Chapter 92 Badan Keyla bergetar, tangannya mengepal mengluarkan keringat dingin. Sesungguhnya ia merasakan perutnya nyeri. Namun, sebisa mungkin ia mengabaikan sebab rasanya masih dalam batas wajar. Nyeri seperti selayaknya wanita sedang datang bulan. Tapi ia tidak sedang mengalami hal itu. Keyla memilih mundur duduk di sofa panjang sambil melihat ke arah Dewa yang tampak sibuk membukai lembar setiap lembar berkas di atas meja. Tampaknya suaminya itu begitu banyak kerjaan. Oleh karena itulah saat ini lebih suka marah-marah hanya karena hal sepele. Melihat kesibukan Dewa membuat Keyla merasa bersalah. Sebab, kalau saja ia tidak menyuruh sekretaris tadi pergi semua tidak akan seperti ini. Keyla tidak peduli kini, meskipun Dewa membentaknya melarang untuk membantu. Keyla bersikukuh memun

