Renaldi menutup pintu pelan. Tangannya gemetar. Zane memperhatikan itu. Ia berdiri tegap, tidak menyentuh apa pun, tidak duduk, tidak mencoba melembutkan suasana. Hanya berdiri. Diam. Ruang tamu Renaldi berantakan dengan jaket dilempar di sofa, gelas-gelas kosong di meja, kertas-kertas tak jelas tujuan berserakan. Renaldi berdeham, menunduk, lalu mendongak lagi dengan hati-hati. "Kamu… kamu datang sendirian?" "Jangan alihkan." Zane memotong cepat. Renaldi terdiam. Ia menarik napas pelan, tidak berani terlalu keras. "Kamu tidak bisa terus lari dari ini. Dari aku. Dari apa yang kamu lakukan." "Aku…." Renaldi membuka mulut, tapi kata itu hampir tidak keluar. "Aku takut, Zane. Aku sudah menyerahkan semuanya pada kalian. Kalian bebas melakukan apa saja." Zane menatapnya tanpa berkedip. "

