KENAIFAN YANG FATAL

2311 Kata
Rafael PoV Setengah berlari aku turun dari mobilku yang kuhentikan di pelataran parkir kantor Adam, yang artinya itu kantor Sinta juga. Melewati resepsionis yang cantik, aku tak menanyakan apakah Adam ada di ruangannya atau tidak. Tanpa mempedulikan teriakan nyaring si resepsionis, aku segera memasuki lift yang biasanya hanya digunakan oleh jajaran direksi perusahaan Adam. Aku tak peduli. Untungnya aku kenal dengan salah satu security yang berada di sekitar pintu lift, sehingga aku bisa masuk lift tanpa hambatan. Ting !!! Lantai tujuh. Sungguh aku tak sabar ingin mengetahui kabar tentang Sinta, langsung dari Adam. Tanpa permisi, aku mendorong handle pintu, dan ... “Setan!” aku bergumam lantas kembali menutup pintu ruangan Adam. Bagaimana aku harus masuk, sementara di dalam si Adam sialan itu sedang bermesraan dengan seorang perempuan. Mereka sepertinya terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Tapi yang seharusnya terkejut adalah aku, karena perempuan yang sedang berdua dengan Adam dan berbuat m***m itu adalah Susan. Perempuan yang akhir-akhir ini dekat denganku! Perempuan murahan! Pekikku dalam hati, jengkel. Tak berapa lama, kudengar pintu itu terbuka dan Susan nampak keluar dengan mukanya yang merah padam. Aku hanya tersenyum sinis saat dia menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Raf, aku...” “DIAM! Aku sedang tak ingin mendengar ocehan apapun darimu, karena ada yang jauh lebih penting darimu,” kataku menjawab kata-kata Susan  yang sedikit gugup. Dia nampak putus asa tak berhasil bicara denganku sama sekali. Tapi aku tak peduli, aku bahkan kembali memasuki ruangan Adam. “Sorry, Bro! Aku tak tahu kamu akan datang ke sini..” kata Adam dengan muka gugup. “Never mind. Toh dia juga bukan siapa-siapaku. By the way ... bagaimana Sinta?” aku langsung bertanya pada perempuan yang mengganjal ketenanganku. Aku ingin jawaban segera dari Adam. “Itu yang membuat aku kalang kabut. Kamu tahu, dia akuntan andalan yang dimiliki perusahaan kami. Dan baru kali ini dia mangkir tanpa ijin..” Sejujurnya aku sangat ingin marah dengan kelakuan Sinta kali ini. Tapi benarkah? Haruskah aku marah jika apa yang dilakukan Sinta ini bahkan karena kelakuanku? Bulir keringat terasa di keningku, kuusap wajahku yang gusar. “Kamu tahu alamat apartemennya?” tanyaku. Adam mengangguk lantas membuka laptopnya untuk mencari data pegawai. Beberapa saat kemudian dia memberiku catatan kecil berisi alamat Sinta. Aku menerima dan membacanya sekilas. Aku tahu alamat ini, tak jauh dari lokasi kantor Adam. “Oke, Dam. Terima kasih untuk ini, aku akan mencarinya ke apartemen.” kataku sambil bergegas. “Tunggu, Raf!” Aku berhenti mendengar panggilan Adam. Menoleh padanya ketika dia kemudian bertanya. “Ya?” “Ada apa sehingga kamu juga mencari Sinta? Memang kamu mengenalnya dengan baik?” Ruangan Adam senyap sesaat, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi aku selalu punya jawaban cadangan. “Ya. Tapi sejauh apa, aku janji akan mengatakannya padamu. Tapi tidak sekarang.” kataku datar. Kulihat Adam hanya angkat bahu. “Oke, katakan padanya bahwa kantorku akan kolap jika dia tak datang, Raf!” Aku mengangguk. Tanpa pamitan lagi, kakiku melangkah cepat untuk keluar dari ruangan Adam. Tujuanku hanya satu, apartemen Sinta.   -0-   Kamar kost Anis yang sedikit luas ini lumayan lapang untuk menginap dirinya dan Sinta saat ini. Ya, semenjak malam itu Anis menjemput Sinta ke villa dalam keadaan kalut dan mengenaskan, Sinta belum lagi pulang ke apartemennya. Dan Anis dengan senang hati menampung Sinta di kost nya. Seperti kali ini, mereka sedang diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sinta yang sedang memikirkan nasib yang menimpanya dan juga langkah ke depannya yang sekiranya bisa dia tempuh, dan Anis yang sedang menyelesaikan deadline pekerjaannya sebagai seorang editor novel. “Kamu nggak makan?” Anis memecah kesunyian. Sinta hanya diam tak menyahut, bahkan seperti tak mendengar sapaan Anis. Anis menatap Sinta, dengan sedikit bimbang. Dia bangkit dari kegiatannya yang berkutat dengan laptop, lalu duduk di samping Sinta. Dengan pelan, dipegangnya bahu Sinta yang sedang termenung dengan tatapan hampa. “Kamu belum makan dari tadi pagi, Sin..” Sinta menatap Anis sekilas dan tersenyum sedih. “Belum lapar,” jawabnya lirih. Kembali Anis menemukan gurat merah di mata sahabatnya. Sinta telah menghabiskan waktunya dengan bersedih, menumpahkan banyak air mata. Anis menggeleng, saja melihat keadaan Sinta, dan kembali membujuknya. “Lapar atau tidak, tak akan terasa saat pikiran kita kalut, Sin. Kita makan?” Dengan sedikit malas, Sinta beranjak ke meja makan yang ada di dekat mereka. Menyantap makanan dalam diam, bahkan Sinta tak merasakan apa yang dikunyah dan ditelannya. Semua hampa. Sehampa hidupnya semenjak malam terkutuk di villa j*****m, bersama laki-laki paling b******n yang pernah dikenalnya. Meski laki-laki itu keponakannya. Dan semua kehancuran itu berawal dari kebodohannya senja itu.   Flashback ...   Hari memang sudah demikian sore ketika Sinta keluar dari kantornya. Dengan langkah lelah setelah seharian berkutat dengan angka-angka yang membuat dunianya penuh nominal, dia berjalan meninggalkan ruangan yang memang disediakan khusus untuknya. Semua tahu, bahwa dia adalah akuntan paling handal yang pernah dimiliki perusahaan tempatnya bekerja. Tak heran jika dia adalah pegawai yang lumayan awet untuk bidangnya tersebut. Lima tahun sudah Sinta mendedikasikan kemampuannya dalam kalkulasi keuangan pada perusahaan ini. Dan untuk loyalitasnya ini pula, dia mendapatkan imbalan yang seimbang dari perusahaan. Hari ini, dia terpaksa harus menggunakan jasa taksi untuk pulang ke apartemennya, karena beberapa jam lalu Rama menghubunginya dan mengatakan bahwa dia harus pulang cepat untuk mengantar Ibunya ke rumah Mbak Dewi, kakak Rama. Praktis, dia tak bisa mengantar Sinta pulang sebagaimana biasa. Sinta tak tahu bahwa di lobbi bawah seseorang sudah menunggu dirinya. Laki-laki dengan tampilan maskulin dan macho, dengan kulitnya yang coklat namun bersih, serta pakaian kantornya yang masih lengkap tersandang. Setelah menunggu dengan kegelisahan, laki-laki itu akhirnya bernafas lega setelah dilihatnya sosok Sinta keluar dari lift. Bukan, bukan bernafas lega, karena kemudian d**a laki-laki itu berdetak dengan irama indah dan menyenangkan. Bahkan, sesuatu yang lain menggeliat di tubuhnya. Dan ini selalu terjadi saat dia melihat Sinta. “Hai, Tant, “ laki-laki itu menyapa begitu Sinta sudah berada dekat dengannya. Sinta tentu saja terkejut. “Hei, Raf? Kok kamu bisa ada di kantorku?” tanya Sinta, sedikit bingung namun ia merasa keponakannya ini sangat perhatian. Rafael, laki-laki keponakan Sinta itu tersenyum demikian elegan. “Aku sengaja ke sini” jawabnya singkat. Sinta mengerutkan keningnya. “Sengaja? Ah jadi ngerepotin saja kamu Raf!” “Gak apa-apa, aku ada kejutan untuk tante,” “Kejutan?” Sinta bertanya dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. “Ayah membelikan aku sebuah villa di kawasan Anggrek. Kalau tante berkenan, mau nggak liburan akhir pekan ke sana, sama aku?” “Hanya berdua?” Raf sedikit gugup dengan pertanyaan Sinta. “Oh, tentu saja tidak. Nanti Susan akan menyusul ke sana.” “Susan? Pacarmu?” Rafael tersenyum. “Belum. Hanya teman dekat..” Sinta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana?” “Apanya?” “Berakhir pekan  ke villa Anggrek?” Sinta kelihatan menimbang-nimbang. “Tapi aku harus pulang dulu, Raf..” Raf menggeleng. “Bajuku bahkan masih baju kerja, Raf?” “Kita bisa membelinya di jalan menuju ke villa,” Ada keraguan di raut wajah Sinta. “Plisss....” pinta Rafael, terlihat memohon. Sinta menatap keponakannya itu dan tersenyum sambil mengangguk. “Kita berangkat sekarang?” Sinta mengangguk dengan senyumnya yang masih terkembang. Kemudian Raf mengiring langkah Sinta menuju ke mobilnya yang terparkir manis di depan gedung kantor  Sinta. Setelah membukakan pintu untuk Sinta, Raf mengitari mobilnya untuk kemudian membuka pintu dan duduk dengan manis di belakang kemudi. Raf tersenyum riang ketika melajukan mobilnya menuju luar kota. Ke villa barunya yang baru saja dibelikan ayahnya untuknya.Seperti janjinya, Raf menghentikan mobil ketika melewati toko pakaian dan membeli beberapa potong baju untuk Sinta dan baju santai untuknya sendiri. “Kita makan dulu gimana, Tant?” “Boleh, boleh, Raf..”  Rafael lantas menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran masakan padang. Sembari makan, Raf berusaha bersikap akrab. Mengingat selama ini mereka tak pernah bertemu karena Raf yang harus study ke luar. Dan selama itu pula, dia tak pernah pulang untuk berkunjung. Karena malah Wisnu, ayah Raf dan juga ibunya yang mengunjunginya sekalian liburan. “Apakah Susan sudah tahu alamat villanya, Raf?”  Sinta bertanya di sela-sela acara makan mereka. Raf terkejut, tak menyangka bahwa Sinta akan menanyakan hal tersebut. “Hemmh, tentu! Beberapa hari lalu kami datang ke sana.” jawab Rafael sedikit gugup. “Hanya berdua?” Raf mengangguk. “Nginep?” “Yap!”  Rafael mengangguk mantap. Dan jawaban itu membuat Sinta tersedak makanannya sendiri. “Nggak usah buru-buru kali, Tant, makannya,” Raf menyodorkan minuman ke depan Sinta. Sinta segera meneguknya untuk menhilangkan rasa panas di hidungnya. Selanjutnya mereka makan dalam diam. Hati Sinta mulai tak tenang ketika sedikit mengetahui bagaimana bebasnya kehidupan Raf. “Bagaimana kabar Rama, Tant?” “Dia baik,” “Dia mau seriusan sama Tante?” Raf memandang sekilas ke arah Sinta untuk kemudian kembali berkonsentrasi dengan kemudinya. “Pengennya, iya..”  jawab Sinta sedikit malu. Raf tertawa. Sungguh, senyum malu Sinta membuatnya semakin hanyut dalam pesona perempuan itu. “Kok pengennya? Apa dia nggak pengen serius sama Tante?” “Nggak usah membahas itulah. Kalau jodoh, pasti suatu hari jadi nikah. Kamu sendiri bagaimana kisahmu dengan Susan?” Raf kembali terkekeh. “Kok mengalihkan pembicaraan?” “Bukan mengalihkan, Raf. Tante hanya tak mau membahas masalah pribadi dengan orang lain.” “Jadi Tante menganggap aku orang lain?” tanya Raf sambil melihat Sinta, sekilas. Sinta terkejut dengan reaksi Raf. “Bukan begitu, Raf. Kamu tentu saja keponakan Tante. Tetapi tetap saja tak enak, bicara soal pribadi begini..” “Menurut penglihatanku, sepertinya ada sesuatu dengan hubungan Tante dan Rama, betulkah?” tebak Rafael membuat Sinta terdiam. Bagaimanapun Rafael benar. Hubungan mereka belum mengantongi ijin dari orang tua Rama, tersebab usia Rama dan Sinta yang terpaut lima tahun. “Kalau Rama tak serius dengan tante, kurasa dia laki-laki terbodoh yang pernah ada!” Sinta menatap Raf. Mata Raf, membalas tatapan Sinta, dalam. “Raf… maksudmu apa?” Sinta terkejut mendengar pendapat Rafael. Ia belum lama datang, ia baru saling bertemu kembali dan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. “Hanya laki-laki bodoh yang meninggalkan perempuan secantik dan secerdas tante” Sinta terkekeh. “Kamu bisa saja…” “Aku serius, Tant. Dan tante bisa menjadikan aku penganti Rama kalau laki-laki itu sampai meninggalkan tante.” kata Raf dengan nada serius. Tapi Sinta hanya tertawa. Dia hanya pikir ternyata Raf punya selera humor yang lumayan bagus. Tidak seserius ayahnya, juga tidak seangkuh ibunya . -0-   Tidak terasa, setelah perjalanan berliku, akhirnya sampai juga di villa Anggrek. Suasana sudah mulai malam ketika mereka turun dari mobil. Sinta tampak kagum dengan keasrian villa Anggrek. Bangunannya yang minimalis menunjukkan kenyamanan dan kesejukan. Mereka memasuki villa.  Dan ketika tanpa sengaja Sinta tersandung alas kaki di depan pintu villa, Raf segera meraihnya membuat perempuan itu tanpa sengaja berada dalam pelukan Raf. Keduanya berdebar dan saling menatap. d**a Sinta berdebar karena terkejut hampir terjatuh, tapi tidak dengan Raf. Dadanya berdegup ketika menyadari bahwa yang berada dalam jangkauan pelukannya itu adalah Sinta, perempuan yang tanpa sengaja menyita perhatiannya beberapa waktu belakangan ini.  Aroma wangi menguar dari tubuh Sinta yang ia topang, menyeruak ke indra penciuman Rafael. Sejenak, mata lelaki itu terpejam. “Raf, maaf..“  kata Sinta sambil berusaha lepas dari Raf. Mata Raf kembali melihat wajah perempuan yang mempesonanya itu. Ia memandang Sinta lekat, tak berkedip seolah sayang melewatkan setiap lekuk kecantikan wajah Sinta. Raf terlanjur terbuai dalam pesona Sinta, tak menggubris sama sekali perkataan Sinta. Bahkan dengan berani, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta. Tentu saja Sinta mengelak. Karena dia seakan sadar, bahwa ada yang tidak beres di sini. “Raf...”  Sinta mencoba mengingatkan. “Ssssttt..... ijinkan aku menjadi Rama, Tant..” Bisik Raf, dengan suara bergetar menahan sesuatu dalam tubuhnya yang membuat ia bernafsu. telunjuk tangan Raf, mendarat di bibir merahnya. Plakk! Sontak Raf terkejut dengan reaksi Sinta yang di luar dugaannya. Seketika Sinta meronta untuk melepaskan diri dari Raf. Tapi tidak semudah itu untuk lepas dari rengkuhan Rafael, karena nyatanya laki-laki itu semakin erat merengkuh Sinta. Bahkan dengan setengah memaksa, dia membawa perempuan itu ke kamar villa yang ada di lantai dua. Dengan sedikit usaha keras tentu saja, karena Sinta terus saja meronta ingin lepas. Ketika sampai di kamar, Raf melepas dan menghempaskan perempuan itu. “Aku menginginkanmu, Sinta! Aku sangat menginginkanmu,  kamu tahu?” tiba-tiba Raf berteriak lantang. Sinta menatap laki-laki di depannya dengan pandangan nanar. Dia tak habis mengerti dengan apa yang ada di pikiran keponakannya itu. “Kamu gila, Rafael! Di mana logikamu hah? Apa kamu nggak ingat, aku ini siapa!? Aku tantemu, adik ayahmu! Harusnya kamu ingat itu!” sentak Sinta dengan murka. Muka wanita itu berubah memerah dengan deru napas mencepat. “Aku tak peduli. Kamu, milikku. Dan harus jadi – milikku! Apapun dan bagaimanapun caranya!” bentak Rafael dengan suara yang membuat nyali Sinta seketika menciut. Mata Rafael menyalak, wanita di hadapannya terlihat mengatur napas. Mereka saling menatap dengan berbagai perasaan.   Flashback off ...   “Hei, Sin....” tepukan lembut Anis menyeret Sinta untuk kembali ke alam nyata. Pelan diusapnya air mata yang mengalir tanpa sengaja. Lalu Anis merengkuh perempuan kalut itu ke dalam dekapannya. Membuat Sinta semakin meratapi kemalangannya. Meratapi hidupnya yang sepahit kopi tanpa gula. Pekat. “Sssshhh… ada aku kalau kamu tak bisa menanggung bebanmu sendiri,”  kata Anis sambil mengusap punggung Sinta. Tapi Sinta masih tenggelam dalam tangisnya. Luka itu terlalu perih untuk diurainya. “Kamu sudah izin, karena mangkir dari kerjamu hari ini ?”  Anis bertanya setelah Sinta sedikit tenang. Perempuan itu menggeleng. “Sebaiknya telepon bos kamu,” “Aku akan menghubunginya nanti.” jawab Sinta setengah mengatur napas dari segukan tangisnya. Anis tersenyum melihat Sinta sudah mulai bisa diajak komunikasi tanpa melamun. Sinta mungkin terpuruk, tapi hidup harus terus berjalan. Dia nyaris tak punya pilihan, selain tegar dan kembali menjalani hidupnya. Meski dia tahu, semua tak akan kembali sama sebagaimana semula. Tapi Sinta tahu, bahwa langkah awal yang harus ditempuhnya adalah Rama. Pria yang ada di hatinya.   -0-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN