Beberapa hari yang lalu
Makan malam di kediaman Skala nampak seperti biasa, putranya Rain dan putrinya Cloud menikmati sajian di piring mereka dengan lahap. Sedangkan Bianca berjalan dari arah dapur membawa sebuah kue yang masih berada di dalam loyang.
“Mama coba resep baru,” ucapnya dengan bangga.
Karena di pagi hari Bianca sibuk bekerja, jadilah kegiatan masak memasak dia lakukan di malam hari, akibatnya berat badan seluruh keluarga naik signifikan. Jika tidak diimbangi dengan olahraga dan gym, sudah bisa dipastikan para pria di keluarga itu tidak akan memiliki enam roti sobek di perut mereka.
Cloud yang melihat kue yang baru saja matang langsung melompat, gadis berumur lima belas tahun itu langsung meminta sang mama untuk memotongkannya meski dia belum juga selesai makan.
“Cloud lihat badanmu itu, bukannya kamu bilang mau diet,” Hardik Skala. Untuk tinggi badan dan seusianya, anak gadisnya itu memang terlihat kelebihan berat badan.
“Hish … sudah biarkan saja,” ucap Bianca, dia cium kening putri kesayangannya lantas memotongkan kue yang masih panas itu untuk Cloud.
“Biarkan saja! dan lihat saja nanti, tidak akan ada pria yang mau berpacaran dengannya.”
Cloud yang hampir memasukkan kue ke dalam mulutnya pun menoleh sang kakak yang baru saja menghinanya. Ia tatap Rain dengan sinis dan berucap, “Apa kamu tidak bisa melihat dirimu sendiri? untuk apa tampan tapi gay.”
“Cloud!” Bianca mengusap pundak putrinya dan menggeleng. “Dengan saudara tidak boleh saling menghina!”
“Tapi Ma, apa Mama tidak curiga? Kak Rain ganteng, dia juga pintar, tapi selama ini tidak pernah sekali pun mengajak cewek main ke rumah. Dia tidak pernah terlihat mempunyai pacar.”
“Untuk apa berpacaran? Aku akan langsung mengajak seorang gadis datang ke rumah dan itu istriku,” ketus Rain.
“Wah … keren sekali sang raja hujan kita,” cicit Cloud.
Bianca dan Skala pun saling pandang. Jelas tidak ada rahasia di antara pasangan suami istri itu. Namun, tidak untuk satu hal, perkara Embun yang melamar menjadi sekretaris putranya Skala tidak menceritakannya ke Bianca, karena Skala tahu Bianca menganggap Embun melukai Rain. Bianca berpikir bahwa gadis bernama lengkap Embun Sky Jordan itu lah yang membuat putranya berubah menjadi seperti sekarang.
Setelah makan malam selesai, keluarga Skala bercengkerama seperti biasa di ruang keluarga. Skala yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya baru menyadari bahwa Rain tidak berada di sana. Ia pun meninggalkan Cloud dan Bianca, mencoba mencari keberadaan anak sulungnya itu.
“Rain kemana dia?” tanya Skala sambil berlalu.
“Paling di kamar atau ruang kerjanya,” jawab Bianca tanpa melepaskan pandangannya dari tablet yang sedang dia simak bersama sang putri.
💦💦
“Sedang apa?”
Rain yang sedang berdiri sambil memegang sebuah buku di dalam ruang kerjanya dibuat terkejut dengan suara Skala. Ia menoleh dan menunjukkan buku di tangannya ke sang papa.
Skala pun memilih untuk masuk dan duduk di sofa, dia perhatikan putranya itu sebelum bertanya. “Rain, kamu ingatkan bahwa dua hari lagi utusan perusahaan snack cokelat yang akan berkolaborasi dengan perusahaan kita akan datang ke pabrik?” tanya Skala
“Hem … semua sudah siap, mereka ingin melihat cara kita memasarkan produk ‘kan?”
Skala menganggukkan kepala. “Ya, tapi tepat di hari itu Beni cuti, dia meminta izin untuk pergi mengantar putranya yang akan mulai kuliah lagi di Jogja.”
Mendengar informasi dari papanya, Rain menoleh. Ia menutup buku yang sejak tadi dibacanya dan meletakkannya kembali ke rak.
“Memangnya ada masalah?” tanya Rain.
“Masalahnya dia sudah meminta izin jauh-jauh hari dan Papa menyetujuinya.”
“Ya sudah aku bisa menemui mereka sendiri.” Rain yang memang penuh percaya diri, merasa tidak ada masalah meski tidak ada yang menemani.
“Tapi kamu membutuhkan sekretaris untuk mengakomodir dan mencatat apa yang menjadi temuan dan keinginan mereka, tidak mungkin seorang direktur melakukannya sendiri,” ucap Skala, matanya menyipit seolah sedang berpikir keras. “Ah … bukankah kamu sudah memiliki sekretaris? Minta saja bagian HRD memanggilnya, anggap saja menjadi masa percobaan untuk sekretarismu itu, kamu bisa menilainya langsung dan masih bisa menggantinya jika kurang cocok.”
Mendengar ide dari sang papa, Rain nampak berpikir. Hingga akhirnya dia mengangguk menerima saran dari Skala.
“Boleh juga.”
💦💦💦
“Kamu sudah memastikan tidak ada yang tahu ‘kan?”
Siang itu Skala berjalan di depan Beni dengan penuh semangat, keduanya bergegas menuju mobil yang berada di parkiran untuk menuju satu tempat dan menemui dua orang yang berbeda.
“Sudah Pak, mereka juga sudah setuju dan merasa tertarik dengan tawaran Anda,” jawab Beni yang langsung mengambil alih kemudi mobil.
Sepanjang perjalanan Skala hanya menatap keluar jendela. Sebuah langkah dia ambil secara diam-diam meskipun beresiko. Ia ingin menemui dua orang pelamar sekretaris Rain. Skala ingin menawarkan pekerjaan lain untuk dua orang itu.
“Kenapa yang Anda tawari keduanya Pak, bukan yang terpilih saja?” tanya Beni beberapa menit sebelum mereka berangkat tadi.
“Kamu pikir Rain bodoh? saat sekretaris yang kamu dan kepala HRD pilih mengundurkan diri, anak itu pasti akan meminta kandidat ke dua untuk dijadikan sekretarisnya dan bukan gadis bernama Embun itu. Untuk itu aku harus memberinya pekerjaan juga.”
“Anda benar-benar jeli Pak,” puji Beni.
“Kamu pikir selama ini bagaimana caraku bisa bertahan di dunia bisnis? Seorang pebisnis harus jeli,” jawab Skala. “Dan bertindak sedikit licik jika dibutuhkan demi hal baik,” imbuhnya di dalam hati.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Beni berhenti di sebuah restoran, keduanya pun masuk dan langsung menuju meja yang sudah dipesan. Seorang gadis sudah menunggu mereka. Sekretaris terpilih itu adalah target Skala yang pertama. Tentu dia sudah memersiapkan pengganti pekerjaan untuknya, tak main-main, dia bahkan mencari tahu bahwa gadis itu ingin bekerja di bidang perbankkan.
“Kata temanku di bank RUT kamu bisa mulai bekerja besok,” ucap Skala. “Dan sebagai tanda terima kasih karena kamu mau mengundurkan diri sebagai sekretaris putraku, aku punya hadiah.”
Beni menyodorkan sebuah kotak ke depan gadis itu. Matanya pun membelalak lebar mendapati tas branded berada di dalamnya.
“Te-terima kasih Pak,” ucap gadis itu terbata karena masih tidak percaya.
Skala terlihat bernapas lega, untuk kandidat ke dua jelas lebih muda dari yang pertama karena sebenarnya memang sudah tidak diterima bekerja sebagai sekretaris. Skala malah memberikan pekerjaan yang lain tentu saja dia senang.
“Pak, apa Anda sangat menyukai gadis bernama Embun itu sampai melakukan ini?” tanya Beni saat mereka kembali ke kantor.
“Aku? tidak tahu, karena aku belum mengenalnya tapi aku tahu Rain sangat menyukainya.”
💦💦
“Se-se-sebentar, hari ini? saya harus bekerja hari ini?” tanya Embun mendengar permintaan Tari yang begitu mengejutkan.
“Iya, saya harap Anda bisa sampai ke sini jam sembilan, setelahnya ada sedikit arahan untuk Anda, silahkan langsung saja ke ruang HRD sesampainya di gedung PG Factory.”
Embun melongo, meski dia ingin sekali menjadi sekretaris Rain bukankah dia bisa menolak jika pekerjaannya tergesa seperti ini. Namun, mengingat dia tidak membuka emailnya beberapa hari ini, dia menganggap ini memang kesalahannya.
"Apa yang harus aku pakai?" Embun bingung sendiri, dia mondar-mandir seperti setrikaan di dalam kamar, gadis itu sampai lupa yang terpenting adalah memberi tahu bawahannya bahwa mulai sekarang setiap pagi sampai sore dia tidak akan berada di hotel.
💦💦💦
Mata kepala HRD berkedip tak percaya saat Embun sudah berdiri di depannya. Ia bahkan memindai penampilan Embun dari atas sampai ke bawah.
"Maaf, apa ada yang salah?" Tanya Embun yang kemudian menolehkan tubuh bergantian ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang aneh pada dirinya.
"Tidak." Kepala HRD menggeleng lantas meminta Embun mengikuti seorang staff HRD lainnya bernama Kiki yang akan menjelaskan tugas dadakannya hari itu.
"Kenapa Bu Citra memandanginya seperti ?" Tanya Tari kepada atasannya.
"Tas, sepatu, jam tangannya pasti KW 'kan? dia hanya beruntung diterima bekerja karena dua kandidat sekretaris lainnya malah mengundurkan diri, kamu tahu-?" Dengan lirikan mata sedikit julid, Citra sang kepala HRD menoleh ke Tari yang menggeleng.
"Dia berkata ingin diperistri pak Rain saat ditanya motivasi yang membuatnya melamar pekerjaan sebagai sekretaris."
"Apa?" Tari melotot tak percaya. "Jangan-jangan dia gold digger, wanita yang sengaja mendekati pria-pria kaya agar bisa morotin duitnya."
Citra mengedikkan bahu lalu menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. Wanita itu berbicara dengan nada bak patriot penyelamat bangsa. "Kita harus mengawasi dia, jangan sampai Pak Rain terjerat oleh nya."
"Tapi Bu, ada yang bilang Pak Rain tidak suka wanita."
"Apa?" Karena terlalu terkejut Citra berteriak, alhasil Embun dan Kiki pun menoleh ke wanita yang menggunakan blus bunga-bunga itu.
“Ehem …. Kembali bekerja,” ucap Citra mencoba menutupi kecanggungan yang terjadi. Dia mengerlingkan mata pada Tari dan menunjukkan ponsel di tangannya, memberi kode untuk melanjutkan gosip itu via pesan pribadi.
Embun dan Kiki pun kembali fokus ke perbincangan mereka, Kiki menjelaskan tadi bahwa hari tu ada dua orang utusan dari Belgia datang untuk melihat bagaimana cara pemasaran produk di PG Factory.
“Jadi perusahaan itu tidak serta merta menerima kesepakatan, untuk menjaga nama baiknya mereka harus meninjau perusahaan yang akan diberikan lisensi memasarkan produk andalan mereka,” jelas Kiki.
“Lalu apa tugasku hari ini?” tanya Embun memastikan kembali.
“Kamu hanya menemani Pak Rain, catat semua yang utusan dari Belgia itu inginkan, jangan sampai ada yang terlewat, kamu buat laporan dan berikan ke Pak Rain nantinya.” Kiki menjelaskan sampai selesai tapi kemudian keningnya mengernyit heran. “Apa kamu belum memiliki pengalaman sama sekali dalam hal seperti ini?”
“Itu-“
Belum juga Embun mendapatkan alasan atas pertanyaannya tapi Kiki sudah berbicara kembali. “ Jangan-jangan kamu belum pernah berpengalaman menjadi sekretaris, iya ‘kan? Wah …. kamu benar-benar beruntung. Apa kamu tahu? dua kandidat sekretaris lainnya mengundurkan diri, satu orang mundur setelah melihat kontrak kerjanya dan satu lagi sudah mendapatkan pekerjaan yang lain.”
“Begitukah, jadi apa menurutmu aku mendapat pekerjaan ini karena dewa keberuntungan berpihak padaku atau seorang ibu peri membantuku?” tanya Embun.
Kiki tiba-tiba merasa tak enak hati, ucapannya barusan tentu bukan dimaksudkan merendahkan kemampuan Embun. “Maaf, apa aku salah bicara?” tanyanya.
“Tidak-tidak,” Embun tertawa dan menepuk pundak Kiki. “Ayo lanjutkan penjelasannya!”
💦💦💦
Embun memeluk sebuah map di tangan, sesekali membuang napas lewat mulut karena merasa cemas. Kini, dia sedang berada di dalam lift menuju ruang kerja Rain yang berada di lantai lima setelah mendengar penjelasan dari bagian HRD. Gadis itu menelan saliva, tenggorokannya terasa sangat kering meski di ruang HRD tadi dia sudah meminum sebotol air.
“Selama ini Pak Rain memang tidak memiliki sekretaris sendiri. Pak Beni yang merupakan sekertaris papanya lah yang menjadi sekretarisnya. Jadi kamu adalah sekretaris pertama untuk dia. Pesan dari Pak Beni agar kamu tidak kabur, kamu harus menandatangani kontrak ini."
“Ka-kabur, apa semengerikan itu dia?”
Embun melangkahkan kaki keluar dari dalam lift, dia mengambil napas dari hidung dan mengembuskannya pelan lewat mulut. Ia melewati beberapa staff Rain yang duduk di kubikel. Beberapa dari mereka menjulurkan kepala mencoba melihat siapa yang datang. Hingga tiba-tiba saja mereka semua berdiri, ternyata Rain baru saja kembali dari ruangan lain. Embun pun memutar tumit, dia sampai mundur beberapa langkah karena kaget melihat sosok cinta pertamanya itu.
“R-R-R-Rain.”