Silva berlari terus berlari,namun dia tak tau harus kemana di mencari Nakula dan yang lainnya.Dia berhenti melihat di sekitarnya hanya ada lahan kosong.Melihat ke arah tangan kirinya,jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB.Berjalan berlahan,perutnya terasa lapar tenggorokan terasa kering,napaspun tersengal-sengal.Dia melihat kedai kopi di depan,dengan mempercepat langkah dia menuju kedai.Terlihat ada seorang laki-laki duduk sambil menikmati sebatang rokok.
Sadar akan kehadiranku,dia berdiri menghpiriku.Kini dia berdiri tegak,badannya kekar,wajahnya garam apalagi di tambah kumis tebal.
"Kenapa.."tegurnya
"Pak tolong saya..?"pintaku
"Tolong.."sahutnya
Awalnya aku takut,ragu menceritakan apa yang sedang aku alami.Tapi apa boleh buat kasihan kan kak Rama disana.
"Duduklah...kelihatannya kau lelah"sambil mengambilkan kursi.
Aku menuruti laki-laki itu.Dia masuk mengambil sebungkus roti dan sebotol air mineral.
"Minum dulu baru kau ceritakan,apa yang terjadi padamu?"
aku menerima air itu,namun tak langsung meminumnya.
"Jangan khawatir minuman itu masih di segel,gak ada racunnya"
Aku membuka minuman yang ku pegang ,meneguk dengan cepat.Memang terasa kering dari tadi.
Setelahmeneguk air Silva menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Siapa nama kakakmu ..?"tanya pria itu padaku
"Rama...Rama Aditya,apakah paman mengenalnya ?"
"Siapa yang tidak mengenal Rama Aditya.?"
"Istirahat dan makanlah kau pasti juga lapar."lalu pergi keluar meninggalkan aku sendiri di dalam.
Dari dalam aku mendengar sayur-sayur dia sedang menelepon seseorang.sebenarnya aku takut dan was-was jangan-jangan orang ini adalah orang jahat.Selesai menelepon dia duduk di luar sembari mengawasiku.
RAMA POV
Setelah melihat Silva lari ia melawan semua pr###n itu sendirian.Tiba-tiba ada yang melukai dari belakang menggunakan senjata tajam,dia luka pada kaki dan punggungnya hingga dia terjatuh, merasakan sakit amarahnya semakin memuncak. berusaha melumpuhkan semua pr##an yang ada di sana. 4 orang memegangi tubuh Rama ,satu lagi ingin melukai di bagian perut Rama.
Rama yang sudah merasa kalah kini dia hanya pasrah tapi sebelum pr###an itu melukai Rama,Nakula dan kawan-kawan datang menghajar semua pr###n.Kini Rama bernafas dengan lega.
"Maaf Bang kami baru datang, apa yang terjadi sebenarnya.?"tanya Nakula sembari memapah ku.
"Dimana Silva,Bang ...?!"lanjut tanyanya dengan rasa cemas
"Aku tidak tahu dia tadi lari mencari bantuan, aku kira dia sudah ada bersamamu.?"jawabku
Terdengar suara panggilan dari handphoneku yang tergeletak di tanah. segera aku mengambilnya, itu panggilan dari Paman Niko orang yang pernah aku bantu sebulan yang lalu.
Dia memberitahukan kalau Silva kini ada bersamanya, lega rasanya mendengar Silva dalam keadaan baik-baik saja.
Segera aku berlari ke arah tempat Paman Niko. Aku tak merasakan sakit di kakiku,dalam pikiranku hanya,aku harus cepat bertemu Silva.Padahal d###h terus keluar dari luka yang ada di kaki dan lenganku.
Sesampai di kedai Paman Niko aku berjalan perlahan,disana aku lihat paman Nikoduduk di luar.Melihat kehadiran dia langsung menyuruhku masuk ke dalam.
Di dalam kedai Silva sedang duduk, menyadari kehadiranku dia langsung lari kearahku memelukku dengan erat.
"Kamu nggak apa-apa kan dek, maafin kakak ya..?"tanyaku menghawatirkan keadaannya.
"Maafin kakak ya..?"
Silva hanya mengangguk,memelukku lagi sambil menangis.
"Kak Rama terluka ...?"tanyanya dengan cemas.
"Aku nggak apa-apa dek, ini hanya luka kecil."jawabku menyakinkan Silva.
Entah kenapa tiba-tiba,kepalaku berkunang-kunang,mataku berat,lalu aku tak sadarkan diri.
Melihat keadaan kakaknya yang tak sadarkan diri kecemasan Silva bertambah,dia memanggil manggil berulang kali namun,Rama tetap tak sadarkan diri.Tak lama kemudian Nakula datang bersama temannya.Melihat Silva menangis dia langsung merangkulnya.
Membimbingnya masuk kedalam mobil.
Sedangkan Rama dibawa Riko,Dani dan eksan masuk kedalam mobil yang berbeda.Rama dibawa ke rumah sakit,karena banyak kehilangan darah.
Silva terus menangis di dalam mobil. Devan lalu memberikan sebotol minuman kepada Nakula untuk diberikan kepada Silva.Beberap menit kemudian dia tak sadarkan diri,di dalam minuman tadi telah diberi obat tidur.
"_##_##_"
Rama POV
Kubuka mataku kurasakan tubuhku terasa sakit.Kuangkat tanganku ada jarum infus yang menusuk di lengan tangan, aku mencoba untuk bangun namun badan ini terasa berat.Kubuka selimut yang menutupi kakiku ternyata kakiku dibalut perban.Kulihat di ujung sofa ada Ibu yang duduk sambil membaja majalah.
"Separah inikah lukaku .?"gumamku dalam hati
Mendengar desahan ku ibu yang ada di sudut Sofa berjalan menghampiriku.
"Dimana sekarang Silva,Bu.?"tanyaku dengan rasa cemas.
"Silva di rumah dalam keadaan baik.Tadi malam Devan dan Nakula mengantarnya pulang ke rumah."
"Syukurlah .."jawab ku lega
"Bu...maafkan aku ya?!aku nggak bisa jagain Silva seharusnya Silva bahagia dengan liburannya,yang terjadi Dia malah meneteskan air mata ketakutan."
"Andai aku tak punya m###h mungkin Silva gak akan pernah merasa ketakutan seperti ini."
"Sudah lah nak,Yang terjadi bukanlah salah kamu, kamu sudah berusaha menjaga adikmu dengan baik.Ibu selalu bangga padamu Rama. dari dulu kau selalu membuat Silva tersenyum."hibur ibu padaku."Walau Seva sangat membencimu kau tetap menyayanginya."
"Sudah kewajiban seorang kakak kan membahagiakan adiknya."
"Kamu istirahat ya Ibu akan panggilkan dokter.."melangkah keluar ruangan.
Silva POV
Mentari pagi menyinari ruangan kamarku.Kucoba mengangkat badan ini tapi terasa sakit,kepala terasa pusing.
Ku coba mengingat yang terjadi semalam.Aku melangkah ke kamar mandi, membersihkan badan agar terasa segar,memakai baju.Lalu aku turun menuju meja makan. Kulihat kak salsa sedang menyiapkan sarapan pagi.Kupeluk erat tubuhnya.
"Kak salsa kapan datang?"
"Tadi malam Ibu menelepon kakak,mas Riko langsung mengantarku ke sini."
"Sekarang kak Rico nya mana kak.?"
"Dia pulang tadi subuh karena anak-anak kan harus sekolah."jawabnya sambil memberikan sarapan padaku.
Sibuk aku bercerita dengan kak Salsa, terdengar ada seseorang yang datang menuju ke tempat kami.
"Selamat pagi semua,gimana keadaan mu yang..?"Tegur Nakula baru datang.
"Aku baik,tapi kepalaku masih sedikit pusing."jawabku dengan nada manja
"Mungkin karena pengaruh obat tidur terlalu banyak devan mencampur ke dalam minumanmu semalam."jelas Nakula tersenyum
"Apa...?!! Tega ya kamu yang ngasih aku obat tidur,kalau aku tidur selamanya gimana..?!"tanyaku sambil mencubit hidung mancungnya itu.
"Ya gak papa aku cari Silva yang lain donk.."Godanya
melihat kami ribut kak Salsa hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Yang pagi ini aku mau ke rumah sakit menjenguk kak Rama kau mau ikut.?"
"Ikut dong.."
"Habiskan dulu sarapan kalian.!"pinta kak Salsa
Selesai makan, kita berangkat menuju rumah sakit.Di dalam mobil dari tadi kita hanya terdiam.
"Yang.. maaf ya kemarin aku datang terlambat.?"
"Enggak kok kamu datang tepat waktu, akunya aja yang nggak tahu arah."
"Aku heran deh kenapa ya orang itu tiba-tiba mendorong kak Rama.?"
"Karena mereka menginginkan Bang Rama c####a."
"Maksud kamu apa ..?"
"Bang Rama itu kan kuat dia itu pembisnis yang hebat wajar dong di dalam bisnis kita saling menjatuhkan dan m######ai."
"Emangnya kak Rama itu kerja di bidang apa sih.?"
"Kau ini kan adiknya masak gak tahu..sayang..?"ejeknya sambil berantakin rambut aku.
"Apaan ... sichhh...!"Cerita donk tentang kak Rama.Pleace...!!"
"Napa kamu lagi jatuh cinta ya sama Abang kamu..?"goda Nakula sambil ketawa mengejek.
Aku hanya manyun melihat tingkah Pacarku ini.
"Selama ini aku tak begitu memperhatikan kak Rama.Aku selalu cuek padanya, setelah kejadian kemarin aku merasa takut kehilangan dia."jelasku dengan raut wajah menyesal.
"Innovel Writing Contest_Cahyani@169"