TOILET KAFE (1)

1987 Kata
Sinta PoV Tidak tahu, mimpi apa aku semalam. Hingga pagi ini, aku mendapati kesialan kembali menimpaku. Tanpa kuduga, dia datang kembali. Di depanku! Dengan menunjukkan wajah pongahnya yang memercikkan rasa benci di dalam diriku. Yaa Tuhan, apa lagi yang harus kulakukan dengan sikapnya ini? Di satu sisi aku tak tahan dengan kelakuannya yang menganggapku seperti w**************n, mungkin seperti wanita-wanita yang telah ia tiduri dengan sukarela.  Sudah benar-benar hilang ingatankah dia, sangat jelas, aku ini masih keluarganya! Aku tantenya! Kalau saja, dia bukan anak laki-laki kakakku, mungkin sudah melaporkannya pada yang berwajib. Tapi jika itu kulakukan, akan banyak kejadian lain yang menyusul.  Nama baik keluarga Asmawirdja yang terhormat akan tercoreng. Belum lagi Mas Restu dan Mbak Ratih yang pasti akan menyalahkan aku, karena dikiranya aku yang menggoda anaknya, keponakanku. Hanya karena aku yang tak kunjung laku padahal usiaku sudah nyaris 30 tahun. Aku tahu, kedua orangtua Adam, diam-diam membicarakanku, menganggap bahwa aku perawan yang tak laku. Dan untuk kalimat cemoohan itu, aku hanya menganggapnya lelucon. Ya memang benar, Aku telat menikah, aku belum dipilih Tuhan untuk membangun rumah tangga. Tapi, aku menjaga martabatku! Entahlah, aku bahkan tak tahu apakah aku memang perawan tak laku, atau memang belum laku. Eits, perawan? Hatiku nyeri, karena kata perawan itu hanya status di KTP aku. Selebihnya, laki-laki paling b******k itu yang membuat aku, memang tak perawan lagi. Kalau boleh jujur, sungguh, lututku masih gemetar karena perlakuannya yang sangat bar-bar, memaksakan diri menciumku kembali. Cuih! Aku bahkan ingin menamparnya berulang kali, hingga memerah membekas di wajahnya! Aku ingin memakinya, meneriaki wajahnya yang tak terlihat merasa telah bersalah padaku! Dia memang patut kubenci! Rasanya aku ingin mengumpatnya dengan makian paling kotor yang ingin ku ungkapkan. Sayangnya aku masih sadar, bahwa sedang berada di kantor Pak Adam. Kuusap bibirku dengan kasar hanya sekedar untuk menghilangkan rasa mint yang tertinggal di bibirku karena kelakuan rakusnya. Ya, Tuhan.. sampai kapan aku harus berada di persimpangan begini? Merasa muak dan benci dengan kelakuan Rafael, tapi sekaligus tak berdaya karena dia adalah keluargaku, keponakanku. Ungkapku dalam hati, meringis. Ddrrrttt....ddrrrttt... Getaran ponselku membuat getaran di meja kerjaku. Kulirik dan itu, Rama. Aku langsung meraih ponselku yang menyala-nyalakan nama Rama di layarnya. “Ya, Ram..” “Hei, Manis .... kita makan siang lagi nanti?” Aku tersenyum, sungguh... kata-katanya saja sudah membuat aku tenteram, hati dan pikiran. “Aku mau, Ram.... tapi aku banyak kerjaan. Jadi aku tadi sudah memesan ke OB untuk membawakan aku menu makan siang,” “Ayolah, Manis... kamu tahu kan aku sudah kangen lagi, padahal baru tadi pagi aku melepasmu kerja,” Rama merayuku dengan ungkapan gombalnya. “Rama.. pleaseeee...” “Baiklah.. baiklah. Tapi jangan lupa makan siang ya? Janji padaku ya?” Aku tersenyum dan tanpa sengaja mengangguk. “Makasih udah ingetin aku selalu ya Ram...” jawabku lirih. Di Sebrang, kudengar Rama tergelak. Sambil merengut kututup sambungan telepon. Lalu aku kembali menekuri laporan keuangan yang seminggu ini aku tinggalkan, hingga kini menuntut waktuku untuk mengerjakan segera. Biarlah aku mengenaskan, tapi aku akan menunjukkan bahwa si perawan tua ini tidak ingin dikasihani. Bagaimanapun aku harus bangkit dari keterpurukan, yang hanya diketahi olehku sendiri, dan si bocah tengil paling b******k itu. Biarlah, demi nama baik keluarga kami. Keluarga Asmawirdja. -0- Setelah bekejaran dengan waktu untuk segera memenuhi janji dengan ayahnya. Rafael tiba juga di kantor ayahnya. Syukurlah, rapat baru akan dimulai ketika ia datang. Setidaknya, ia tidak perlu merasa sangat bersalah karena baru saja sampai di kantor. Suasana hati Rafael sedikit jengah karena rapat dengan klien baru ayahnya sedikit membosankan. Tapi bagaimanapun, dia memang harus banyak belajar jika ingin sukses seperti Ayahnya. Pandangan Raf tertuju lurus ke arah layar presenatasi, namun hati dan pikirannya tidak sepenuhnya berada di rapat tersebut. Andai saja Sinta bekerja di sini menjadi sekretaris  Ayah. Tentu rapat tak akan membosankan seperti ini. Aku bisa menatapnya sepuas hati, memandangi semua keindahan Sinta, membuatku semakin semangat bekerja.. Raf membathin m***m. Tanpa sengaja bibirnya menyunggingkan senyum membuat ayahnya sedikit mengerutkan dahinya. Tapi untunglah, rapat alot itu menghasilkan kesepakatan yang memuaskan. “Ayah lihat kamu senyum-senyum sendiri dari tadi, Raf?” Ayah Raf menegur begitu mereka usai rapat dan berbincang tak resmi, sejenak. “Oh, ya? Aku hanya sedikit lelah,” ungkap Raf dengan sedikit cuek. Ayahnya hanya geleng kepala. “Di lobi bawah, Devi menunggu,” kata Ayahnya sebelum beliau memasuki ruangan direkturnya. Rafael terkejut. “Devi? Siapa, Yah?” tanya Raf dengan alisnya yang terangkat sebelah, sedikit heran. Anak dan ayah itu melangkahkan kaki ke ruang direktur. Raf, mengulang memorinya mungkin ia dapatkan siapa itu Devi dalam ingatannya, tapi gagal. Sepertinya ini salah satu taktik ibu lagi! “Anak teman Ibu kamu barangkali.. Ibu barusan SMS.” Kebiasaan Ibu lagi dan lagi. Belum bosan ia menyuguhkan wanita untuk dipilih Raf. Dahi Raf mengerut, menampilkan kebosanan yang sebentar lagi ia temui. Kali ini, Ibu sepertinya lebih gigih, hingga menyuruh Devi buat datang ke kantor. Tanpa bertanya lagi pada ayahnya, Raf segera bergegas turun ke lobi. Di sana, seorang gadis berkulit kuning langsat berdiri menatapnya yang berjalan tegap ingin ke arah gadis itu. Itukah Devi? Tanya Raf dalam hati. Raf mencuri-curi memandang Devi dari ujung kaki hingga hidung mancung gadis itu. Tingginya semampai, senyumnya menawan. Bagaimanapun, dia seorang model, siapapun tahu bagaimana proporsionalnya tubuh seorang model. Tapi, Raf menghentakkan hembusan napasnya, tidak ada sesuatu spesial di dalam hatinya. Ia hanya suka saja melihat gadis itu. Namun, tak membuat Rafael tertarik, tidak, tidak sama sekali. “Hei, Raf ...” Devi menyapa Rafael dengan suara genit dan ramah yang dibuat-buat. Bahkan, tak segan perempuan itu langsung berlari ke arah Rafael, bahkan memberikan cipika-cipiki. “Hei?” Raf membalas sapaan Devi. “Raf, tadi tante Ratih menelepon aku. Katanya kamu selalu suka lupa makan siang. Jadi karena aku kebetulan tadi ada kerjaan dekat sini, sekalian saja aku mampir,” Devi nyerocos. “Oh....” jawab Raf singkat. Raf merasa mulai risih. Gadis ini mungkin berbeda jauh dengan mereka yang rela memaparkan tubuhnya untuk Raf nikmati. Semua tidak perlu Raf kejar. Berbeda dengan Sinta. “Jadi gimana, Kita makan siang ya? Aku yang traktir, deh... oke?” Raf menatap Devi ragu, kemudian mengangguk. Pikirnya, tak ada salahnya sekali-sekali keluar makan siang dengan gadis ini, sedikit penyegaran dari kepusingannya untuk memiliki Sinta. Raf melihat gadis itu tersenyum ceria dan langsung menggamit lengan Rafael, mengajaknya makan siang. “Kamu mau makan siang di mana?” tanya Raf, dan sama sekali, tak menolak tangan Devi menyentuh tangannya. “Terserah kamu, Raf.. Aku percaya pilihan kamu pasti enak.” Devi menjawab dengan pandangan berbinar. Raf mengangguk. Dia tahu tempat yang pas untuk makan siang kali ini. Tentu saja sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ya, Raf membawa Devi untuk makan siang di kafe depan kantor Adam. Dan Raf berharap, mungkin saja ia bertemu dengan perempuan pujaannya. Sepanjang perjalanan dari tempat parkir sampai ke dalam kafe, nyaris semua mata menatap keelokan wajah Devi dan Raf. Sedikit membuat jengah, tapi Raf tak ambil pusing sama sekali. Mereka duduk di tempat yang agak sudut. Beberapa obrolan ringan mengalir dari keduanya. Terlihat sekali bagaimana berbinarnya mata Devi ketika dia bercakap dengan Raf. Dalam hati, Devi mengakui bahwa laki-laki ini demikian menggoda. Maka perempuan itu bertekad untuk mendekati dan mendapatkan Rafael. Selain gagah dan terlihat sangat jantan, Devi melihat sisi liar dan menantang dari diri Rafael. Entahlah, mungkin karena Devi hafal dengan berbagai macam tipe pria, sehingga dia menyimpulkan bahwa Rafael adalah satu dari sekian banyak laki-laki yang memiliki sisi liar, meski sebisa mungkin dia sembunyikan. “Kata Ibu kamu sering pemotretan ke Bali?” tanya Raf mencoba akrab. “Iyah.. agency aku selalu memilih aku untuk promo beberapa butik di Jakarta,” Lalu beberapa pernyataan yang sebagian besar mengumbar kesombongan meluncur begitu saja dari mulut Devi. Raf hanya menanggapi sekedarnya.   -0-   Sementara di ruangan Sinta, tiba-tiba muncul Desna yang melongok dengan senyum manisnya. “Mbak Sinta, makan siang keluar, yuk?!” “Aku tadi sudah memesan sama OB untuk mencarikan aku makan siang, Des. Pekerjaanku menumpuk karena seminggu ini aku mangkir” jawab Sinta dengan wajah yang menunjukkan kejenuhan. “Hei, nggak makan siang di luar pun, kerjaan segini banyak nggak bakal kelar sehari, Mbak. Tuh, wajah mbak Sinta saja sudah minta direcharge ulang tuh?” Desna masih saja membujuk. “Entahlah, Des. Butuh berapa waktu lagi untuk menyelesaikan semua ini..” “Yang jelas, bukan sehari ini. Mumpung Pak Adam sedang berbaik hati dengan tidak memecat mbak Sinta, maka kita tetap harus makan siang di luar,” Desna tak juga lelah dengan bujukannya yang disertai dengan senyum memohonnya. “Pak Adam ada di ruangannya?” Desna menggeleng. “Bos keluar dengan pacarnya yang super kece!”  “Kita makan di kafe depan saja, oke? Biar tak banyak membuang waktu!”  Sinta mengalah. “Okelah. Aku sedang pengen makan soto ini,” Desna masih saja berceloteh. Sementara Sinta akhirnya mengemasi beberapa berkas yang sedang dikerjakannya, untuk kemudian beranjak mendekati Desna yang sedang menunggu di depan pintu. “Yuk!” ajak Sinta yang sudah menggenggam dompetnya. Desna mengangguk ceria, sementara pandangan sinis dan mencemooh segera terlihat dari sepasang mata milik Niken. Spontan, Desna dan Sinta saling berpandangan dengan makna yang mereka ketahui masing-masing. “Biarkan saja,” kata Sinta lirih sambil mengajak Desna kembali berjalan menuju lift. “Sadis banget pandangannya, Mbak Sin?” “Siapa?” Sinta pura-pura bertanya maksud Desna. “Siapa lagi kalau bukan Emak Lampir?” Desna menjawab judes. Sinta terkekeh geli. “Dia merasa kurang beruntung karena tak dapat jabatan seperti kita!” Sinta menjawab pelan. Desna terkikik geli. “Oh, ya... Mbak Sinta kenal dengan teman Pak Adam?” tanya Desna begitu mereka memasuki kafe. “Teman beliau kan banyak, Des?!” “Itu, yang tinggi dan keren. Desna lihat tadi datang ke ruangan Mbak Sinta?” Sinta terkesiap. “Oh ... Pak Rafael ?”, jawab Sinta dengan sedikit trauma ketika harus menyebut nama laki-laki yang sangat ingin dihindarinya itu. “Nah ... itu tahu ? Mbak Sinta kenal ?” Sinta kelabakan harus menjawab apa. “Ehm ... hanya sekedar tahu bahwa itu teman Pak Adam. Kita ke kursi  dekat pilar yuk, Des. Kelihatannya kosong ?”, Sinta mengalihkan perhatian Desna akan pertanyaan seputar Rafael. Bagaimanapun, dia harus menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Desna mengangguk dan mereka berjalan ke arah kursi yang dimaksud Sinta. Seorang pelayan datang untuk  menawarkan menu, yang kemudian berlalu setelah Sinta dan Desna memesan menu soto untuk siang ini. “Des, aku ke belakang dulu ya?” Desna mengangguk. “Jangan lama-lama, Mbak Sinta!” Sinta tersenyum sembari berjalan melenggang meninggalkan Desna menuju toilet. Dia tak menyadari bahwa sejak kedatangannya memasuki kafe itu, sepasang mata menatapnya dengan pandangan tajam dan senyum yang mengganggu. Sepasang mata itu milik.....   -0-   Sinta PoV Desna memaksaku untuk makan di luar siang ini. Padahal begitu banyak pekerjaan menumpuk yang harus aku selesaikan segera. Ajakan Rama saja tadi aku tolak karena aku harus segera menyelesaikan semua ini. Tapi melihat Desna sudah muncul di depan pintu dengan senyum memohonnya sekaligus bujukan-bujukannya yang tak kenal lelah membuatku berangkat juga. Sekarang aku di sini. Di toilet kafe depan kantor. Banyaknya pekerjaan yang menumpuk membuat aku melupakan panggilan alam untuk ke kamar kecil. Sepi. Biasanya kafe ini sedikit ramai, tapi kenapa siang ini sepi? Hanya ada beberapa pengunjung yang memakai toilet ini. Dan mereka telah selesai ketika aku memasuki salah satu ruangannya yang bersih, sangat bersih bahkan. Aku hanya butuh beberapa menit untuk keperluan toilet ini. Keluar sambil mampir dulu di wastafel dan  berkaca sekedar untuk merapikan penampilan merupakan kegiatan rutinku setiap kali ke kamar kecil. Dan kali ini pun aku melakukannya, ketika sebuah suara yang cukup maskulin dan bahkan  kukenali, memanggilku membuatku berjengit otomatis. “Hallo, Sayang!” Aku mendongak dan melihat sumber suara dari cermin yang ada di depan mataku. Seketika, kepanikan menerpaku, membuat lututku gemetar ketika aku tahu siapa yang kini berdiri tak jauh di belakangku. Aku yakin wajahku seketika pias karena lidahku pun mendadak kelu. Bahkan untuk sekedar berteriak. Tuhan, tak cukupkah kesialanku pagi ini? Dia...   -0-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN