Gandrung
Ombak adalah puisi
Yang ditulis laut pada pantai
Hujan adalah puisi
Yang ditulis langit pada tanah
Napas adalah puisi
Yang ditulis udara pada kehidupan
Kau adalah puisi
Yang ditulis Tuhan pada diriku
2018
***
Cita-Cita Rindu
Setelah kepergianmu,
kenangan akan selalu
membakar dirinya sendiri
agar rinduku bisa
menghangatkan diri di atasnya
Cita-cita rindu
Bukan ingin menaklukkan jarak
Bukan pula mau melipat waktu
Cita-cita rindu tak lain
Cuma ingin menjadi guru
Yang telaten mengajari
Bagaimana cara terbaik
Menyebut namamu
Apa yang hendak dilakukan
Rindu setelah cita-citanya tercapai?
Mengadakan upacara sederhana
Untuk memperingati masa
Di mana pernah ada kita
Di manakah rindu
Setelah cita-citanya terkabul?
Mengungsi di pedalaman sunyi
Ruang yang cuma boleh dihuni oleh puisi
2019
***
Perihal Rindu
1
Kenangan
ialah anak-anak masalalu
yang berlarian di halaman hati
seorang penyair.
Ibunya ialah cinta
yang menolak kata pamit.
Ketika beranjak dewasa
Kenangan bercita-cita
menjadi sebaris puisi
yang bicara di hadapan rindu
2
Sejak masalalu lahir dari rahim waktu
Aku tak lain anak kandung rindu
Siapa aku? Aku adalah sesuatu
Yang berdenyut di doa panjangmu
3
Kuberikan kepadamu alamat rindu
Menyebut namaku adalah rute
Terdekat untuk mencapainya
2019
***
Elegi Kopi
Ketika pagi tercurah di kopiku
dan kau teramat cerah di ingatanku
aku bergegas menghadap ke haribaan sepi
dengan niat menyerahkan kata kepada puisi
Kopiku terbuat dari kepekatan masa lalu
yang sudah matang oleh rindu
—dijerang waktu
dan ditanak ingatanku akanmu
Kopiku lebih hitam dari nasib buruk
pecinta yang gagal move on
Lebih getir dari kesepian jomblo
yang tak punya alamat
untuk memasrahkan cintanya
2016
***
Rukun Ngopi
Rukun ngopi terdiri dari enam perkara,
Kata penyair yang tekun insomnia
Dan mahir mengecoh kantuk
Satu, bersuci dari sepi
Kedua, menggelar puisi
Ketiga, menghadap rindu
Keempat, mengheningkan cinta
Kelima, mengucap salam kepada kenangan
Keenam, mendoakan keselamatanmu
2017
***
Sajak Kangen
Pada guyur hujanmu
Berhuni linang airmataku
Pada lapang langitmu
Berumah rindang rinduku
Pada bidang dadamu
Bermakam cintaku
Pada jantungmu
Berdegup hidupku
2019
***
Sembahyang
Aku mencintaimu di atas bumi
Yang memelihara akar bagi pohon
Di mana sepasang burung berkicau
Di rantingnya saat senja beranjak susut
Aku mencintaimu di bawah langit
Yang menanak mendung bagi hujan
Di mana kenangan akan kuyup oleh
Curahnya ketika rindu berangsur basah
Aku mencintaimu di dalam doa
Yang memintal semoga bagi amin
Di mana membahagiakanmu adalah
Sembahyang terbaik bagi hidupku
2019
***
Zifza
Demi lengkung langit tempat Tuhan memelihara gemintang
aku menujumu melalui lorong lengang dan rentang kenang
dimana rindu menghubungkanku ke bagian terjauh dalam dirimu
mencari tempat berkholwat, menghayati keperihan sebagai kamu
Airmata adalah kereta yang mengantarkanku sampai kepadamu
gerbong yang mengangkut katakataku, mengusung segala pilu
melaju melintasi relung rel yang menjurus ke ruang terdalam dari dirimu
tak akan henti, Cintaku, tak akan. Sebelum tiba ini keretaku
Berbaringlah dan izinkan aku membelai rambutmu yang tergerai
akan kubisikkan kepadamu serunai kisah yang berkelok bagai sungai
atau menangislah semaumu sampai sembilu lenyap ke dalam rindu
dan biarkan aku menjadi orang terakhir yang menyeka luh-mu itu
Demi luas laut tempat Tuhan merawat ombak dan gelombang
aku menempuh samudra ke arahmu dengan layar terpasang
dan di antara kita ada riwayat yang musti senantiasa kuingat
sebab melupakanmu sesaat adalah keperihan hakekat
***
Fosforisma
I
Semula huruf itu bermetafor serupa pendar fosfor
manakala atmosfer memercikkan nyala meteor
sebab mereka tahu bahwa dirinya perlu menjadi kata
yang mampu beri penghayatan murni kepada Cinta
II
Dan kata mulanya adalah satu titik yang, lalu berbiak
jika mata pena beranjak bergerak menuju jarak
mungkin berulangkali akan jadi bahasa
atau jadi majas tempat bersuara sintaksis-frasa
III
Lalu kepada kakawin, mereka mendamba masuk ke dalam batin
melingkar bagai cincin, serutin auksin menumbuhkan beringin
Asal kau tahu, rahasia itu lebih luas ketimbang kesepian
lebih gaib tinimbang kebangkitan nisan, lebih bebas dari hujan
IV
Barangkali setiap yang tertera di dalam diri mereka,
merindukan sentuhan lembut sang asmaraloka
setelah sekian lama cuma bertapa di gulita gua;
menjadi tanda baca bagi rima dan hiperbola
V
Hati adalah tempat terbaik bagi kehadiran diri
meresap ke segenap yang sunyi,
dari zaman paling purba mereka khusuk samadi
menghampar dalam sunya-ruri
VI
kadang mereka menghayalkan berbaring dalam kamus
dimana sebagian dirinya tak tertampung oleh hukum-rumus
agar seorang penyair bebas menafsir secara utuh
merubah yang rubuh dari punah ke penuh
VII
mungkin mereka mengharap lesap ke dalam hening
menjelang ke ruang kenang, sesantun embun bening
menghasratkan lidah penyair melepas sebuah nama
tentang puisi yang tak usai diurai pada cinta pertama
VIII
Dan seluruh kata akan kembali kepada cinta
setelah mengembara dari fana ke baka
sebagian mengendap lalu ambyar sewaktu kala
menunggu sampai semesta tak berdaya
IX
Inilah Sembilan bait puisi yang ditulis penyair kampungan
sebuah perjalanan dari kenangan menuju harapan
sembari nyeduh kopi dan nyesep samsu dengan pipa stigi
huruf-huruf itu dikutuk menjadi puisi
***
Titah Cinta
Cinta menitahkan aku jadi kata
untuk menyampaikan kau sebagai rahasia
meski tak kutahu kalimat apa yang pantas mewakili
tapi hanya kepada kau aku rela menggigil dalam puisi:
aku buku yang tak mau menerima apaapa selain namamu
setiap hura jadi haru, ketika hariku kosong tanpa hurufmu
aku waktu yang berdetik siasia kecuali kau bisa peka
seluruh laku jadi luka, bila kausua aku penuh prasangka
aku lilin yang melumer andai kau memintaku menghalau gelap
mengabdi kepada api, membayang sekejap lalu penyap
aku arwah yang melayang misalkan kau mengusirku dari tubuhmu
sepi jadi tempat menunggu, sejak kau membiarkanku digendam rindu
aku kemarau yang selalu mengerang selagi kau segan jadi hujan
membisikkan harap kepada awan, memanggilmu dengan sisa getaran
: Kekhawatiran menjadi puncak dari zikirku
pemuja yang tak jemu menunduk di hadapanmu
jangan lagi kau tuntut aku termangu mengawasi parasmu
aku tak mahir menafsir senyum yang menggelincir di bibirmu
Tenanglah, sehening ruang tanpa gema
akan kuresapkan cahaya ke dalam pena
demi kau bisa kutulis sebagai cinta seutuhnya
agar kelak bisa dibaca seusai masa kita
-Usman Arrumy.
Semua puisi ini karya beliau. Semoga kalian suka, dan semoga membantu kalian yang lagi butuh referensi bacaan puisi. Wk-wk
Jangan lupa tekan love!