Rendi menemui Renaldi di sebuah sudut kampus yang jarang dipilih. Bangunan lama dengan dinding kusam, bangku-bangku beton yang dingin meski matahari siang menggantung tinggi. Tidak ada mahasiswa lain yang bertahan lama di sana. Renaldi sudah duduk ketika Rendi datang. Punggungnya tegak dengan tas di pangkuannya, tangannya saling mengunci. Ia tidak terlihat terkejut. Rendi tidak duduk. Ia berdiri di depan Renaldi dengan jarak satu langkah. "Aku tidak datang untuk ribut," kata Rendi. "Aku datang untuk satu hal." Renaldi mengangguk kecil. "Teruskan." "Seperti yang diminta Zane," lanjut Rendi. Ia tidak menaikkan suara. "Atas semua yang terjadi." Renaldi tidak bergerak. Ia menatap ke depan, bukan pada Rendi, melainkan ke ruang kosong di belakangnya. "Sudah kutawarkan, 'kan?" katanya. "B

