Malam ini perempuan berewajah ayu, dengan sorot mata sayu penuh derita itu meneguhkan hatinya yang beberapa waktu tadi sempat goyah. Karena sejujurnya, ini bukan pilihan hidup yang diinginkannya. Ini jalan satu-satunya yang bisa dia tempuh untuk tetap bisa bertahan hidup, demi mendapatkan “Kamu tidak berubah pikiran kan, San?” tanya Huges, seorang wanita yang meski dia seorang mucikari, tapi selalu menanyakan kemantapan perempuan yang berniat menjadi perempuan malam, di bawah naungan manajemennya. Sejenak, perempuan yang dipanggil dengan sebutan Santi itu menatap Huges dengan pandangan ragu, sebelum menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Tak ada yang memberi saya pilihan untuk mundur, Madam..” “Baiklah! Aku baru saja menerima bookingan seorang laki-laki yang dari perawakannya aku ta

