Setelah menyelesaikan semester di Akademi Universitas.Akhirnya hari yang di nanti Silva dan keluarga datang juga.Hari dimana Silva di Wisuda atas hasil pendidikannya selama ini.
Pagi itu Silva bersiap mengenakan Kebaya putih dan bawahan batik,sangat serasi dan terlihat anggun.
Sedangkan keluarganya memakai baju batik.
Silva berangkat terlebih dahulu bersama Rama,sedangkan orang tuanya menyusul karena harus menunggu kedatangan Salsa dan Arman.
Sesampainya di Universitas,setelah menunggu beberapa jam akhirnya Silva di panggil ke atas podium.Acara siang itu berlangsung sangat khidmat.
Usai Acara Wisuda Semua keluarga mengucapkan selamat atas prestasi yang dicapai Silva.Disana juga hadir Rara dan tentu saja kekasih tercinta Silva yaitu Nakula.Selesai sesi pemotretan mereka makan bersama di restoran milik Sinta.
Sinta senang kedatangan keluarga Rama.Namun tidak untuk Rara,sebenarnya Rara dan Sinta dulunya berteman dekat.Namun karena Sinta sering menasehati Rara.Rara merasa kalau Sinta terlalu banyak ikut campur dengan urusan nya maka Rara memutuskan persahabatan itu dan Sinta menyimpan banyak Rahasia tentang Rara.Membuat Rara semakin membenci Sinta.
Ketika keluarga Silva sedang sibuk makan dan bercanda.Rara mendekati Sinta, menariknya ke sudut ruangan yang Sepi.Silva melihat perlakuan Rara mengikutinya diam-diam.
"Sin..selama ini lu gak cerita tentang masa lalu gue kan ke Rama.?"tanya Rara setelah mereka berdua ada di ruangan yang sepi
"Ra lebih baik kamu jujur aja,Rama itu pria yang baik dia pasti ngerti keadaan kamu kok.."jawab Sinta menasehati
"Lu pikir ada pria yang mau nikahin orang yang udah punya anak.Apalagi Mas Rama itu masih bujang pengusaha sukses,kalau sampai dia tau gue punya anak batal rencana gue..!"
"Daripada kamu sembunyikan, lama-lama dia pasti akan tau juga Ra.Rama itu benci sama orang yang pembohong.Dia lebih suka dengan orang jujur sepahit apapun kenyataannya kalau dia tau dari awal bukankah itu lebih baik.?"
"Lu siapa sok tau tentang Rama..?! Jangan-jangan lu nyimpen rasa pada Rama.?!"Rara mendekatkan wajahnya pada Sinta sambil memasang wajah sinisnya
"Jangan salah paham,aku sudah lama mengenal Rama Ra,jadi aku tau sifat Rama seperti apa.."
"Udah deh lu ngaku,lu suka kan sama Rama..?!!"
"Ya..memang kenapa kalau aku suka padanya,apa itu salah.?"
"Salah nona Sinta yang cantik,Rama hanya tercipta untukku.Jadi kau jangan macam-macam ngerti.?!"Rara menjambak rambut Sinta,Sinta menahan rasa sakit dan berusaha melepas tangan Rara.
"Rama pembisnis dan pengusaha yang terkenal aku gak akan melepasnya begitu saja.?!!"lanjutnya
"ekh... "Sinta menghempaskan tangan Rara lalu berkata"Yang kau tau tentang Rama hanya Hartanya saja bukan,tapi kau tak tau siapa dia yang sebenarnya.?"
Tak sengaja Silva menjatuhkan fas bunga yang ada di meja,sebelum mereka berdua mengetahui keberadaannya dia cepat-cepat kembali duduk di kursi bersama keluarganya.
Mendengar ada yang jatuh Rara dan Sinta mendekati sumber suara itu.Ketika tak ditemui siapapun mereka akhirnya kembali ke aktivitas masing-masing.
Waktu cepat berlalu,keluarga Silva berpamitan pada Ayah Sinta dan juga pada Sinta sebelum mereka meninggal kan restoran.
Sepanjang jalan Silva terus memikirkan tentang apa yang dibicarakan Rara dan Sinta Tadi.
"Yang..sekarang kita pulang atau mau kemana lagi.?"tanya Nakula yang memang satu mobil,namun tak ada jawaban dari Silva.
"Hei....sayang...!!"teriak Nakula"kenapa bengong.?"
"Apaan sich...Gak ada kok.?"
"Di ajak bicara dari tadi cuma diam,ada apa,mikirin cowok baru ya...?"goda Nakula sambil tertawa kecil
"Ya..cari cowok yang gak bawel kayak kamu.!"jawab Silva sewot
"Malah marah.."Nakula semakin menggoda kekasihnya
"Yang tadi gak sengaja aku dengar Rara mengancam mbak Sinta."
"Mengancam?"tanya Nakula memperjelas
"Ya sepertinya ada rahasia besar yang di sembunyikan Rara dari kak Rama.Dari awal aku memang curiga pada perempuan itu."
"Jangan buruk sangka,setiap kali kita ikuti Rara gak ada hal yang mencurigakan,dia perempuan seperti pada umumnya.Sebentar lagi Bang Rama dan Rara akan menikah jangan bikin kegaduhan,tanggung sendiri akibatnya."
"Tapi emang benar Rara itu bukan perempuan baik.!"
"Udah...gak usah bahas Rara,yang dua hari lagi aku ada undangan untuk mengisi acara di luar kota,menurut kamu gimana yang.Aku terima gak ya..?"
Silva memegang tangan Nakula
"Ya kalau emang itu penting kenapa gak pergi,itukan udah jadi hobi dan kerjaan kamu.Kasihan yang lain kan kalau kamu gak ikut.?"
"Tapi ini seminggu yang,aku gak mau jauh dari kamu.Gimana kalau aku kangen cubitan kamu."kata Nakula merengek seperti anak kecil yang akan dipisahkan dari ibunya.
"Manja ya pacar aku ini,sekarang kan udah modern.kita bisa video call tiap Waktu kan.?"Silva mencubit hidung Nakula karena gemes
"Augh...sakit yang,!?seminggu lagi ultah aku yang,masak aku ngerayain tanpa kamu,hampa dong."
"Gimana tepat di hari Ultah kamu,aku nyusul kesana.?"
"Beneran...makasih sayang,kamu emang pacar terbaik aku.Makin Cinta deh..?!"Nakula kegirangan mendengar janji Silva seperti anak kecil yang baru di belikan mainan.
Setelah beberapa jam mereka di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Silva.Mereka masuk dan mengadakan syukuran untuk Silva.
Acara berlangsung meriah,bahkan keluarga Nakula hadir di acara itu.Memberikan ucapan selamat untuk calon menantu mereka.Malam berlarut acarapun di akhiri.