjasama di atas kertas. Jake sebagai sekretaris hanya bisa menghela nafas. Tidak bisa memukul kepala Tristan, karena sadar jabatan.
Tidak berbeda jauh dari Jake. Keadaan Rossa pun terlihat mengenaskan. Sejak siang dia tidak bisa makan, disuruh ini dan di itu. Memang jadi b***k corporate harus seperti ini ya? Rossa membantin. Dia benar-benar kesal setengah mati pada Tristan yang mukanya tidak bisa di ajak kerja sama.
Kalo mau buat kerjaan, gak gini juga dong ceritanya. Rossa tau job desknya, dan ini bukan salah satunya.
Bahkan saat matahari sudah tumbang ke peraduannya, disinilah Rossa masih mengumpati sosok yang sejak tadi membuatnya bekerja. Dia terjebak di kantor. Mengerjakan ulang laporan keuangan, dan revisi proposal yang jelas-jelas bukan kerjaannya.
Gustin yang terakhir bersamanya. Itu pun dia sudah mengemasi barang-barangnya.
“Ros, lo mau perusahaan ini bangkrut?”
“Hah?” Rossa berhenti sejenak mengamati layar komputer di depannya yang menunjukkan barisan rupiah yang jumlahnya sampai triliun.
“Gue tau jam lembur di sini itu di gaji mahal. Tapi ini sudah 3 jam dari yang seharusnya, masih kuat lo?”
“Sebenarnya gue juga gak mau lembur, tapi pak bos minta laporan ini harus ada malam ini. Lo gak ada niat apa bantuin gue?”
“Gak banget sih.”
“Bangke lo. Kalo gitu lo gak usah nanya.”
“Yaelah, cantik-cantik tapi sensian. Gue pulang duluan ya, awas ntar lo cepet tua.”
“Brisik.”
Tangan Rossa kembali mengetik beberapa kalimat. Menghitung, memasukkan rumus, dan membandingkan kurva dari proposal sebelumnya. Ada bagian aset yang naik dan turun. Kebanyakan yang perlu diperbaiki dari proposal itu berada di bagian Shipping. Rossa sudah menandai dengan stabilo bagian-bagian yang harus di rombak ulang.
Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Menghela nafas, sampai malika jadi manusia pun, dia tidak sanggup mengerjakan proposal ini sekarang. Rossa menatap ke ruangan seberang, lampu masih menyala.
“Ros, lo belum pulang?”
“Arghhh…setan.”
“Arghh…mana…mana setannya.” Jake ikut teriak ketakutan.
Wajah Rossa bersemu merah karena kesal. Kenapa juga Jake muncul tiba-tiba dari belakang saat dia tengah melamun?
“Bisa gak sih kalo muncul ngabarin dulu. Make nanya segala.”
“Astagfirullah Ros, gue nanya baik-baik loh perasaan. Lo aja yang sensi-an. Lagian lo ngapain lembur sampai jam 8? Mau cepat kaya?”
“Yang minta proposal selesai malam ini siapa? Jangan bilang lo…lo gak ngerjain?”
Jake terdiam. Bibirnya membentuk senyum, tidak merasa berdosa. Dia lupa mengingatkan Rossa bahwa proposal itu tidak perlu diselesaikan malam ini. Kadang Tristan memang tidak punya otak jika memberi perintah.
“Sorry, gue pulang duluan ya. Ada urusan.”
Ini benar-benar menjengkelkan. Rossa duduk dan menutup wajahnya di atas meja. Perasaannya campur aduk. Tidak…masa sih dia harus menyerah hanya karena masalah sepele seperti ini. Lagian Rossa juga sudah terbiasa banting tulang. Apalagi saat dia sempat kerja di gerai fast food, yang kerjanya shift dan kadang jika ada rekan kerja yang mendadak tidak masuk, selalu saja Rossa yang menggantikan. Karena lumayan juga duitnya bisa jadi uang jajan tambahan.
Tapi malam ini Rossa terlalu lelah. Sampai tidak sadar bahwa dia tertidur di atas meja kerjanya.
***
“Ros?”
Tristan terkesiap. Dia hendak pulang karena sudah pukul 09 malam. Dan tidak sengaja menemukan lampu kerja Rossa yang langsung terlihat begitu dia menutup pintu, masih menyala. Pemilik meja itu tertidur lelap di atas meja. Memutari meja, Tristan menyingkirkan anak rambut Rossa yang menghalangi wajah gadis itu.
Terlihat kelelahan. Layar masih menunjukkan laporan keuangan, dan proposal masih di atas meja. Tristan tersenyum, Rossa sangat cantik jika tidur anggunly. Apalagi jika tidak ada sumpah serapah yang dia dengar. Meninggalkan wanita itu seorang diri di kantor juga bukan hal yang baik.
“Hey, babe. Bangun, ayok pulang.”
“Hmmm.”
“Ohw shit.” Tristan mengumpat.
Suara serak itu sangat seksi di pendengarannya. Berulang kali Tristan mencoba untuk membangunkan Rossa, tapi itu sia-sia. Jalan satu-satunya adalah ruangannya. Tristan mengangkat tubuh Rossa, yang bahkan tidak terganggu dari tidurnya. Meletakkan tubuh yang terasa ringan itu di atas sofa, dan mengambil selimut juga.
***
Rossa merasakan ada sesuatu yang berat menimpa perutnya. Berulang kali dia mencoba menyingkirkannya, tapi 5 menit kemudian sesuatu itu kembali menimpanya. Padahal Rossa masih bermimpi di kejar-kejar setan gila, alias Tristan.
Entah kenapa pula mahluk satu itu masuk ke mimpinya. Make air jam-jam kah?
Rossa berusaha untuk menjauhkan badannya. Tapi tetap saja ada sesuatu yang menempel. Dengan susah payah Rossa berusaha membuka matanya yang berat. Tubuhnya terasa sakit dan tidak leluasa.
Sama seperti kebanyakan manusia, Rossa bengong dulu habis bangun. Mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul.
Baru 5 menit kemudian, Rossa menyadari ada yang aneh. Dia tidak di apartemen, dan juga tidak kasur empuknya. Wait. Rossa menoleh ke samping, dan matanya sukses melotot lebar.
“ARGHHH…BERENGSEK LO YA. SIALAN ASUU.”
Brugh
“Awwww… lo apa-apaan sih, pagi-pagi udah teriak-teriak kayak mak lampir. Mana ngomong kasar lagi, mau seisi kantor tau kita bobok bareng?”
Rossa panik. Dia mengecek pakaiannya, dan menghela nafas lega karena semuanya lengkap. Dia menatap Tristan dengan kesal. Lalu mengobservasi ruangan ini. Ruang kerja Tristan. Kenapa…kenapa bisa dia berada di sini. Rossa langsung menatap biang keroknya. Pasti ini ulah Tristan.
“Lo kan yang bawa gue kemari? Kenapa sih otak lo gak ada yang beres?”
“Bukannya berterima kasih, malah di umpati. Mau gue kasih ciuman itu bibir biar tobat sesekali?”
“JELASIN. POKOKNYA JELASIN KENAPA GUE BISA ADA DI SINI.” Rossa meninggikan suaranya.
“Makanya jadi orang kalo tidur jangan kebo banget deh. Semalam gue udah bangunin lo, tapi lo aja yang kaga bangun. Tadinya gue mau ninggalin lo sendiri, tapi sayang banget, ntar di culik maling gimana lo?”
Refleks Ros diam. Mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Dia ketiduran. Rossa menghela nafas, dan menatap Tristan, lalu tercengir. Dia susah berpikiran positif jika sudah bertemu dengan Tristan. Tapi masalah lainnya, ini sudah pukul setengah enam, dan dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.
“Ya lo kan bisa gak tidur di samping gue juga.” Rossa masih membela diri. Tidak peduli dengan wajah masam Tristan yang sedang mengelus bokongnya. “Lo kan bisa tidur di lantai gitu.”
“Yaelah, ruangan gue juga. Ya terserah guelah mau tidur di mana.”
“Jadi ini gimana? Gua mau balik dulu, masa gak ganti baju sih, ntar anak-anak lain pada ngomongin gue.”
“Lo bisa nyetir?”
“Bisa.”
“Bawa mobil gue aja di basement. Ntar datang gak usah make mobil, biar anak-anak gak curiga.”
“Trus lo gimana?”
“Gue ada cadangan.”
Tanpa pikir panjang Rossa langsung berlari keluar. Dia tidak mau merusak citranya. Apalagi masih anak baru.
***
Rossa datang agak telat. Untungnya, senior-seniornya tidak menghakimi. Justru membantu Rossa agar tidak ketahuan. Mbak Lis, dan Superstar bahkan sengaja menutupi tubuhnya agar tidak kelihatan Tristan yang kebetulan lewat. Padahal tidak tahu saja mereka kalo Rossa juga telat gara-gara atasan mereka itu.
Begitu duduk di kursinya, sebuah air mineral diletakkan di mejanya. Gustin tersenyum.
“Diminum dulu. Lo kok bisa telat sih, proposalnya belum kelar ya?”
“Gue ketiduran tadi malam, Gus. Bangun-bangun udah pagi.” Rossa menjawab sambil meneguk air minumnya. Apa yang dia katakan tidak sepenuhnya salah juga kan?
“Ya udah, untung lo gak telat banget. Kalo bos tau, bisa jadi kita juga kena imbasnya.” Mbak Lis ikut menimpali.
Rossa hanya bisa terkekeh, dan kembali menatap layar mejanya. Satu hal yang dia patut acungi jempol di perusahaan ini. Tidak ada katanya senioritas, atau yang merasa sok paling jago hanya karena mereka paling lama. Itu semua tidak lepas dari atasan.
Pandangan Rossa jatuh pada Proposal yang sudah rapi di atas meja. Ada sticky notes di belakang, dan itu tulisan Tristan. Mendadak dia panik dan menyembunyikannya. Tapi menatap proposal yang sudah kelar, dia tersenyum.
Gue udah kelarin. Makan dulu.
Itu isi sticky notes dari Tristan.
Rossa terdiam sejenak. Kenapa hanya karena tulisan sebaris itu dia jadi tersenyum? Buru-buru Rossa menggelengkan kepala dan mengecek file-file yang sudah terkirim ke emailnya.
Dan Tristan yang mengintip dari kaca hanya bisa tersenyum. Dia mendadak rajin, bahkan rela begadang. Karena yang terjadi semalam.
Flashback
Tristan menatap meja kerja Rossa. Mengambil proposal itu dan membawanya ke ruang kerja. Melihat semua point-point yang sudah diperbaiki Rossa. Tidak muluk-muluk, Tristan harus mengakui bahwa Rossa itu memiliki talenta. Dia tersenyum sejenak, dan mengamati Rossa yang mengigau dalam tidur.
Dan semalaman penuh. Tristan begadang untuk menyelesaikannya. Lalu paginya, tubuh Rossa hampir saja terjatuh dari sofa. Tristan buru-buru menahan, dan memeluk tubuh itu agar tidak terjatuh. Sekalian modus juga. Tapi apalah daya, niat baik malah berakhir petaka. Bokongnya masih sakit sampai sekarang.
Flashback End
“Bos, kenapa senyum-senyum sendiri?”
Tristan langsung mengalihkan perhatiannya, dan menatap Jake yang ikut menatap ke arah kaca. Segera dia melangkah ke mejanya. Menyisakan Jake yang tersenyum menggoda.
“Jadi, semalam apa yang terjadi? Aku tau kalian berdua tidak pulang.”
“Bisa diam ga?”
“Owhh…apa memang terjadi sesuatu? Kenapa kantung mata bos sampe hitam begitu?”
Tristan diam, mengamati Jake yang semakin hari semakin kurang ajar.
“Diam, atau gaji lo gue potong.”
Bibir Jake yang baru saja ingin mengeluarkan serpihan godaan otomatis tertutup rapat. Dia mengunci bibir, lalu membuang kuncinya.
“Oh ya, ada orang yang mau nemuin bos.”
“Siapa?”
Pintu terbuka. Dan sosok itu muncul tepat di hadapan mereka. Wajah Tristan langsung dingin, auranya berbeda. Jake juga segera pergi dari sana.
“Gue butuh duit.”