Bab 9 Keajaiban

1738 Kata
“Saya ingin diperistri pak Rain.” Semua mata tertuju pada Embun. Bahkan Beni sampai melepas kacamata lalu menggosok matanya untuk memastikan ekspresi wajah Embun setelah mengatakan ingin diperistri putra CEO tempatnya bekerja. Sementara itu, Rain masih bersikap sama. Ia bahkan tidak menunjukkan raut keterkejutan sedikit pun. Tidak, Rain bahkan memasang muka datar. Semua orang diruangan itu terdiam karena masih terkejut dengan jawaban Embun, hingga Rain meminta Beni untuk menutup wawancara itu dan mempersilahkan pelamar keluar ruangan. “Bagaimana Pak? mana yang akan Anda pilih?” tanya Beni setelah tiga kandidat sekretaris Rain keluar ruangan. “Siapa saja, yang jelas tidak gadis yang berkata ingin diperistri olehku,” jawab Rain tegas lantas pergi dari sana. Rain berjalan dengan langkah lebar kemudian pelan karena melihat Embun berjalan bak siput dengan pundak yang turun dan tas yang hampir menempel pada lantai. Rain memperlambat langkah kaki sampai Embun menuruni anak tangga. Pria itu mempercepat langkah kaki saat Embun sudah turun, tapi tiba-tiba dia harus kembali melambat karena gadis itu ternyata malah duduk kemudian menenggelamkan muka ke lutut. Rain membeku beberapa saat, hingga memutuskan untuk menghardik. “Apa Kamu bisa minggir? kamu menghalangi jalan.” Embun mendongak, kaget melihat Rain sudah berdiri di dekatnya. Ia bergegas bangun, bibirnya terasa kelu saat Rain melewatinya begitu saja tanpa berbicara. Pemandangan itu terpantau oleh Beni dan sang kepala HRD, hingga Beni yang memang tidak pernah bisa merahasiakan segala sesuatunya dari Skala, menceritakan kejadian wawancara itu ke sang atasan. “Putra Anda bahkan seperti sengaja memakai tangga, padahal ada lift khusus eksekutif di sana.” “Siapa nama gadis itu?” Skala mengulurkan tangan kanannya, meminta biodata gadis itu ke Beni. “Embun Sky Jordan.” Skala makin terkejut, dia membaca biodata Embun dengan seksama, Menyadari siapa gadis itu, Skala pun berucap,”Gadis itu, dia …. ” “Maaf Pak, apa Anda mengenalnya?” selidik Beni. “Ya, gadis ini mantan pacar Rain saat SMA. Ia mungkin cinta pertama anak itu.” Skala masih menatap biodata Embun dan mengingat kejadian enam tahun lalu. Saat itu dia merasa penasaran dengan sosok gadis yang menjadi pacar Rain, seperti orangtua pada umumnya, Skala juga ingin tahu seperti apa sosok Embun yang membuat Rain tergila-gila dan bahkan menurutnya merubah sikap sang putra menjadi lebih baik. Hingga, dia bertanya pada Gama dan keponakannya itu menjelaskan siapa Embun lengkap dengan statusnya yang terlahir kembar tapi berbeda ayah. Skala lantas mengingat kasus bayi kembar berbeda ayah yang pernah membuat gempar negeri ini, tapi tak lama berita itu tenggelam begitu saja. Dan orang-orang lama kelamaan melupakannya. “Ini sangat menarik,” ucap Skala. “Apa Rain memilihnya?” “Tidak Pak, putra Anda berkata terserah saya dan kepala HRD memilih yang mana asal tidak pelamar bernama Embun ini.” “Dasar Rain, dia sangat mirip denganku jika sudah dilukai,” gumam Skala di dalam hati. Ia menyadari dirinya juga dulu sangat membenci mantan kekasihnya karena meninggalkannya begitu saja, hingga akhirnya bisa membuka hati ke Bianca. “Apa Anda tidak mau berkomentar Pak?” tanya Beni saat Skala memberikan biodata Embun kepadanya tanpa berkomentar apa pun. “Berkomentar apa?” “Ada seorang gadis yang tiba-tiba ingin diperistri putra Anda, apa anda tidak merasa ini unik?” “Biarkan saja, anak muda memiliki kisah cintanya sendiri. Yang terpenting bagiku kamu sudah sepenuhnya kembali menjadi sekretarisku.” Skala mengerlingkan mata genit, membuat Beni langsung menyilangkan kedua tangan di depan d**a. “Ah … Bapak, ini masih siang,” candanya jenaka. 💦💦 “Kenapa? Bukankah nilaiku tertinggi di antara mereka?” Embun menatap layar laptopnya. Dia baru saja menerima pesan elektronik dari HRD PG Factory yang menyatakan dia belum diterima menjadi sekretaris direktur pemasaran mereka. “Aku memang sudah gila.” Embun merebahkan kepala, dia menghentakkan kakinya secara berulang karena merasa bodoh. “Kenapa aku bilang ingin diperistri olehnya? Embun … kamu gila,” teriaknya merutuki kesalahan yang dia perbuat. 💦💦💦 “Kamu sudah minum itu banyak sekali Bu.” Gama merampas minuman s**u fermentasi dari tangan Embun. “Tidak apa-apa Ge, katanya ini ‘kan mengandung bakteri baik. Aku butuh sesuatu yang baik, sepertinya apa yang ada di dalam diriku semuanya jahat.” Gama menekuk bibir bingung. Setengah jam yang lalu Embun menelepon memintanya datang ke taman yang berada tak jauh dari B Hotel. Namun, bukannya langsung mengatakan tujuannya meminta bertemu, Embun malah mempertontonkan aksi mabuk ala-ala dengan meminum s**u fermentasi. “Kata Mamiku. aku tidak boleh menyentuh minuman beralkohol, tapi aku ingin Ge. Aku ingin mabuk untuk melupakan kemaluanku sejenak,” ucap Embun dengan wajah murung. Gama menelan saliva, berharap kalau apa yang didengarnya tadi salah. gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu baru saja menyebut kata ‘kemaluan’. Ia menggaruk pelipis, menganggap Embun hanya salah merangkai kata. “Apa maksudmu? Apa kamu sedang ada masalah?” Gama merampas botol minuman dari tangan Embun. Di sebelah gadis itu sudah tergeletak banyak botol s**u fermentasi kosong. “Kamu bisa kembung Bubu.” “Ge, aku malu. Aku ingin meluapkan isi hatiku dan kegelisahanku, tapi aku tidak memiliki satu pun teman di sini, tapi tiba-tiba saja aku mengingatmu. Entah lah hanya kamu yang aku pikirkan.” Gama sedikit tersanjung dengan ucapan Embun, tapi sebagai pria dewasa dia juga sadar tidak boleh dengan mudah berbesar hati. Ia tahu bahwa Embun hanya menganggapnya teman, baik saat mereka remaja atau pun dewasa, Gama merasa hanya menjadi pemeran pembantu dalam hidup gadis itu. “Aku melamar menjadi sekretaris Rain di PG Factory,” ungkap Embun dengan bibir manyun. “Benarkah? apa kamu diterima?” tanya Gama penasaran. Embun memasang muka sedih dan menggeleng. “Tidak.” Ia menghela napas berat dan mendongak menatap langit yang bertabur bintang malam itu. “Aku tidak diterima. Rain, dia bahkan bersikap seolah kami tidak pernah memiliki masa lalu.” Gama yang sedikit banyak tahu tentang kisah cinta gadis itu memilih memasukkan botol-botol minuman s**u fermentasi ke dalam kantong plastik, lantas duduk di samping Embun. “Apa kamu ingin bertanya sesuatu tentang Rain, tanyakan saja! aku akan menjawabnya,” ucap Gama dengan nada lembut. Dari sorot mata Embun yang berkaca-kaca dia bisa menebak bahwa gadis itu masih memiliki perasaan ke sepupunya. “Rain, dia. Apa dia baik-baik saja setelah aku pergi ke Australia?” tanya Embun dengan tatapan sedih. “Tidak, dia tidak baik-baik saja. Dia bahkan hampir gila.” “Apa?” Gama dan Embun saling tatap. Namun, tatapan mereka jelas memiliki arti yang berbeda. Embun terkejut dengan apa yang Gama sampaikan, sedangkan pria itu terkejut karena secepat ini mendapat jawaban dari pertanyaan yang ada di otaknya. Ya, benar tebakannya. Embun memang masih menyimpan perasaan ke Rain. Gama memalingkan muka, dia terlihat sedikit dilema untuk menceritakan tentang apa yang dia tahu ke Embun. “Ge,” panggil Embun karena pria di sebelahnya malah terdiam membisu. “Kamu ingin aku mulai bercerita dari mana? Dari saat dia tahu bahwa aku juga menyukaimu, atau setelah kamu meninggalkannya tanpa pamit?” Kini lidah Embun terasa kelu, meski begitu dia tetap ingin mendengar apa yang terjadi kepada Rain kala itu. “Ceritakan semuanya padaku, jangan lewatkan sedikitpun.” 💦💦 Embun terduduk di tepian ranjang kamarnya, dia tidak bisa berkata-kata saat Gama menjelaskan apa yang terjadi setelah dia pergi begitu saja. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, dia tak menyangka bahwa Rain menganggap hubungan mereka sangat serius. Pria itu begitu mendambakannya, bahkan betapa hancurnya Rain kala ditinggalkan olehnya diceritakan dengan gamblang oleh Gama tadi. “Rain berubah menjadi dingin, dia tidak lagi murah senyum. Jangankan berpacaran lagi, didekati perempuan saja dia seperti anti. Orangtuanya sampai takut kejiwaannya terganggu, tapi seiring berjalannya waktu Rain baik-baik saja, hanya memang tidak pernah terlihat berkencan dengan seorang gadis selama enam tahun ini.” Embun tertunduk menatap ponsel di genggamannya. Menatap nomor ponsel Rain yang dia dapat dari Gama tadi. “Enam tahun sepertinya tidak bisa menghapus namamu dari hatinya, berbeda denganku. Saat tahu kalian berpacaran, aku memutuskan untuk membunuh perasaanku. Aku melihat kebahagiaan di matamu saat bersama Rain, begitu juga sebaliknya. Jujur aku sangat menyayangkan kalian berpisah seperti itu, terlebih kamu mungkin melakukan itu juga karena salahku.” Embun mengembuskan napas lelah, “Aku hanya takut dibully dan pergi menyelamatkan diri. Aku tidak tahu bahwa itu benar-benar melukaimu Rain, dan ternyata aku mendapatkan karma, aku tidak bisa melupakanmu meski enam tahun sudah berlalu,” gumam Embun. Dia tanpa sadar menekan nomor Rain dan meletakkan ponselnya ke atas ranjang. Embun berharap keajaiban terjadi, sehingga dia bisa menjadi sekretaris Rain. Ia butuh ibu peri, tapi jika tidak ada bapak peri pun boleh. Hingga keinginannya itu terkabul. Seorang bapak peri diam-diam menemui dua orang pelamar yang menjadi saingannya. 💦💦💦 Beberapa hari kemudian Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat Embun kembali menarik selimut. Ia merasa malas, tak memiliki semangat karena orang yang sangat ingin dia temui tidak menerimanya dengan baik, sedangkan kembali ke Australia juga tidak mungkin dia lakukan karena posisinya sebagai General Manager B hotel. Dulu dia memohon ke sang papi untuk diizinkan pulang ke Indonesia, jika dia berubah pikiran secepat ini jelas hanya akan membuat khawatir orangtuanya. Hujan kembali turun dan semakin menggila, bulan Desember benar-benar kelabu baginya. Masih berbaring dengan nyaman tanpa ingin bergeser satu senti pun, Embun tiba-tiba dikejutkan dengan dering ponselnya. Ia malas, sungguh malas dan membiarkan ponsel itu diam dengan sendirinya. Namun, tidak hanya sekali, panggilan itu masuk sampai tiga kali, hingga mau tak mau membuat Embun bangkit dan menyambar benda pipih itu dari nakas. Embun mengernyit mendapati sebuah nomor yang tidak ada di dalam kontaknya menelepon sepagi itu. Ia ragu untuk menerima panggilan dari orang yang tidak dikenal seperti itu, tapi tangannya tiba-tiba bergerak menggeser tombol hijau pada layar. Embun menyentuhkan benda itu ke telinganya. “Halo, selamat pagi. Apa benar dengan saudari Embun Sky Jordan?” suara perempuan dari seberang sana mengejutkan Embun. “Maaf, tapi Anda siapa?” “Perkenalkan saya Tari, staff HRD PG Factory. Saya ingin menyampaikan bahwa Anda terpilih menjadi sekretaris direktur pemasaran kami. Kami sudah mengirim email, tapi tidak ada balasan dari Anda.” “Apa?” Embun melongo tak percaya. “Bukankah saya tidak diterima?” “Dua kandidat yang lain mengundurkan diri, maka dari itu Anda lah yang terpilih.” “Benarkah?” Embun semakin cengo, dia tidak menyangka bahwa keajaiban benar-benar terjadi kepadanya. “Iya, dan sebenarnya di situ sudah kami jelaskan bahwa kontrak yang seharusnya mulai per Januari tahun depan diajukan per Desember. Anda dibutuhkan berada di kantor segera,” ucap Tari. “Kapan saya dibutuhkan?” tanya Embun yang masih tidak percaya. “Hari ini juga.” “Apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN