Tidak banyak yang bisa Sherin lakukan, perempuan itu berbaring di atas kasur dengan air mata yang menganak sungai. Rambut yang tadinya yang basah pun perlahan mengering sendiri terserap oleh alas bantal yang di timpanya. Rasa sesal mengurung dirinya dalam kesendirian, sendiri di sebuah kamar mewah dengan fasilitas lengkap. Setelah melakukan permainan kasarnya, Adrian memilih untuk pergi tanpa mengucap sepatah kata pun pada Sherin, jangan kan berterima kasih dan mengecup Sherin seperti biasanya, meminta maaf pun tidak. Sherin membawa tubuhnya bersandar di kepala ranjang sambil menutupi tubuh polosnya degan selimut. Kedua kakinya meringkuk ke atas untuk menjadi tumpuan kepalanya. Sambil menarik kasar rambutnya, Sherin tertawa getir, air matanya tetap mengalir membiarkan pipi mulusnya ba

