Rafael PoV
Aku bergegas turun dari mobil yang kuparkir di basement apartement Sinta. Berbekal secarik kertas, aku berjalan menuju seorang satpam untuk meminta petunjuk yang pas agar aku sampai di apartemen Sinta, sesegera mungkin.
Lantai empat, nomor ruangan 432. Dengan cepat aku telah menemukannya. Aku merasa bagai orang sakit jiwa, aku merasakan sangat merindukan perempuan yang seharusnya aku hormati dan hargai. Ah, sudahlah karena nyatanya aku tak mampu mengendalikan dan membendung perasaanku padanya. Kupencet tombol bel apartemen Sinta.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tak ada jawaban sama sekali. Aku bingung, kemana Sinta? Apa tidak ada di dalam?
“Maaf, Pak? Mencari Bu Sinta?” seorang office boy tiba-tiba mengagetkanku. Aku mengangguk spontan.
“Mas tahu Sinta?” Office boy itu mengangguk.
“Sudah sejak Sabtu kemari, belum ada kelihatan lewat, Pak. Padahal biasanya Bu Sinta tak pernah kemana-mana.”
“Baik, terima kasih.” jawabku sambil berlalu perlahan dari depan apartemen nomor 432.
Pikiranku berkecamuk bermacam dugaan. Kemana Sinta setelah dia meninggalkan aku malam itu? Ke kantor tak ada, ke apartemen juga tak ada. Kemana perempuanku itu?
Aku tersenyum miris. Bagaimana mungkin aku mengklaim bahwa dia perempuanku, sementara dia bahkan seperti menghindariku! Kuusap kasar wajahku yang terasa panas. Aku harus mencarinya. Kemana pun dia pergi, aku harus menemukannya!
Seketika, aku ingat seseorang. Eyang! Ya, aku harus mencoba mencarinya ke rumah Eyang. Siapa tahu dia pulang ke rumah. Kupercepat langkahku dan bergegas menuju mobilku di basement. Semua dugaan dan kemungkinan, harus terus aku coba, untuk menemukannya.
-0-
Rumah kediaman Asmawirdja terlihat lengang sebagaimana biasanya. Tak tampak kegiatan berarti di sana. Hanya seorang tukang kebun terlihat menyiangi rumput di halaman rumah. Rumah Eyang, selalu terasa asri, terlihat rapihnya tanaman tersusun dan terawat di sini.
Di teras rumah, seorang perempuan yang terlihat segar meski umurnya tak lagi muda, sedang duduk di kursi malasnya. Ia sedang santai membaca sebuah buku yang sepertinya berisi resep masakan.
Mobilku, berhenti tepat di depan teras. Eyang Asmawirdja lantas meletakkan buku tersebut sambil melihat mobil ke arah mobilku, menunggu siapa yang datang pagi ini. Aku mendekat dan meraih tangan Eyang, lalu kucium punggung tangan Eyang Putri dengan takzim.
“Selamat pagi, Eyang!” sapaku, dengan raut berusaha tidak ada yang terjadi antara aku dengan anaknya, Tante Sinta.
Eyang Asmawirdja tersenyum sambil mengusap lembut kepala Raf, cucu pertamanya itu.
“Angin apa yang membawamu sepagi ini datang, Raf? nggak ke kantor?” tanya Eyang sambil membetulkan posisi kacamata di hidungnya. Aku tersenyum saja.
“Sedang kangen dengan Eyang, bosan di kantor,” jawabku sambil tertawa santai. Aku berusaha mengatur pikiran dan hatiku, Sinta belum terlihat batang hidungnya di rumah ini.
“Kamu ini, kerja kok bosan. Contohlah tantemu itu, selama bekerja dia tak pernah sekalipun mangkir. Itulah sebabnya atasannya begitu baik dan mempertahankan Sinta.” Eyang tersenyum bangga dengan gadisnya yang mandiri dan cerdas itu.
Spontan, aku terhenyak. Selama bekerja Sinta tak pernah mangkir? Dan hari ini dia mangkir? Tentu bukan tanpa sebab, karena jelas bahwa AKU penyebabnya.
“Raf? Kok diam?” Eyang mengagetkanku, membuyarkan sedikit segala pertanyaan tentang Sinta. Aku mengatur napasku, dan mulai bertanya.
“Dimana sekarang tante Sinta, Eyang?”
Eyang Asma menatap sedikit bingung.
“Kamu ini aneh. Sinta ya jelas sedang bekerja dan jika pulang, itupun juga ke apartemennya,” jawab Eyang Asma dengan senyum tipisnya.
Jawaban Eyang membuatku tercengang. Berarti jelas, Sinta tak akan ditemukan di sini, saat ini. Lalu kemana? Sinta benar-benar membuatku terus memutar otak untuk mencari jawaban.
“Apa dia belum berkunjung lagi sejak kami ketemu bulan lalu, Eyang?”
Eyang Asma menggeleng.
-0-
Sejak pertemuan mereka bulan lalu, Sinta memang belum pulang ke rumah. Hari itu, memang Raf menunda untuk mengantar Sinta berangkat ke kantor, meski dia telah menghalangi Rama menjemput Sinta. Karena tiba-tiba ibunya meminta Raf untuk segera pulang ke rumah. Hari itu, Raf ingin diperkenalkan dengan kolega ayahnya. Tentu Raf tidak bisa menolak permintaan orangtuanya. Ia sudah lama berjauhan dari kedua orangtuanya dan permintaan ayahnya hanyalah permintaan sederhana. Ia merelakan kehilangan kesempatan untuk mengantar Sinta pergi bekerja saat itu.
Raf terseret arus pikirannya sendiri. Memikirkan, kemana perempuan itu membawa dirinya? Sebegitu sakitkah? Raf bertanya dalam hati, dan tentu saja dia tak mendapatkan jawabannya, karena dia bukan berada di pihak Sinta.
-0-
Sinta PoV
Pikiranku bagai benang kusut. Tak ada yang bisa kuuraikan atas apa yang kurasakan. Semenjak malam j*****m itu, duniaku berubah kelam! Tak bisa lagi kurasakan cerahnya sinar pagi, sejuknya udara di bumi. Matahari yang bersinar cemerlang seperti jarum neraka yang semakin kejam mengejek nasibku. Dan siapapun tak akan pernah tahu, bagaimana perasaanku.
Bisakah kau bayangkan, langkah apa yang sekiranya pantas untuk aku tempuh? Mengadukan kejadian memalukan itu pada Ibu? Atau bahkan pada Mas Restu?
Tidak! Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri, mereka, Mas Restu dan istrinya, yang entah mengapa tak menyukai aku. Mereka hanya akan mengejekku, bisa jadi, menghina aku yang tak lagi suci. Pasti mereka akan mengira bahwa aku yang menggoda anaknya, sehingga kami berakhir di villa anggrek. Karena mereka pasti mengira bahwa aku adalah perawan tua yang tak laku karena terlalu kuno dalam berprinsip.
Dan bagaimana dengan perasaan Ibu?
Ya, Tuhaaannn.....
Aku tak sanggup membayangkan wajah tua beliau harus berlinang air mata mendengar penuturanku. Tidak, Aku tak akan membuat Ibu menangis, apalagi karena aku. Cukup sudah selama ini ia memberiku banyak limpahan kasih sayang, dan aku tak akan membalasnya dengan air mata. Tidak akan pernah.
Tak dapat kubayangkan, ketika beliau bahkan tak akan mempercayai, karena Raf, laki-laki yang kini begitu b******n itu, adalah cucu kesayangan keluarga kami. Harus ke belahan bumi mana lagi aku sembunyi?
Kulirik Anis yang sedang serius dengan novel terjemahannya, Anis kerap mengeluh dan berkata ia sedang dikejar deadline. Aku menatapnya penuh rasa iri. Aku iri dengan kesederhanaan hidupnya. Meski pekerjaannya hanya sebagai seorang editor dan kadang menerjemahkan novel, tapi hidupnya bahagia. Ia memiliki kekasih yang sangat baik dan pengertian.
Seorang kekasih? Bukankah aku pun memiliki kekasih? Rama Estu Pramudya, lelaki yang telah kupacari beberapa tahun lalu, yang usianya senjang lima tahun di bawahku. Ia sangat baik dan sangat menyayangi aku. Tak sekalipun dia berbuat hal yang membuatku sedih, atau malu. Pernah beberapa kali dia menggodaku untuk check in di hotel, tapi aku punya pendirian. Dan itu bukan sebuah kencan murahan, yang untungnya Rama menyanggupi keteguhanku. Rama, bisa menjaga harga diri dan kehormatanku.
Kekasihku Rama, tak hanya tampan, tapi ia tulus mencintaiku. Rama demikian bijak dan dewasa meski usianya jauh di bawahku - dengan setia menuruti semua prinsipku yang dianggap banyak orang itu ajaran kuno! Aku berjanji untuk tidak melanggar batas norma sebelum kami resmi mengantongi restu dan menikah suatu hari nanti.
Rama menggantung dalam pikiranku. Sepertinya, aku harus membuat keputusan besar, menjauhi lelaki yang kucintai. Aku sangat tahu diri dengan kondisiku sekarang ini. Dia sungguh sempurna di mataku, tak akan pantas bersanding dengan diriku yang sekarang kotor, bahkan nyaris tak punya muka meski hanya sekedar menatap ke depan. Lembab mulai terasa kembali dari ujung mataku, ada sesak yang membumbung di dadaku. Aku tak bisa menjajikan hal indah untuk Rama. Aku, harus segera menyudahi segalanya, cintanyaku dan cintanya padaku. Ya, aku telah memutuskan untuk berpisah dari Rama.
Kucari ponselku yang seminggu ini telah kuabaikan, hingga habis daya baterainya. Aku ingin merenung dan berpikir tentang langkah yang harus aku tempuh. Begitu ponselku menyala kembali, ratusan notifikasi menyerbu. Beberapa teman telah mengirimkan sms, chat di beberapa jalur online, bahkan email. Dan aku jelas tak punya waktu untuk membaca semuanya, mungkin suatu saat nanti aku perlu membacanya.
Tapi aku yakin, aku akan menghubungi seseorang. Dan itu adalah Rama. Ya, aku harus bertemu dengannya, secepat mungkin. Kudial nomor telepon yang bahkan kuhapal di luar kepala.
Tttuuuttt .... ttuuutt ... ttuuutt ....
Hatiku berdebar ... Sangat!
-0-
Rama PoV
Hatiku sore ini, terasa sangat bahagia. Sinta yang seminggu ini seperti menghilang tanpa kabar, tiba-tiba saja menelepon dan mengajak bertemu di taman kota. Taman kota? Hei, seharusnya tak di taman kota mengingat dia adalah perempuan dinamis yang tak menyukai segala sesuatu yang bersifat menye-menye seperti ini. Tapi biarlah, mungkin dia ingin sesuatu yang lain, selain kantornya dan juga kafe tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. Berkencan elegan, kata Sinta, dan aku setuju dengan ungkapannya kali ini.
Sinta tak akan pernah mau jika menghabiskan kencan kami di tempat – tempat tidak sewajarnya sepasang kekasih, seperti hotel misalnya. Aku bahkan ingin tertawa setiap kali menggodanya untuk mampir ke hotel dan menginap, dia selalu mengancam untuk memutuskan hubungan. Ini yang membuatku semakin jatuh cinta padanya, bahkan setiap hari. Ia bagai berlian bercahaya bagiku.
Aku sangat mencintainya, walau Mama menentang hubungan kami, tapi aku selalu meyakinkan Sinta bahwa aku sangat dan selalu mencintainya. Tentu sambil meyakinkan Mama, bahwa aku tak akan salah memilih Sinta, diantara beberapa perempuan yang telah disodorkan Mama akhir-akhir ini.
Yang masih kuingat, ada Mila yang model, anak teman arisan Mama. Lalu Dena, mahasiswi kedokteran anak tante Rahma, sepupu Papa. Masih ada beberapa perempuan yang di bawa Mama ke rumah, dengan berbagai alasan. Intinya, Mama ingin mendekatkan aku dengan salah satu dari mereka. Tapi sungguh, meski ada diantaranya yang cantiknya melebihi Sinta, tapi tak mampu membuat darahku berdesir halus seperti ketika aku dekat dengan Sinta.
Sinta, perempuan berparas ayu namun terlihat elegan dan cerdas itu, telah membuatku tak menginginkan perempuan lain. Karena nyatanya, aku hanya menginginkan dia untuk menemaniku setiap saat, menghabiskan masa tua bersama, dan.. akh, aku terlalu banyak berangan-angan dengan hadirnya, sampai lupa, bahwa aku hanya punya waktu satu jam ke depan untuk bersiap ketemu dengannya. Sungguh, aku sangat merindukan perempuanku, Sinta.
Kulirik Seiko yang bertengger gagah di pergelangan tanganku. Aku tersenyum, ini kado ulang tahun kami jadi sepasang kekasih yang berniat baik untuk bersama selamanya, darinya, Sintaku. Setengah jam lagi aku harus sampai di taman kota, tempat yang dijanjikan Sinta untuk menemuiku. Untuk melepaskan kerinduanku yang membuncah meski baru seminggu.
Tapi, kenapa di sudut hatiku yang lain ada perasaan tak nyaman? Ada rasa was-was yang menghantui langkahku menuju ke taman kota, sore ini. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi dan kualami? Apapun itu, semoga tidak ada hubungannya dengan kami, aku dan Sinta.
-0-
Di taman kota, sore ini...
Terlihat seorang perempuan yang meski cantik tapi rautnya sedikit mendung. Dia terlihat lebih banyak melamun dari setengah jam yang lalu, sejak ia datang. Ada banyak hal berkecamuk di pikirannya, semuanya membutuhkan solusi. Dia, Sinta.
Dengan gelisah, dia menengok ke arah pergelangan tangannya. Sejenak hatinya terasa nyeri membayangkan apa yang akan dirasakannya setelah ini usai. Tapi perempuan itu telah membulatkan hati dengan keputusannya. Apapun konsekuensinya, dia bahkan sangat siap. Dia hendak melihat kembali pergelangan tangannya ketika tiba-tiba sentuhan lembut menyapa tangannya. Sinta mendongak, dan debaran di hatinya semakin menggila.
“Hei, Sayang?! Apa kabar?” tanya si empunya tangan, Rama. Sinta menyambut dengan senyuman gugup.
“Hei, Ram, “ Sinta balik menyapa dengan suara serak, sekuat tenaga mencoba menahan air mata yang hendak membuncah keluar.
Rama yang disapa kemudian duduk di sampingnya, sambil masih menggenggam jemari Sinta.
“Kemana saja seminggu ini, Sin? Kamu tahu aku kangen banget nggak ketemu kamu! Apa kamu nggak kangen sama aku?” tanya Rama dengan suara lirih dan lembut. Sinta tersenyum sedikit muram.
“Maaf, Ram. Aku.. aku ada acara keluar kota kemarin. Sedikit sibuk, jadi, jadi nggak sempet ngasih kabar ke kamu..” Sinta mencoba sebisa mungkin menutupi kebohongan yang baru saja dia ciptakan.
Rama tersenyum.
“Tak apa, yang penting kamu baik-baik saja.”
Sinta ikut tersenyum meski terlihat hambar dan kikuk.
“Kok tumben kamu ngajak ketemuannya di taman kota, Sin? Nggak kamu banget sih!” Rama mencoba mencairkan suasana yang dirasanya sedikit kaku.
“Ram, aku minta maaf. Tapi, aku ingin, kita..” tenggorokan Sinta terasa tercekat. Ia menelan ludah dan menarik napas tuk dihembuskan kembali agar bisa melanjutkan ucapannya, “Ram, aku ingin kita putus.” Akhirnya permintaan itu terlontar dari bibir manis Sinta.
Ia sudah berterus terang meski dengan terbata dan air mata yang nyaris runtuh. Rama yang sedari tadi menggenggam tangan Sinta, sontak melepaskannya karena rasa terkejut yang begitu tajam.
“Sin? Kamu kalau becanda kira-kira, dong,” Rama berusaha tertawa dengan ungkapan Sinta yang dirasanya hanya sebuah lelucon. Sinta menggeleng.
“Aku serius, Ram!” jawaban Sinta spontan membuat tawa Rama terhenti. Ditatapnya perempuan yang seminggu ini dirindukannya, tapi sayangnya sekarang sedang menghunus pedang untuk membunuh cintanya.
“Tapi kenapa? Apa aku ada berbuat salah sama kamu?” Rama bertanya dengan penekanan yang tajam pada suaranya. Hatinya bergolak penuh emosi. Sinta menggeleng. Tangisnya nyaris membuncah, namun ia berusaha menahan sekuat ia mampu.
“Sin, Kamu punya laki-laki lain?” tanya Rama tandas, membuat Sinta mendongak dengan rasa sakit di hati yang demikian tajam.
“Kamu tahu aku bukan perempuan seperti itu, Ram!” jawab Sinta dengan suara yang ditekan tandas, menahan geram akan tuduhan Rama.
“Lalu?!“
Sinta menggeleng membuat Rama semakin geram karena Sinta tak mengatakan alasan yang paling masuk akal.
“Kamu tak mencintai aku lagi? Kamu menyerah karena Mama tak juga merestui kita? Kamu lelah berjuang bersamaku!?” Rama bertanya penuh emosi yang hanya dijawab dengan gelengan Sinta.
“Lalu kenapaaaa?” Rama terlihat semakin geram. Diguncangnya bahu Sinta dengan geram bercampur marah yang tertahan.
“Karena kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginan Mama!” jawab Sinta asal. Sejujurnya dia pun tak punya alasan untuk memutuskan Rama. Dan jawaban Sinta sontak membuat Rama tertawa sarkatis.
“Jadi intinya kamu menyerah? Setelah aku berjuang untuk menjadikanmu cinta terakhirku! Kalau kamu bilang kamu lelah, aku lebih lelah, Sinta! Tapi aku tidak menyerah!” kata Rama sedikit keras karena kedongkolan hatinya.
Tangis Sinta mulai luruh. Bagaimanapun Sinta tahu bagaimana gigihnya Rama bertahan, meski banyak sindiran pedas dan kecaman dari keluarganya karena dia berpacaran dengan Sinta. Tapi Sinta tak punya pilihan yang lebih baik selain putus.
“Karena aku nggak pantas buat kamu, Ram...“
Rama menatap Sinta dengan kesal.
“Tak pantas? Kenapa nggak dari beberapa tahun lalu, Sin? Sebelum aku terikat hati seperti ini? Kenapaaa?”
Sinta hanya menggeleng dalam tangisnya. Beberapa orang yang berlalu lalang di taman tersebut sesekali menonton mereka, tapi Rama bahkan tak peduli. Tak peduli meskipun dia akan jadi tontonan gratis.
“Tapi kalau kamu memang ingin putus dariku, ingin bebas dari aku, baiklah! Aku mengabulkan permintaanmu ini! Karena sekarang aku tahu mengapa Mama tak pernah memberikan restunya untukku.” kata Rama dengan napas memburu penuh emosi membuat Sinta mendongak dalam tangisnya. Ditatapnya Rama yang wajahnya kini merah penuh emosi.
“Karena kamu memang tak pantas dipertahankan!” kata Rama tandas dan tegas meski diucapkan dalam suara setengah berbisik, membuat Sinta terkejut dengan penilaian Rama terhadapnya.
“Rama...” desah Sinta setengah terisak. Hatinya kini benar-benar luluh lantah. Dia telah kehilangan segala-galanya!
“Cukup! Aku tak mau mendengar apapun tentang apa yang ingin kamu ucapkan! Karena aku tak suka dengan seorang pecundang! Terima kasih untuk tahun-tahun penuh perjuangan yang telah kamu suguhkan untukku, Sinta. Kusetujui keinginan kamu untuk berpisah dariku. Selamat tinggal.” kata Rama panjang lebar kemudian bergegas pergi meninggalkan Sinta, tak menoleh lagi.
“Ram! Ram..” suara Sinta tercekat karena sakitnya dadanya mendengar perkataan terakhir Rama untuknya.
Air matanya tak terbendung lagi. Lengkaplah sudah segala kepahitannya. Setelah Rafael mengambil miliknya yang paling berharga, meninggalkan seonggok luka sepanjang sisa hidupnya, kini Rama pergi dengan segunung kebencian. Tapi biarlah Rama membencinya. Ini akan jauh lebih baik daripada terus bersama tetapi berujung pada sesuatu yang menyakitkan untuk Rama.
Tidak! Rama tak pantas mendapatkan perempuan kotor seperti dirinya. Rama berhak mendapatkan yang lebih baik. Biarlah begini. Meski untuk itu, Sinta harus menelan rasa sakit akan perkataan Rama, setidaknya Rama punya alasan untuk membencinya.
Meski terguncang, tapi Sinta mencoba menerima keadaan sepahit apapun. Maka dengan langkah gontai, dia beranjak pelang meninggalkan taman kota. Mencoba mengusap air mata yang terlanjur jatuh.
Dia tak pernah menyadari bahwa di sisi taman yang lain, sepasang mata menatap mereka dengan kegeraman yang membuncah. Antara rasa benci, marah, bahkan cemburu!
-0-