46. (Kumpulan Puisi Karya Usman Arrumy)

976 Kata
Gandrung Ombak adalah puisi Yang ditulis laut pada pantai Hujan adalah puisi Yang ditulis langit pada tanah Napas adalah puisi Yang ditulis udara pada kehidupan Kau adalah puisi Yang ditulis Tuhan pada diriku 2018 *** Cita-Cita Rindu Setelah kepergianmu, kenangan akan selalu membakar dirinya sendiri agar rinduku bisa menghangatkan diri di atasnya Cita-cita rindu Bukan ingin menaklukkan jarak Bukan pula mau melipat waktu Cita-cita rindu tak lain Cuma ingin menjadi guru Yang telaten mengajari Bagaimana cara terbaik Menyebut namamu Apa yang hendak dilakukan Rindu setelah cita-citanya tercapai? Mengadakan upacara sederhana Untuk memperingati masa Di mana pernah ada kita Di manakah rindu Setelah cita-citanya terkabul? Mengungsi di pedalaman sunyi Ruang yang cuma boleh dihuni oleh puisi 2019 *** Perihal Rindu 1 Kenangan ialah anak-anak masalalu yang berlarian di halaman hati seorang penyair. Ibunya ialah cinta yang menolak kata pamit. Ketika beranjak dewasa Kenangan bercita-cita menjadi sebaris puisi yang bicara di hadapan rindu 2 Sejak masalalu lahir dari rahim waktu Aku tak lain anak kandung rindu Siapa aku? Aku adalah sesuatu Yang berdenyut di doa panjangmu 3 Kuberikan kepadamu alamat rindu Menyebut namaku adalah rute Terdekat untuk mencapainya 2019 *** Elegi Kopi Ketika pagi tercurah di kopiku dan kau teramat cerah di ingatanku aku bergegas menghadap ke haribaan sepi dengan niat menyerahkan kata kepada puisi Kopiku terbuat dari kepekatan masa lalu yang sudah matang oleh rindu —dijerang waktu dan ditanak ingatanku akanmu Kopiku lebih hitam dari nasib buruk pecinta yang gagal move on Lebih getir dari kesepian jomblo yang tak punya alamat untuk memasrahkan cintanya 2016 *** Rukun Ngopi Rukun ngopi terdiri dari enam perkara, Kata penyair yang tekun insomnia Dan mahir mengecoh kantuk Satu, bersuci dari sepi Kedua, menggelar puisi Ketiga, menghadap rindu Keempat, mengheningkan cinta Kelima, mengucap salam kepada kenangan Keenam, mendoakan keselamatanmu 2017 *** Sajak Kangen Pada guyur hujanmu Berhuni linang airmataku Pada lapang langitmu Berumah rindang rinduku Pada bidang dadamu Bermakam cintaku Pada jantungmu Berdegup hidupku 2019 *** Sembahyang Aku mencintaimu di atas bumi Yang memelihara akar bagi pohon Di mana sepasang burung berkicau Di rantingnya saat senja beranjak susut Aku mencintaimu di bawah langit Yang menanak mendung bagi hujan Di mana kenangan akan kuyup oleh Curahnya ketika rindu berangsur basah Aku mencintaimu di dalam doa Yang memintal semoga bagi amin Di mana membahagiakanmu adalah Sembahyang terbaik bagi hidupku 2019 *** Zifza Demi lengkung langit tempat Tuhan memelihara gemintang aku menujumu melalui lorong lengang dan rentang kenang dimana rindu menghubungkanku ke bagian terjauh dalam dirimu mencari tempat berkholwat, menghayati keperihan sebagai kamu Airmata adalah kereta yang mengantarkanku sampai kepadamu gerbong yang mengangkut katakataku, mengusung segala pilu melaju melintasi relung rel yang menjurus ke ruang terdalam dari dirimu tak akan henti, Cintaku, tak akan. Sebelum tiba ini keretaku Berbaringlah dan izinkan aku membelai rambutmu yang tergerai akan kubisikkan kepadamu serunai kisah yang berkelok bagai sungai atau menangislah semaumu sampai sembilu lenyap ke dalam rindu dan biarkan aku menjadi orang terakhir yang menyeka luh-mu itu Demi luas laut tempat Tuhan merawat ombak dan gelombang aku menempuh samudra ke arahmu dengan layar terpasang dan di antara kita ada riwayat yang musti senantiasa kuingat sebab melupakanmu sesaat adalah keperihan hakekat *** Fosforisma I Semula huruf itu bermetafor serupa pendar fosfor manakala atmosfer memercikkan nyala meteor sebab mereka tahu bahwa dirinya perlu menjadi kata yang mampu beri penghayatan murni kepada Cinta II Dan kata mulanya adalah satu titik yang, lalu berbiak jika mata pena beranjak bergerak menuju jarak mungkin berulangkali akan jadi bahasa atau jadi majas tempat bersuara sintaksis-frasa III Lalu kepada kakawin, mereka mendamba masuk ke dalam batin melingkar bagai cincin, serutin auksin menumbuhkan beringin Asal kau tahu, rahasia itu lebih luas ketimbang kesepian lebih gaib tinimbang kebangkitan nisan, lebih bebas dari hujan IV Barangkali setiap yang tertera di dalam diri mereka, merindukan sentuhan lembut sang asmaraloka setelah sekian lama cuma bertapa di gulita gua; menjadi tanda baca bagi rima dan hiperbola V Hati adalah tempat terbaik bagi kehadiran diri meresap ke segenap yang sunyi, dari zaman paling purba mereka khusuk samadi menghampar dalam sunya-ruri VI kadang mereka menghayalkan berbaring dalam kamus dimana sebagian dirinya tak tertampung oleh hukum-rumus agar seorang penyair bebas menafsir secara utuh merubah yang rubuh dari punah ke penuh VII mungkin mereka mengharap lesap ke dalam hening menjelang ke ruang kenang, sesantun embun bening menghasratkan lidah penyair melepas sebuah nama tentang puisi yang tak usai diurai pada cinta pertama VIII Dan seluruh kata akan kembali kepada cinta setelah mengembara dari fana ke baka sebagian mengendap lalu ambyar sewaktu kala menunggu sampai semesta tak berdaya IX Inilah Sembilan bait puisi yang ditulis penyair kampungan sebuah perjalanan dari kenangan menuju harapan sembari nyeduh kopi dan nyesep samsu dengan pipa stigi huruf-huruf itu dikutuk menjadi puisi *** Titah Cinta Cinta menitahkan aku jadi kata untuk menyampaikan kau sebagai rahasia meski tak kutahu kalimat apa yang pantas mewakili tapi hanya kepada kau aku rela menggigil dalam puisi: aku buku yang tak mau menerima apaapa selain namamu setiap hura jadi haru, ketika hariku kosong tanpa hurufmu aku waktu yang berdetik siasia kecuali kau bisa peka seluruh laku jadi luka, bila kausua aku penuh prasangka aku lilin yang melumer andai kau memintaku menghalau gelap mengabdi kepada api, membayang sekejap lalu penyap aku arwah yang melayang misalkan kau mengusirku dari tubuhmu sepi jadi tempat menunggu, sejak kau membiarkanku digendam rindu aku kemarau yang selalu mengerang selagi kau segan jadi hujan membisikkan harap kepada awan, memanggilmu dengan sisa getaran : Kekhawatiran menjadi puncak dari zikirku pemuja yang tak jemu menunduk di hadapanmu jangan lagi kau tuntut aku termangu mengawasi parasmu aku tak mahir menafsir senyum yang menggelincir di bibirmu Tenanglah, sehening ruang tanpa gema akan kuresapkan cahaya ke dalam pena demi kau bisa kutulis sebagai cinta seutuhnya agar kelak bisa dibaca seusai masa kita -Usman Arrumy. Semua puisi ini karya beliau. Semoga kalian suka, dan semoga membantu kalian yang lagi butuh referensi bacaan puisi. Wk-wk Jangan lupa tekan love!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN