Gadis berambut panjang sepunggung masih termangu di bibir dermaga. Matanya nanar menatap lurus ke depan. Hamparan laut membentang seluas harapan yang selalu ia genggam. Dalam genggaman kelima jari yang tak lagi mungil itu masih sama, sebuah pita jingga tergenggam erat sekencang keinginannya untuk melepas rindu. Sejak fajar menyingsing ia bertahan meski ketakutan. Hingga senja menyapa, Ata tetap di sana. Bertahun-tahun dan terus berulang hingga Ata merasa bahwa sudah seharusnya ia berhenti. Toh, kini ia tak lagi sendiri. Ada Senja baru yang setia menemani dan tak pernah pergi meski malam mulai menelan tawanya. Saat itu juga Ata paham bahwa di dunia ini, tak seorang pun mengharapkannya kembali. Entah itu Lembayung Senja yang selalu berjanji untuk menemaninya, juga ayah yang tak pernah melih

