Sebelum baca, jangan lupa tap love*^^
Happy reading, guys!
*M a t a h a r i*
Byur!
Tawa cekikikan menyambut setelah sebuah ember penuh berisi air mengguyur tubuh gadis berambut panjang yang mengenakan kaca mata tersebut. Tepat di koridor kelas sebelas, di mana saat itu juga acara siraman yang dilakukan oleh geng-nya Vella menjadi tontonan menarik untuk semua siswa yang berkerumun untuk melihat. Bukannya membantu, mereka justru ikut cekikikan dan saling berbisik untuk mengolok si korban. Cewek pendiam yang saat ini tengah menyeka kacamata karena penuh dengan titik-titik air. Gadis itu Lintang Kejora. Telah basah kuyup karena perlakuan Vella barusan.
"Gini 'kan, kamu kelihatan lebih seger. Makin semangat dong belajarnya. Biar bisa maju jadi perwakilan sekolah buat ikut olimpiade. Iya, 'kan?" Gadis itu melangkah mendekati Keke.
Mendorong pundak kiri Keke berulang kali, sehingga Keke mundur membentur tembok. Seperti biasa pula, tak satu pun dari mereka yang kini menjadi penonton berani menghentikan aksi Vella. Bahkan para guru sekalipun karena hal seperti ini bukan sekali dua kali terjadi. Namun, Vella selalu lolos dari hukuman, sebaliknya korban yang akan menanggung akibat dari perbuatan Vella. Anak pemilik yayasan sekolah ini memang sangat menyebalkan.
"Gimana? Suka sama hadiahnya?" tanya Vella dengan jarak lima senti di depan Keke yang masih tertunduk.
Seperti biasa tak ada sedikit pun reaksi yang diciptakan pada wajah ayu tersebut. Keke sibuk mengelap kacamata dan tetap abai pada Vella yang masih berkacak pinggang di depannya.
"Tuli, ya?! Diajak ngomong itu jawab, woi! Songong banget, sih, jadi orang." lagi, gadis itu menyentak kepala Keke ke belakang. Sehingga tatapan keduanya bertemu.
Vella mengangkat sebelah alisnya arogant, sedangkan Keke. Ia masih tak berekspresi. Selangkah ia maju untuk membela diri, selangkah pula tangan mama lebih dekat dengan wajahnya. Karena bagi mama semua kegagalan adalah sesuatu yang salah. Mama tak pernah inginendengar penjelasan dari Keke, sekalipun pernah. Sudah pasti mama tak akan pernah memihak Keke. Wanita itu yak pernah memahami perasaan anaknya. Sebab itu pula Keke lebih memilih untuk diam, ia hanya tak ingin semuanya bertambah rumit di kemudian hari.
"Ups! Kamu basah banget, padahal aku nggak sengaja barusan," kata gadis berambut pirang itu tertawa renyah.
"Udah selesai?" tanya Keke pendek.
"Buang-buang waktu," desisnya kemudian.
Ia maju selangkah membuat Vella otomatis mundur karena tak ingin basah. Namun, bukan Vella namanya jika tak memperpanjang masalah. Gadis itu malah menarik Keke hingga cewek berkaca mata tersebut kembali membentur pada dinding kelas.
"Siapa yang nyuruh kamu pergi? Makin nggak tau diri ya, lama-lama? Udah merasa paling pinter kamu, ha!"
Sebelah tangan kanan Vella terangkat tinggi, dengan ayunan keras ia siap melayangkan tamparan ke wajah Keke. Namun, belum sempat hal itu terjadi, ia sudah merasakan sesuatu yang kental dan berbau tajam menyiram tubuhnya dari belakang.
"What the hell!" umpat Vella berteriak kencang.
Bukan hanya Vella, seluruh manusia yang ada di sana bahkan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka masing-masing, putri pemilik yayasan tersebut disiram dengan cat berwarna merah yang akan digunakan untuk mengecat ulang pagar pembatas sekolah dengan tema merah putih.
Spontan Vella membuka mata dan mendapati tubuhnya sudah merah karena cat yang tumpah dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Ia kembali berteriak, lantas menoleh mengikuti seluruh siswa di sana menatap sosok yang bediri di belakangnya dengan tampang datar.
"Oops! Sorry, nggak sengaja," ucap Ata menjatuhkan ember cat berukuran kecil dari tangannya hingga menimbulkan suara berisik di lantai. Segaris kurva miring terbentuk pada bibir merah jambu Ata. Membuat Vella melotot tak terima. Cewek pembuat onar itu mengepalkan kesepuluh jarinya erat bersiap untuk menghajar Ata. Jika saja dia mampu.
"Kamu lagi?!" teriak Vella geram.
Ata mengangkat kedua tangannya ke samping kemudian mengendikkan bahu acuh. Ia suguhkan senyum sarkas pada Vella, sebelum kemudian mundur selangkah.
"Udah kubilang nggak usah ikut campur. Kamu emang niat cari gara-gara sama aku?!"
"Udah kubilang juga, di atas langit masih ada langit, 'kan? Lagian Vella, udah kukasih tau 'kan, kalau aku nggak suka kamu ganggu orang-orang yang ada di dalam teritoriku."
"Bacot!" Vella meradang mendengar ucapan Ata.
Gadis itu mengulurkan tangannya bersiap mendorong Ata, tetapi sayang Ata lebih gesit dari itu. Kegiatan Ata setiap hari jika tidak berlari adalah berolahraga, menjadikan Senja sebagai samsak. Alhasil kini malah Vella yang jatuh tersungkur ke lantai keramik yang ikut berwarna merah. Dan tak pelak hal itu membuatnya berteriak dengan nyaring. Meminta kedua anteknya untuk segera membantunya berdiri.
"Easy, Vella," bisik Ata, "btw, kamu kelihatan lebih berani."
Disusul dengan tawa, Ata menyingkir dari sana. Namun, sebelum Vella berdiri, Ata sudah lebih dulu menyambar lengan Keke dan menariknya pergi dari sana.
"Ata b*****t! Aku bunuh kamu, nanti. Awas aja!" geram Vella dengan seluruh tubuh yang merah.
Saat itu juga seluruh siswa yang tadi menertawakan Keke kini beralih menertawakan dirinya. Bahkan ada beberapa siswa yang berani memotret Vella yang saat ini sudah merah parah karena cat.
"Nggak usah lihat-lihat!" bentaknya.
"Kalau ada yang berani nyebarin kejadian hari ini, siap-siap aja keluar dari sekolah ini. Ngerti?!"
Setelah memberikan peringatan itu Vella bergegas pergi dari sana untuk membersihkan diri karena perlakuan Ata. Sungguh gadis itu bersumpah akan membalas Ata dengan segala cara karena telah berani mempermalukannya.
*M a t a h a r i*
Di kamar mandi Keke menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil pemberian Ata. Cewek itu bilang ia selalu membawa handuk kecil karena Ata hobi berlari.
"Tenang aja, ini masih baru kok. Belum kepakai," ucap Ata menjejalkan handuk berwarna putih tersebut ke tangan Keke yang tak kunjung menerimanya.
Keke menatap pantulan dirinya di cermin, lantas menghentikan aktivitasnya mengusap rambut. Kedua tangan gadis itu berada di pinggiran westafel, mencengkeramnya dengan erat seraya menghela napas sesak. Ditatap pantulan dirinya di depan cermin besar, sedetik kemudian ia terkekeh pendek.
"Pengecut!" geram Keke memaki dirinya sendiri.
Kini Keke beralih mengusap seragamnya yang kuyup. Meskipun sama sekali tak membantu, setidaknya meredakan titik-titik air yang masih jatuh di sana. Beberapa saat setelah itu ia mendengar pintu kamar mandi kembali di buka. Keke menoleh mendapati Ata yang datang membawa satu setelan seragam putih abu-abu entah dari mana.
"Ganti, gih. Kayaknya ukurannya pas sama kamu," titah Ata.
Gadis itu mengamati Keke dari ujung kepala sampai ujung kaki kemudian menganggukkan kepala. Ia menyodorkan seragam itu pada Keke, sebelum kemudian berbalik pergi.
"Aku jaga di depan pintu." Keke masih jelas mendengar suara ringan itu sebelum sosok Ata benar-benar lenyap dari pandangannya.
Kini ia beralih menatap sepasang seragam yang tak dilipat dengan rapi dengan segudang tanya yang membengkak di dalam kepala. Keke juga dapat melihat dengan jelas bekas jahitan name tag yang sengaja dirobek paksa, gadis itu kembali melempar pandangan ke arah pintu. Di mana mungkin saja Ata masih benar-benar menungguinya di sana.
Masih jelas terekam di benak Keke bagaimana Ata mencoba mendekatinya waktu itu. Mulai dari mengembalikan buku miliknya, bahkan menggagalkan percobaan bunuh diri yang akan ia lakukan. Keke juga masih ingat bagaimana cara gadis itu tersenyum padanya lewat sepasang mata yang begitu tulus. Tatapan hangat yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun setelah ayah.
Ata.
Hanya sepotong nama itu yang ia ketahui tentang gadis yang selalu berjalan tanpa ragu. Tertawa tanpa beban, dan menarik tangannya dari kubangan gelap yang tak pernah ia temui dasarnya seperti apa. Tanpa berpikir banyak lagi, Keke segera mengganti seragamnya yang basah dengan seragam pemberian Ata.
Sedangkan di luar, Ata menyadarkan punggungnya pada dinding sambil bersedekap d**a. Menatap beberapa siswa yang melintas dan meliriknya dengan bisik-bisik yang Ata sendiri tak ingin tau menau soal hal tersebut.
"Udah?" tanya Ata melihat Keke keluar dari kamar mandi.
Gadis itu hanya mengangguk tipis, "Makasih."
Ata balas tersenyum tipis lalu memberikan isyarat pada Keke untuk berjalan lebih dulu. Ia akan mengantarkan gadis itu ke kelas dengan selamat. Di sepanjang lorong keduanya tak bersuara sedikit pun. Berjalan beriringan depan dan belakang membuat jarak sekitar satu meter. Pada jarak satu meter itu Ata masih berjalan santai sambil mengamati beberapa siswa yang bersiap untuk melakukan kelas olah raga.
"Siapa yang ambil seragamku?!" teriak teriakan nyaring dari sebuah kelas itu membuat langkah Keke terhenti.
Gadis itu menoleh ke belakang mendapati Ata yang tertawa tanpa suara sambil mengedipkan sebelah mata.
"Don't stop! Keep going on," bisik Ata meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir.
Keke mematung sejenak, menatap sosok Ata yang kini berjalan lurus mendahuluinya tanpa menoleh lagi padanya. Secara alami Keke menarik rambut panjang yang tergerai itu ke depan, menutupi bekas badge yang dilepas secara paksa.
*M a t a h a r i*
B E R S A M B U N G!
Haii hai hai, Guys!
Apa kabar? Semoga kalian baik-baik di sana yah. Setelah baca cerita ini, jangan lupa tap love dan komen. Apa aja kekurangan dalam tulisanku, aku selalu menerima kritik dan saran. Dengan bahasa yang baik dan sopan, wa-ka-ka. Okke? So, jangan sungkan-sungkan, yak.
Dan lagi, jangan lupa baca ceritaku yang lain.
TERIMA KASIH :*