“R-R-R-Rain.” Embun memeluk erat map berisi salinan kontrak yang diberikan bagian HRD kepadanya. Matanya terus tertuju pada pria yang kini berjalan perlahan menghampirinya. Hening, tidak ada satu staff pun yang membuka suara. Hingga Rain berhenti tepat di depan Embun dan bertanya- “Apa yang kamu lakukan di sini?” Embun menelan saliva, dia memejamkan mata sejenak sebelum menatap Rain yang diam-diam memindai wajahnya. “Sa-sa-saya sekretaris baru Anda,” ucap Embun meski sedikit terbata, lidahnya serasa kaku. Sejatinya dia takut Rain akan membentaknya karena dia paling tidak bisa dibentak. Rain tersenyum dan membuat Embun semakin ketakutan. Senyumannya jelas bukan senyuman senang melainkan lebih ke cibiran dan rasa tak percaya. Rain membuang muka dan seketika semua staffnya yang berada d

