Zane duduk di tepi tempat tidurnya, dengan lutut ditekuk ke d**a, mencoba menenangkan sarafnya. Kamar terasa sunyi, Rena sedang mandi. Ponselnya bergetar di atas kasur, menampilkan nama Rendi.
Zane segera meraihnya.
"Halo, Rendi," sapa Zane.
"Zane! Gimana kabarmu?"
"Baik. Kamu? Tugasmu sudah selesai?"
"Tugas aman! Aku telepon sambil jalan nih, mau jemput Perl. Dia habis di kelas yang paling membosankan di dunia." Rendi tertawa.
Zane tersenyum kecil. "Tolong sampaikan salamku pada Perl, ya."
"Yah... Tadi pagi dia panik karena nggak bisa nemuin kunci motornya. Ternyata dia lupa, kuncinya masih nyantol di jaketku dari semalam waktu kita nonton." Rendi menceritakan detail kecil itu seperti hal paling menggemaskan di dunia. "Aku nggak bisa marah. Cuma ketawa aja. Lihat wajah paniknya itu lho."
Zane mendengarkan. Ia menanggapi dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Terus, kami punya rencana buat akhir pekan. Mau coba camping di Puncak. Tapi Perl bilang dia nggak mau tidur di tenda yang kecil, nanti nggak bisa selfie katanya. Jadi, kami sewa yang glamping sekalian yang ada pemanas airnya."
Rendi menjelaskan betapa ia berusaha membuat segalanya sempurna untuk Perl. Tentang bagaimana Perl memilihkan kaus yang senada dengan milik Rendi, bagaimana mereka berdebat kecil tentang film apa yang akan ditonton, dan bagaimana Perl selalu menyandarkan kepalanya di bahu Rendi saat mereka menunggu bus. Hal-hal sederhana, namun bagi Rendi, itu adalah inti dari kebahagiaannya.
Saat Rendi bercerita, Zane merasakan kontras antara kehidupan Rendi dan kehidupannya sendiri.
"Ah, iya, itu dia Perl! Aku tutup dulu ya, Zane. Nanti malam aku telepon lagi, aku janji! Jaga diri baik-baik di sana, ya. Jangan terlalu stres!"
"Ya, Ren. Kamu juga, ya. Selamat bersenang-senang dengan Perl," kata Zane, menutup telepon.
Zane meletakkan ponselnya, menatap garis solatip hitam di lantai yang kini terasa konyol dan tidak berguna. Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka, dan Rena keluar. Ia mengenakan bathrobe putih dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Siapa yang telepon?" tanya Rena, matanya menyipit dengan sedikit rasa ingin tahu.
Zane segera memasang wajah datarnya. "Hanya Rendi. Dia cerita tentang rencana kencannya dengan Perl. Biasalah, hal-hal lucu," jawab Zane.
Rena tersenyum dan berjalan menuju meja riasnya.
Setelah beberapa menit, dia selesai merapikan diri. Ia kini duduk di kursi belajarnya, sibuk memoles kukunya dengan warna merah muda cerah.
"Jadi, Rendi itu mantanmu, ya?" tanya Rena santai, tanpa menoleh, fokus pada kuas kecil di tangannya. Zane yang sedang mencoba tenggelam dalam buku kuliahnya, mengangkat pandangan.
"Bukan," jawab Zane singkat, kembali menatap teks di bukunya.
Rena mendengus geli. "Kedengarannya seperti dia sedang memastikan kamu baik-baik saja dan tidak ada orang lain yang mendekat, tahu." Rena meniup kukunya yang basah.
"Perl kan pacarnya. Dia selalu tahu aku kesulitan adaptasi di sini," jelas Zane. Ia sengaja tidak memberikan detail lebih lanjut, berharap Rena akan kehilangan minat.
"Perl, ya?" Rena mengulang nama itu perlahan, seolah sedang mencicipi rasanya. "Nama yang cantik. Apakah dia secantik namanya?"
"Ya, kurasa begitu," kata Zane singkat, membalik halaman buku.
Rena tidak peduli. Ia meletakkan kuasnya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Zane dengan wajah penasaran.
"Jadi, Rendi itu tipe yang bagaimana? Maksudku, seperti apa dia sebagai 'pahlawan'? Dia melindungi pacarnya dari apa? Nyamuk?" Rena tertawa kecil, meskipun tawa itu terdengar sedikit sinis di telinga Zane.
Zane menghela napas, menyadari bahwa ia harus memberikan sedikit umpan untuk membuat Rena diam.
"Rendi... dia hanya tipe yang sangat detail dan perhatian. Dia bukan tipe yang agresif atau terlalu mengontrol. Dia tipe yang bisa dipercaya," kata Zane, sengaja menekankan kata 'dipercaya' dan 'tidak agresif'.
Mendengar itu, Rena menyilangkan tangannya di depan d**a.
"Oh, jadi dia tipe membosankan. Aku lebih suka tipe yang mengambil tindakan nyata, tahu? Daripada hanya bicara."
Zane merasakan dingin merayap di tengkuknya.
"Ya, tapi Perl merasa aman. Itu yang penting," balas Zane, mencoba membela konsep hubungan yang sehat.
"Aman dan dicintai. Tentu. Tapi, Zane..." Rena tiba-tiba bangkit, berjalan mendekati garis solatip. Ia berdiri di sisi garisnya, menatap Zane.
"Kamu di sini juga harus merasa aman dan dicintai. Aku akan memastikan itu. Mungkin kau mau teh lagi?"
Zane merasakan alarm berbunyi keras di dalam benaknya.
"Tidak perlu, Rena. Aku... aku akan minum air putih saja," tolak Zane, mencoba bersikap normal. Rena mengerutkan kening.
"Kenapa? Aku membelinya khusus untuk membantumu rileks."
Zane menggeleng sambil tersenyum. "Tidak usah. Aku kekurangan mineral akhir-akhir ini."
Dua minggu berlalu sejak percakapan terakhir dengan Rendi. Selama dua minggu itu, Zane kembali pada rutinitasnya. Syukurlah, dia tidak terlalu sering bermimpi lagi. Zane memperhatikan kalender digital di ponselnya. Sudah hampir sebulan sejak ia terakhir menerima telepon yang panjang dari Rendi. Biasanya, Rendi akan menelepon setidaknya sekali seminggu untuk memastikan Zane baik-baik saja dan bercerita tentang Perl.
Zane mencoba menelepon Rendi dua kali pada malam yang berbeda, tetapi hanya masuk ke kotak suara. Ia memutuskan untuk meninggalkan pesan di i********: Rendi.
"Ren, kamu sibuk banget ya? Kalau ada waktu, telepon balik."
Beberapa hari kemudian, saat Zane sedang beristirahat setelah jam kuliah, ponselnya bergetar, menampilkan notifikasi balasan dari Rendi. Pesan itu singkat.
"Sorry, Zane. Akhir-akhir ini sibuk banget. Ada masalah. Nanti aku kabari ya. Kamu baik-baik aja kan di sana?"
Rendi yang selalu terbuka tiba-tiba menjadi tertutup dan singkat. Ia segera membalas, "Sibuk karena tugas kuliah? Atau sibuk sama Perl? Jangan lupa istirahat, Ren."
Balasan Rendi datang hanya beberapa menit kemudian.
"Bukan. Bukan karena kuliah. Tapi karena Perl. Dia lagi diteror. Aku pusing banget urusin ini."
Mata Zane melebar. Teror? Ia segera mengetik balasan dengan jari gemetar.
"APA? Diteror siapa, Ren? Kamu sudah lapor polisi?"
Rendi membalas lebih cepat kali ini.
"Dia cuma akun anonim di sosial media yang terus-terusan kirim pesan ke Perl. Aku panik banget, Zane. Perl sampai nggak berani buka medsos lagi. Aku sudah coba lacak."
Zane duduk terdiam dengan ponsel di tangannya. Jantungnya berdebar kencang. Meskipun Rendi dan Perl berada ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, cerita Rendi terasa menakutkan, seperti gaung dari situasi yang pernah dialami Zane, hanya saja targetnya kini berpindah.
"Aku harap kalian baik-baik saja," balas Zane.
Zane meletakkan ponselnya. Rena masuk dari luar, membawa dua cangkir teh hangat.
"Aku buatkan teh chamomile." Rena meletakkan cangkir itu di sisi meja Zane.
Hal ini mengganggu Zane selama beberapa hari berikutnya. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada kuliah, dan setiap kali ponselnya bergetar, ia berharap itu adalah Rendi, memberikan kabar baik bahwa si penguntit anonim telah tertangkap atau setidaknya, Perl sudah merasa aman.
Namun, Rendi tetap sulit dihubungi. Zane menelepon beberapa kali dalam dua hari berikutnya, tetapi panggilannya selalu berakhir di kotak suara. Rendi yang selalu fast response tidak pernah menghilang begini, apalagi saat pacarnya sendiri berada dalam bahaya.
Di kamar, Zane mondar-mandir dengan gelisah, ponselnya selalu berada di tangan. Rena memperhatikannya dari tempat tidur, di mana ia sedang membaca majalah fashion.
"Kenapa? Kamu terlihat seperti ingin memecahkan lantai itu," komentar Rena mencoba untuk bercanda. Zane menghentikan langkahnya.
"Aku khawatir dengan Perl, dia diteror. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk."
Rena melipat majalahnya dan duduk tegak.
"Ya ampun, kasihan sekali Perl," kata Rena, meletakkan majalahnya. Ia melangkah melewati garis solatip dan mendekati Zane. "Tapi, bukankah kamu bilang Rendi itu bakal melindunginya?"
Rena meletakkan kedua tangan di bahu Zane. "Aku yakin Rendi sudah mengambil tindakan. Mungkin dia sedang sibuk melacak orang itu, atau mungkin dia sedang menghabiskan waktu bersama. Dia tidak bisa dihubungi karena dia sedang fokus, itu saja."
Zane menatap wajah Rena.
"Tapi teror di media sosial itu aneh, Rena. Rendi bilang dia tahu detail kecil tentang Perl. Itu bukan sekadar hater biasa," desak Zane, mencoba mencari logika atau empati dari Rena.
Rena hanya tersenyum meremehkan.
"Ya, itu gampang sekali dilakukan, Zane. Dunia internet itu kecil. Kalau seseorang benar-benar mau, mereka bisa mencari tahu segala hal tentangmu, apalagi kalau Perl sering mengunggah kegiatannya. Itu bukan sihir. Rendi pasti akan mengurusnya."
Rena menarik Zane ke tempat tidur, menyuruhnya duduk.
"Ayo, jangan khawatirkan orang di seberang samudra. Fokus pada dirimu sendiri di sini. Aku akan ambilkan camilan manis. Itu selalu berhasil membuat mood menjadi lebih baik."
Rena berjalan ke sisi lemarinya, mengeluarkan sebungkus camilan manis, dan kembali.
Ruangan psikolog itu bersih, berpendingin udara, dan memiliki aroma lavender. Dia akhirnya kembali kemari setelah sekian lama menahan diri. Dia menyerah, sekarang duduk di sofa tunggal yang empuk, tangannya mengepal di atas lutut.
"Saya tidak tahu lagi. Apakah saya... apakah trauma masa lalu saya kini membuat saya berhalusinasi? Saya merasa yakin disentuh, saya merasa terkejut."
"Sepertinya kalaupun kamu jadi pindah kos, ini akan tetap terjadi. Pikiranmu, Zane, sedang mencoba melindungi dirimu sendiri dengan cara yang salah, mengubah rasa takut menjadi 'bukti' yang tidak ada. Kamu mencari ancaman, dan kamu menciptakannya sendiri."
Penjelasan itu terdengar masuk akal, sangat ilmiah.
"Kamu butuh obat baru. Ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Tujuannya bukan hanya membuatmu tidur, tetapi juga menenangkan sistem sarafmu."
Psikolog itu mengambil sebuah formulir resep dan mulai menulis.
"Apa... apa efek sampingnya? Obat ini membuat saya sangat lemas, ya?"
"Semua obat memiliki efek samping, Zane. Tapi obat ini dosisnya sudah pas. Efek samping yang paling umum adalah rasa kantuk yang lebih kuat di pagi hari dan sedikit pusing. Jika kamu menggunakannya sesuai dosis, kamu hanya akan mendapatkan tidur nyenyak, tidak lebih. Ini untuk membantumu."
Dokter Araya menyerahkan resep itu kepada Zane, bersama dengan kartu nama dan jadwal konsultasi berikutnya.
"Kita hanya perlu mengobati trauma itu."
Zane mengambil resep itu.
"Baik. Terima kasih banyak. Saya akan mencobanya."