“Tapi habis gue makan.”
Tristan yang sudah bersiap ingin melancarkan aksinya langsung berhenti. Ditatapnya lagi wajah Rossa yang sudah memelas dan kasihan. Dia tidak setega itu. Pada akhirnya mereka makan bersama. Tristan makan sangat cepat, dan kini dia sudah kembali dari kamar mandi. Mulutnya sudah fress.
Sambil menatap Rosa yang masih makan, Tristan sudah memikirkan akan memanfaatkan kesempatan ini dengan gaya apa. One kiss but it’s long. Bahkan otaknya sudah berkelana kemana-mana, sampai tidak sadar senyum-senyum sendiri.
Rossa bergidik ngeri melihat Tristan yang senyum-senyum sendiri sambil melihatnya. Bulu kuduknya sampe berdiri. Tapi demi apapun, kini Rossa mulai memikirkan alasan untuk kabur dan tidak memberikan permintaan Tristan. Perutnya sudah kenyang, tapi Rossa sengaja berpura-pura masih makan.
Setidaknya itu bisa mengulur waktu.
“Gue mau ke toilet dulu.”
Segera Rosa bangkit, tapi tangannya di cekat. Tristan menatapnya dengan tajam.
“Jangan sekalipun lo mikir mau kabur. Janji adalah janji, itu menyangkut harga diri, dan lo juga berhutang jasa. Coba kalo gue tadi gak ada, lo udah di apain sama mereka?”
“Gue mau pipis doang. Lo kenapa piktor mulu sih?”
“Piktor?” Tristan mengerutkan kening.
“Pikiran kotor. Shibal.”
Pintu kamar mandi di banting kasar. Rosa merutuki dirinya sendiri. Dia jelas tidak bisa kabur. Sialnya dia juga berhutang budi. Biar bagaimanapun, jika Tristan tadi tidak datang, Rosa sudah tidak tahu bagaimana nasibnya. Karena bisa jadi lelaki tadi itu juga agen perdagangan manusia. Mbaknya bisa histeris mendengar kabar jika dia mati mendadak kan?
Gak lucu.
Belum juga terima gaji bulanan. Udah aja ninggoy duluan.
Akhirnya Rosa keluar setelah memastikan mulutnya sudah aman dan tidak ada sisa makanan. Setidaknya, dia harus menjaga image juga. Begitu pintu terbuka, dia terkejut menatap Tristan yang menunggunya di depan kamar mandi. Sampai segitunya?
“Lo ngapain sih?”
“Takut lo gali lubang di kamar mandi buat kabur.”
“Shit.”
“Mana?”
“Apa?”
Rossa merasakan hawa-hawa aneh. Tangan Tristan sudah memeluknya. Jemari pria itu mulai mengelus perutnya dengan gerak lambat. Otaknya mulai tidak bisa di ajak kerja sama. Tanpa perlu mengeluarkan banyak effort, pria itu merapatkan tubuh mereka. Lidah Tristan menyusup dan bermain di dalam mulut Rossa. Bahkan tanpa sadar, tangan Tristan sudah meremas b****g Rossa gemas. Segera Rossa menepis tangan itu kesal.
“Sorry, kelepasan.”
Tristan kembali membenturkan bibirnya. Melumat, menghisap, dan sesekali menggigit bibir Rossa. Suasana di sekitar mulai memanas. Suara desahan Rossa lepas. Membuat adrenalin Tristan berpacu lebih cepat. Seluruh tubuhnya sudah memanas sekarang.
Tangan Tristan sudah menyusup ke dalam bajunya. Mata Rossa melebar, hangat dan ada gelombang aneh di dalam dirinya.
“Tris…”
“Sttt.”
“TRISTAN ANJING.”
Rossa berteriak keras sambil mengumpat saat Tristan mendorong tubuhnya masuk kamar mandi, dan mengangkat tubuhnya ke meja dekat wastafel. Bahkan Rossa baru sadar jika bajunya sudah melorot, memperlihatkan bra-nya yang juga ikut melorot. Belahan dadanya terlihat jelas, hanya ditutupi sedikit.
“Gue suka bagian ini.”
Tristan melesakkan mulut dan kepalanya di sana.
“Tris…ah…”
Rossa semakin gelagapan saat Tristan bermain dengan dadanya dengan lihai. Otaknya menyuruhnya untuk berhenti. Tapi lain dengan keinginan tubuhnya. Tangan lelaki itu bermain ke daerah bawahnya. Bahkan tanpa sadar CDnya sudah diturunkan.
Nafas Rosa tercekik melihat Tristan menurunkan celananya sendiri. Aset lelaki itu terlihat jelas di hadapannya.
“Tris, lo mau apa?” suara Rossa gemetar.
“Gue gak tahan.”
“Gak, gue gak mau.”
“Ros, lo serius?” Tristan melakukan tawar menawar. “Sekali masuk aja, gue bakal pake pengaman.”
“Gak…gak, gue gak mau. Demi apapun gue gak mau.” Wajah Rosa sudah pias, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Nafas Tristan tertahan melihat bagaimana Rossa ketakutan.
Rosa turun dari atas meja, mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Di ruang tamu, mata Rosa menatap ke arah Pizza yang belum dia makan, tidak lupa dia mengambil dua slice dan masuk ke dalam kamarnya.
Tristan menatap dirinya sendiri di pantulan cermin kamar mandi. “Buset, Ros, lo tega banget sih. Sekali masuk aja beb, nanggung banget nih.” Tristan berteriak frustasi.
Tidak ada sahutan, apartemen sudah hening. Kamar Rosa ditutup.
Ini benar-benar tanggung. Tristan mengumpat dalam hati dan menghela nafas panjang. Lagi-lagi adiknya harus sedih. Padahal tadi sudah berdiri dengan tegak. Terpaksa dia harus mandi lagi subuh-subuh begini.
Sedangkan Rossa di kamar langsung duduk di ranjang, sambil menatap potongan pizza yang bisa-bisanya di bawa di saat dirinya sedang kena mental. Tapi demi apapun, Rossa masih ingin makan.
***
Suara deringan alarm membuat Tristan terbangun. Suhu udara kamarnya sangat dingin. Semuanya karena ulah Rossa. Meski sudah berusaha melupakan kejadian di kamar mandi, dan berusaha memberikan keinginan si-adik. Malamnya, Tristan kembali lagi dipenuhi oleh bayangan tubuh wanita itu.
Panggilan tak terjawab dari Jake—sekretarisnya, langsung muncul di layar. Tristan menghela nafas, dan menatap layar ponselnya. Sudah pukul 10 pagi. Wajar Jake mencarinya, karena mereka ada rapat penting jam 11 nanti. Rossa juga pasti sudah pergi duluan, apartemen sudah sunyi saat Tristan selesai berpakaian.
Dan wajah Jake sangat tidak ramah saat Tristan baru saja tiba di ruangannya.
“Lo ngapain aja sih bos? Mata panda, wajah kusut, dan tidak bertenaga. Kita ada rapat 30 menit lagi, sampe lo ga datang, gue serius langsung mengundurkan diri.”
“Bisa diam gak lo?”
“Lo kenapa sih? Bukannya misi laknat lo udah terpenuhi? Tapi kok kelihatannya terjadi KDRT ya di sini?”
“Brisik.”
Jake diam. Dia memilih mundur dan menyerahkan lembar kontrak ke atas meja Tristan–bos sekaligus sang sahabat.
Masih ada waktu untuk memeriksa berkas lainnya.
“Eh Ros, data yang gue udah kasih aman gak?”
“Aman, udah gue kirim ke e-mail.”
“Nice. Gak sia-sia gue rekrut lo, bentar gue mau cek dulu.”
Kepala Jake mengangguk-angguk, bangga karena Rossa memang bisa diandalkan. Dia tidak perlu merevisi pekerjaan wanita itu. Untung Jake memberikan rekomendasi agar merekrut Rosa saja daripada kandidat lainnya. Spek Rosa sayang banget kalo gak dipergunakan dengan baik.
“Btw, lo tau kenapa Tristan mukanya gak bersahabat banget?”
Rosa menelan ludah–gugup. Dia menatap Jake sejenak. Tidak mungkin kan dia bilang apa yang terjadi tadi malam. Heh, bisa jadi namanya langsung di coreng, dan dia jadi bahan gibahan. Tinggal satu atap dengan sang bos pun harus dia rahasiakan rapat-rapat.
“Kenapa lo nanya sama gue? Kan lo sekretarisnya.”
“Tapi kan…”
Pintu di depan mereka terbuka, otomatis Jake dan Rossa langsung diam. Rosa bisa merasakan aura mengerikan dari depannya. Tadi dia sempat melihat Tristan yang datang dengan wajah masam, ada kantung mata, dan tidak ber-energi.
Kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Rossa benar-benar tidak ingin melakukannya tadi malam. Lagipula perjanjian mereka hanya kiss, bukan malah main masuk seenak jidatnya. Tapi Rossa tetap kasihan melihat bagaimana Tristan saat ini. Mengenaskan sekali.
Begitu keduanya pergi, barulah Rossa bisa bernafas legah.
Dan suasana di bagian departemen akuntansi langsung berubah drastis. Meja Rosa memang langsung berhadapan dengan pintu masuk Tristan, dan di sebelah mejanya ada meja kerja Jake. Sang sekretaris yang harus stay 24/7. Susunan meja mereka itu berbaris-baris ke belakang.
Di bagian belakang, ada meja Gustin yang langsung menarik kursinya. Mbak Lis ada di depan Gustin, Superstar ada di pojok, dekat jendela.
“Gila, gue baru pertama kali ini lihat pak bos datang kayak gak di kasih jatah aja semalam.” Lis mulai dunia pergibahan mereka.
“Gue setuju. Tapi kan pak bos punya banyak wanita yang mau ngangkang secara gratis, gue gak yakin karena itu.” Gustin menimpali. Biar tubuh seperti kena malnutrisi, tapi bibir harus tetap lemes. Padahal dia cowok. Untung tampangnya lumayan.
“Apa mungkin karena ada masalah keluarga? Bisa jadi kan pak bos dijodohin trus gak terima gitu.” Lis lagi-lagi memulai asumsi-asumsinya.
“Menurut kalian, pak bos udah ada pacarnya?” itu pertanyaan dari Rossa.
Dan semua tatapan langsung tertuju padanya. Tatapan menghakimi, dan mengintimidasi.
“Lo belum tau?” Gustin berbisik pelan, menarik kursi Rossa mendekat.
Rossa menggeleng.
“Di kantor ini, ada orang yang pernah dipecat saat ketahuan nanya pak bos udah punya pacar atau belum. Jadi itu jangan sampai terjadi sama lo, dan jangan harap buat ngedeketin dia. Banyak cewek yang bakal jadi saingan lo. Dan itu cuman buat lo jadi sakit hati karena pasti lo udah di tolak dulu.”
Rossa ingin berteriak kesal. Kenapa…kenapa dari sekian banyak wanita, Tristan harus menjadikannya sebagai target?
“Dia itu terkenal bad boy dan sering bermain wanita. Gosipnya sih.” Lis menambahi. “Kalo lo suka, itu wajar. Tapi jangan sampai deh, mending sama Gustin aja. Biar dia laku.”
“Ogah.” Rossa langsung menolak.
Dan semuanya terkekeh. Wajah Gustin langsung masam, seolah dia yang paling tersakiti di posisi ini. Penggibahan itu berhenti saat Jake datang. Dan mereka langsung kembali ke posisi masing-masing.
“Ros, bawa laptop lo. Ikut gue.”
“Kenapa?”
“Dipanggil pak bos.”
Rossa menelan ludahnya. Ini benar-benar kabar buruk. Lis, Gustin dan Hana menatap Rossa kasihan. Mereka hanya bisa memberikan semangat.
“Semangat ya, lo harus kuat. Ingat, lo itu sendiri.”
“Sialan.” Seru Rossa kesal mendengar omongan Gustin. Lelaki itu pasti ingin membalas perkataannya barusan.