Kampus sedang ramai oleh arus siang ketika perempuan itu muncul. Rambut pirangnya terang, ditata rapi tanpa terlihat kaku. Ia tidak tampak kebingungan mencari arah. Mahasiswa-mahasiswa menoleh sekilas, lalu kembali berjalan. Perempuan itu tidak berhenti oleh tatapan siapa pun. Renaldi melihatnya dari jauh lebih dulu. Dadanya mengencang. Ia berdiri di sisi Zane, terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Angin menggeser ujung jaket Zane. Renaldi merasakan jarak itu tanpa menoleh. Ibu Renaldi berhenti tepat di depan mereka. Ia tersenyum. Matanya bergerak cepat, mencatat. Wajah Renaldi. Posisi tubuh. Jarak di antara dua orang itu. "Lama tidak lihat Mama datang ke kampus," katanya. Renaldi menelan. "Ma—" katanya, lalu berhenti. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Perempuan itu mengalihkan

