Memakai kacamata dan mengikat ekor kuda rambut panjangnya, hari itu Embun datang ke lokasi tes tertulis untuk bisa menjadi sekretaris Rain. Dari sisi penampilan jelas dia tidak kalah dari pelamar lainnya yang berdandan heboh, hanya saja Embun memang sengaja memakai kacamata dan berdandan sedikit jadul.
“Dimana tes itu dilakukan?” tanya Skala selaku pemilik PG Factory, dia berjalan dengan Beni dan berbelok ke aula yang telah disulap menjadi tempat tes.
Skala hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat masuk ke dalam, matanya tiba-tiba menangkap sosok gadis yang menurutnya memiliki aura yang berbeda dari pelamar lain.
“Dari seratusan yang lolos seleksi berkas, hanya sekitar lima puluh yang datang ke tes tertulis ini Pak,” ucap Beni. Karena tidak mendapat respon, ia pun menoleh Skala. Hingga mencoba memastikan ke mana arah pandangan atasannya itu.
“Pak, Anda tidak sedang mengincar salah satu dari mereka untuk menggantikan saya ‘kan? atau jangan-jangan anda menginginkan salah satunya untuk dijadikan istri ke dua Anda?”
Skala menoleh dengan wajah garang, dia bahkan menekuk bibirnya mendengar tuduhan keji dari sang sekretaris.
“Sembarangan, sudah ayo kita pergi dari sini dari pada kamu menjadi berburuk sangka ke aku.”
💦💦💦
Embun mengembuskan napas lega, dia tidak pernah menyangka akan mengikuti tes semacam ini di dalam hidupnya. Baginya yang merupakan putri seorang pengusaha, pekerjaannya jelas sudah ditentukan oleh orang tuanya bahkan sejak dia belum bisa membaca. Apa lagi kalau bukan menjadi pewaris dan mengelola bisnis keluarga.
Dari pada kembali ke hotel, Embun memutuskan untuk menunggu hasil tes tertulisnya keluar. Jika bisa melangkah sampai ke tes wawancara, Embun berniat dari PG Factory dia akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari setelan kerja yang pantas. Gadis itu pun berjalan-jalan tak jauh dari sana, terlebih PG Factory memiliki toko oleh-oleh tepat di depan pabriknya. Embun mencoba melihat apa yang dijual di dalam sana.
“Wah …. Gama.” Embun tertawa melihat sebuah standing figure pria itu memegang produk andalan PG Factory dari zaman dia bayi. Tingkahnya membuat pelayan toko sampai menoleh dan ikut tersenyum.
Embun berjalan mendekat ke rak yang menampilkan deretan makanan ringan, hingga matanya tertarik dengan produk mi pedas yang belum pernah dia coba. Embun pun mengambil beberapa. Dia masih sibuk berbelanja makanan sampai matanya melihat sebuah snack bertuliskan edisi terbatas dan tinggal satu-satunya di rak. Ia meraihnya dan sebuah tangan juga ikut meraihnya.
Embun kaget melihat Bening, tangan mereka sama-sama tidak mau melepaskan snack itu.
“Lepaskan! Tidak seharusnya kamu berebut sesuatu lagi denganku,” ketus Embun.
“Aku tidak ingin berebut denganmu.” Bening melepaskan tangannya, membiarkan Embun mengambil snack itu darinya.
“Ya, seharusnya kamu tahu mana yang bisa menjadi milikmu dan mana yang tidak.” Embun tersenyum menghina lantas pergi bergitu saja menuju kasir. Meninggalkan Bening yang tak percaya bahwa saudara kembarnya itu bisa sangat berubah.
Tanpa menoleh lagi, Embun meninggalkan toko itu dan berjalan menuju mobilnya, dia memutuskan untuk pergi saja ke pusat perbelanjaan. Mau lolos tes wawancara atau tidak, dia sejatinya tetap membutuhkan setelan kerja untuk bekerja di hotel.
_
_
_
“Pak, kami sudah mendapatkan tiga kandidat terbaik untuk menjadi sekretaris Anda. Kami mengambil tiga terbaik dengan nilai tes tertulis tertinggi. Apa anda tidak ingin melihat biodatanya lebih dulu?” Beni lagi-lagi meminta Rain melihat, tapi dia tetap bersikukuh tidak mau.
“Aku percaya padamu,” ucap Rain tanpa menoleh Beni. Ia sibuk berkutat dengan berkas di hadapannya.
“Besok apa bapak ingin ikut dalam tes wawancaranya?”
“Hem … jika diperlukan aku akan ikut.” Rain mendongak menatap Beni yang sibuk membetulkan letak kacamatanya. “Pak Ben, sebenarnya aku ingin mengadakan pesta kejutan ulang tahun untuk mamaku, apa kamu bisa membantuku?”
“Pesta?” Beni terlihat berpikir, mencoba mengingat tanggal berapa ulang tahun Bianca. “Bukankah masih satu bulan lagi? bagaimana jika Anda persiapkan dengan sekretaris baru Anda?”
Rain menekuk bibir kemudian mengangukkan kepala. “Baik lah, lalu kapan wawancara itu?”
“Besok pukul sebelas siang.”
🌧🌧🌧
Hari tes wawancara tiba, Rain mengamati lalu membuang muka setelah melihat tiga kandidat sekretarisnya. Ketiganya sudah duduk di kursi tepat dua meter di depan Rain, kepala HRD, dan juga Beni. Bukan tanpa alasan Rain melakukan itu, ini karena dia melihat sosok gadis yang dibencinya duduk di kursi paling kanan.
Embun menelan saliva, dia tidak menyangka bahwa Rain sendiri yang akan melakukan wawancara akhir untuk memilih sekretarisnya. Jika sudah begini bisa dipastikan dia tidak akan terpilih.
Pertanyaan demi pertanyaan pun akhirnya dilontarkan ke tiga kandidat sekretaris itu. Mereka pun menjawab dengan baik meski salah satunya terlihat belepotan karena grogi.
“Pak Rain, apa Anda punya pertanyaan?” tanya Beni menyadari sejak tadi hanya Rain lah yang belum memberi pertanyaan ke tiga orang calon sekretarisnya itu.
“Aku punya satu pertanyaan untuk kalian bertiga, bagaimana jika kalian tahu ada orang yang mengkhianatiku dalam berbisnis.” Rain menatap tajam Embun dan gadis itu balas menatapnya dengan air muka sendu.
Kandidat pertama dan kedua sudah menjawab, Rain bahkan menyimak dengan seksama tadi, membuat Embun merasa kesempatannya semakin tipis. Hingga tiba gilirannya untuk menjawab dan tak dia sangka Rain akan menatapnya tajam.
“Jika saya tahu ada orang yang mengkhianati Anda saya tidak akan melaporkannya ke Anda sampai saya menemukan bukti yang konkrit untuk dilaporkan, karena menurut saya jika saya melaporkannya hanya dengan modal lisan atau kabar burung, hal ini jelas hanya akan menambah beban pikiran Anda, tapi jika memiliki bukti saya yakin Anda dengan segera bisa mengambil langkah penyelesaian yang baik dan benar,” jawab Embun dengan penuh percaya diri.
Rain merasa sedikit kagum dengan jawaban Embun, tapi jelas tidak ingin menunjukkan hal itu di muka umum, bagaimana pun rasa benci di hatinya masih ada untuk gadis itu.
“Aku punya satu pertanyaan lagi, apa yang memotivasi kalian untuk melamar menjadi skeretarisku?” Rain kembali menatap tajam Embun, lantas berpaling ke kandidat yang duduk di paling kiri.
Jawaban dua kandidat itu sangat klise dan formal, meski begitu jawaban mereka diterima dengan baik oleh Beni, kepala HRD dan juga Rain.
Namun, saat tiba giliran Embun, pikiran gadis itu tiba-tiba menjadi kosong. Satu-satunya motivasinya melamar menjadi sekretaris adalah jelas untuk bisa dekat kembali dan mendapatkan maaf dari Rain. Meski Embun tidak tahu apakah Rain sudah memiliki kekasih atau belum, tapi baginya dekat dan bisa memperbaiki hubungan dengan pria itu adalah hal yang paling penting sekarang, dia harus menyelesaikan ganjalan di hatinya dan menuntaskan segala rasa.
“Sudari Embun Sky, giliran Anda.” Beni mengingatkan karena Embun terlihat grogi bahkan tangannya sampai saling bertautan di atas paha.
“Apa motivasi Anda melamar menjadi sekretaris direktur pemasaran PG Factory?”
“Motivasi saya .... motivasi saya adalah …. “ Kepala Embun serasa berputar-putar, dia mencoba fokus dan tidak memikirkan hal yang macam-macam, tapi sayang otaknya dikalahkan oleh hati, hingga dia menjawab dengan lantang.
“Saya ingin Diperistri Pak Rain.”