Dengan sedikit kurang ajar, Sinta nekat meraba rahang Rafael, membuat laki-laki itu memejamkan matanya sekedar menikmati kelembutan tangan Sinta. Ketika jari lentiknya mengusap bibir Rafael yang terkenal seksi, Rafael sigap mengulum jemari itu, melumatnya, membuat Sinta jengah dan semakin kepanasan oleh gelenyar liar yang bergerak masif di dalam tubuhnya. “Raf.. aku... aku... please.. panas, hidupkan AC nya..” suara Sinta mendadak seperti rintihan nelangsa. Tangannya terasa gelisah, seperti halnya tubuhnya yang juga merasa sangat tidak nyaman. “Sssttt... bukan Ac yang kamu butuhkan, Baby...” Raf lantas segera membukakan dengan lembut baju kasual yang dikenakan Sinta. Anehnya perempuan itu tidak merasa malu apalagi risih. Bahkan saat laki-laki itu juga melucuti pakaiannya yang lain, dia

