Dulu setiap sore dermaga tidak pernah sepi. Banyak kapal yang singgah dan pergi, sanak-saudara yang melepas keluarga atau sebaliknya. Ata selalu datang bersama teman kecilnya. Bukan untuk berlayar atau meninggalkan dermaga. Hanya singgah untuk melihat kepergian sang surya yang maha agung keindahannya. Menatap semburat jingga di angkasa yang selalu saja menawan. Saat ini, pun, Ata tengah melakukan hal yang serupa. Melepas kepergian benda langit yang menjadi bagian dari namanya. Menikmati senja bersama Senja yang tidak pernah meninggalkan dirinya. Duduk menggantungkan kaki di atas gedung pencakar langit, seolah ingin lebih dekat dengan awan. Menyentuhnya bagai permen kapas. Lama keduanya dibebat kesunyian kata, Senja mencolek lengan Ata. "Aku mau tanya." Ata menoleh sekilas, lalu berbalik

