Bab 17

1595 Kata
Ketika Zane terbangun, kamar sudah terang benderang oleh cahaya matahari. Ia membuka mata dan merasa sedikit dingin, cepat sekali berubah dari hawa panas tadi malam. Ia merasakan lemas yang luar biasa, seolah semua energinya telah terkuras. Dia langsung memeriksa dirinya, meraba celananya, memeriksa pakaian dalamnya. Semua pakaiannya masih lengkap. Tidak ada yang robek atau hilang. Tubuhnya kering. Tidak ada sensasi basah, tidak ada bau amis yang menandakan aktivitas seksual. Sisi tempat tidurnya tampak normal. Zane turun dari tempat tidur, masih merasa kaku dan pegal di seluruh tubuh, tetapi tidak ada bukti yang nyata atas apa yang ia yakini telah terjadi. Tidak ada bekas air mata di bantal, tidak ada bukti apa pun yang bisa ia tunjukkan. Ia menarik napas lega, untuk sesaat. Rena tidak ada di kamar. Tempat tidurnya rapi, dan di atas bantal Zane, ada sebuah catatan kecil yang diselipkan. Zane mengambilnya. Tulisan tangan Rena yang rapi tertera di sana. Aku sudah ke kampus duluan, Zane. Ada kelas pagi yang penting. Aku tidak tega membangunkanmu lagi karena kamu tidur nyenyak sekali! Aku sudah siapkan sarapan di meja. Kamu kelas siang, kan? Jangan lupa dimakan, ya. Sampai ketemu nanti! <3 Zane meremas kertas itu di tangannya. Dia berjalan ke dapur kecil. Di meja sudah tersaji sepiring nasi goreng hangat yang diletakkan di bawah penutup, dan segelas jus segar. Aroma masakan Rena tercium harum. Perut Zane yang kosong merespons. Ia memang lapar. Setelah semua yang terjadi semalam, tubuhnya menuntut energi. Namun, dihadapkan pada sarapan itu, dia malah merasa mual entah kenapa. Ia duduk di kursi, menatap piring nasi goreng itu. Keputusannya untuk tetap tinggal, untuk "menikmati" tidur yang nyenyak, kini terasa bodoh. Tapi apa yang harus dia lakukan? Dia meninggalkan piring itu untuk pergi ke suatu kamar, yang tidak lain adalah kamar ibu kos. "Mengecek CCTV?" Ibu Kos tampak terkejut, melonggarkan ikatan rambutnya yang dicepol tinggi. Ia menyesap kopi dari cangkir bergambar bunga lotus. "Ada apa, Zane? Tumben sekali. Apa ada masalah dengan penghuni kos lain?" Zane mencoba menenangkan diri, menyusun alasan yang paling masuk akal. "Tidak, Bu. Saya... barang saya hilang. Sebuah flash drive penting. Saya ingat meletakkannya di dekat pintu kamar. Saya curiga mungkin ada yang salah ambil saat saya keluar pagi-pagi." Ibu Kos menatapnya lama, matanya yang tajam mengamati keanehan di wajah Zane, lingkaran hitam di bawah mata, dan tampak sedikit stress. Ia tahu Zane bukan tipe orang yang mudah kehilangan barang. "Oh, flash drive?" Ibu Kos mengangkat bahu, sikapnya kembali santai. "Baiklah, tunggu sebentar. Rekaman CCTV kami ada di ruangan kecil di belakang dapur. Tidak semua orang boleh masuk ke sana, lho." Zane mengangguk cepat. "Terima kasih banyak, Bu." Ibu Kos mengambil kunci dari laci mejanya, berjalan menuju pintu belakang kantor. "Ikuti saya. Kita lihat apakah flash drive kamu itu punya kaki atau tidak," candanya, meski Zane tidak bisa ikut tertawa. Mereka melewati lorong sempit menuju area dapur umum. Ibu Kos membuka sebuah pintu logam kecil yang tersembunyi, yang ternyata mengarah ke ruangan gelap dan dipenuhi bau debu. Di dalamnya, sebuah monitor kecil memancarkan cahaya biru dingin. "Ini dia. Semua rekaman kamar ada di sini. Cari folder tanggal-tanggal belakangan ini. Ibu harus kembali mengurus penyewa baru, ya. Jangan lama-lama," pesan Ibu Kos, menyerahkan remote control kecil kepada Zane sebelum berbalik pergi. Namun, tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh tombol, ia mendengar suara langkah kaki dari lorong. Pintu ruangan tiba-tiba didorong, dan cahaya terang dari luar menyilaukan matanya sesaat. Di ambang pintu, berdiri Rena. "Zane? Kamu sedang apa di sini?" tanya Rena. Matanya yang besar dan hitam menatap lurus ke arah monitor CCTV di belakang Zane. "Ada apa? Kamu mencari apa di ruangan ini?" Ibu Kos, yang baru saja kembali dari lorong untuk mengambil barang, mendengar pertanyaan Rena dan segera menyela. "Oh, Rena! Kamu di sini. Zane bilang dia kehilangan flash drive penting. Dia mau mengecek rekaman malam tadi, takut-takut ada yang salah ambil dari depan kamar." Ibu Kos tersenyum ramah. "Ya ampun, Zane! Kenapa tidak bilang padaku? Aku akan bantu mencarinya. Siapa tahu hanya terselip di balik buku," katanya, melangkah masuk perlahan. Ruangan yang sudah sempit itu kini terasa semakin sesak dengan kehadirannya. Zane mulai merasa panik. Rencananya untuk sendirian, untuk mencari bukti tanpa saksi, kini runtuh. Dengan Rena di sini, ia tidak akan bisa fokus pada apa yang sebenarnya ia cari, dan Rena pasti akan melihatnya. "Aku... aku tidak apa-apa, Rena. Aku bisa sendiri," kata Zane, mencoba menolak, tetapi lidahnya terasa kaku. Ia terlalu lelah, terlalu tertekan, dan sekarang, terlalu terintimidasi oleh tatapan intens Rena. Rena hanya tersenyum manis, senyum yang mencapai matanya, namun entah mengapa terasa dingin. "Ah, jangan begitu. Aku lebih tahu beberapa ruangan di kos ini. Takut nanti kamu melewatkan sesuatu." Rena mengambil posisi di samping Zane, sedikit terlalu dekat, bahunya hampir menyentuh bahu Zane. "Malam apa kamu terakhir lihat flash drive itu?" Zane tidak bisa lagi menolak. Zane hanya menghela napas, menyerah pada situasi yang tidak bisa ia kendalikan. Ia fokuskan pandangannya pada layar monitor. "Malam... tiga hari yang lalu." Zane berbohong, memilih tanggal acak yang ia yakini akan memperlihatkan pergerakan Rena. Zane mulai memutar rekaman dari malam yang ia sebutkan. Ia mencari folder yang sesuai dengan nomor kamar mereka dan mempercepat putarannya. Layar menunjukkan bidikan statis dari sudut atas kamar, memperlihatkan tempat tidur mereka yang dipisahkan oleh garis solatip hitam. "Pelankan sedikit, Zane. Siapa tahu barang itu jatuh saat kita masuk kamar," saran Rena, kepalanya dimiringkan ke layar. Zane memperlambat rekaman. Ia berpura-pura mencari titik di dekat pintu, area 'hilangnya' flash drive, tetapi mata dan fokusnya terpaku pada sisi tempat tidur Rena. Rekaman itu menunjukkan mereka berdua masuk kamar. Rena langsung menuju sisi tempat tidurnya, mengobrol sebentar, lalu dengan cepat mematikan lampu. Gelap. Zane mempercepat rekaman ke tengah malam. Ia melihat siluet Rena yang tidur menghadap dinding, tampak tenang dan tidak bergerak. "Mungkin kamu salah ingat, Zane. Coba malam berikutnya," usul Rena. Zane beralih ke rekaman malam kedua. Mereka terlihat belajar bersama, Rena duduk di sisi garis. Di rekaman itu, Zane melihat dirinya sendiri tampak lelah, hampir jatuh tertidur saat membaca buku. Rena kemudian membereskan buku-buku Zane dan mematikan lampu, tampak perhatian. Sekali lagi, ia mempercepat rekaman ke jam-jam kritis. Rena terlihat tidur pulas. Tidak ada gerakan mencurigakan, tidak ada tangan yang melintasi garis hitam. Tidak ada aksi yang akan menguatkan kecurigaan Zane. Zane merasa perutnya mual. "Kamu yakin barangnya di kamar, Zane? Coba lihat jam 5 pagi," kata Rena, jarinya menunjuk ke layar. Zane memutar rekaman hingga mendekati pagi. Di layar, Rena bangun, terlihat segar, dan segera pergi ke kamar mandi. Lima menit kemudian, Rena kembali, merapikan selimutnya, lalu duduk di meja kecil untuk menyiapkan buku kuliah, persis seperti yang sering dilihat Zane. Aktivitasnya sepenuhnya normal. "Lihat, Zane. Tidak ada yang aneh. Aku yakin flash drive kamu ada di tas atau di laci mejamu. Kita cari setelah ini, ya?" Zane hanya bisa mengangguk pelan, otaknya berputar-putar dalam kebingungan dan rasa sakit. Ia mempercepat rekaman malam ketiga, malam di mana ia bangun dengan sensasi sentuhan yang paling jelas. Di layar, Rena tidur membelakangi kamera. Tidak ada pergerakan berarti. Rena tampak tidur seperti bayi yang damai. Saat Zane terbangun dan panik menuju kamar mandi, Rena bahkan tidak bergeming. Ketika Zane kembali, Rena segera bangun dan beraktivitas normal. Rena melakukan aktivitas seperti biasa. Ia bangun, mencuci muka, menyiapkan sarapan, dan bahkan sesaat sebelum meninggalkan kamar, Rena terlihat mengambil selimut Zane, melipatnya dengan rapi, dan menaruhnya di kaki tempat tidur. "Ya, kurasa begitu," gumamnya, suaranya serak. Ia membalikkan badan, menjauhi layar monitor yang kini terasa menertawakannya. "Maaf sudah membuatmu ikut repot, Rena. Aku akan coba cari lagi." "Aku akan membantumu mencari! Ayo, kita ke kamar sekarang. Mungkin jatuh di bawah kasurmu, atau di tumpukan buku yang kamu bawa dari bandara." Rena tidak memberinya kesempatan untuk menolak, segera menarik tangan Zane keluar dari ruangan CCTV yang gelap. Zane terpaksa mengekor, pikirannya masih bergumul dengan rekaman yang baru saja ia lihat. Rena di rekaman itu tampak begitu polos. Mereka kembali ke kamar. Rena langsung mengambil inisiatif. "Di mana terakhir kamu lihat, Zane? Di sebelah mana pintunya?" tanya Rena, berjongkok di dekat kaki tempat tidur Zane, tepat di sebelah garis solatip hitam. Zane menunjuk ke sebuah sudut secara acak. "Di sana, kurasa. Dekat tumpukan majalah." Rena mulai menggeledah, menggeser tumpukan majalah. "Ayo kita cari bersama. Aku cari di sisi kanan, kamu cari di sisi kiri," perintah Rena, seolah mereka sedang bermain petak umpet, bukan mencari barang hilang. Zane menurut. Ia berlutut di sisi tempat tidurnya, mulai menggeser beberapa kotak dan buku yang sudah ia susun rapi. Tentu saja, ia tahu barang itu tidak ada. Rena menggeledah dengan sangat teliti, bahkan sampai mengangkat karpet kecil di bawah meja belajar. "Bukan di sini," kata Rena, bersandar sejenak. "Coba di dalam koper. Mungkin kamu memasukkannya saat panik tadi malam." Zane membuka kopernya yang separuh kosong. Ia mengacak-acak beberapa pakaian, membuat gerakan pura-pura mencari yang meyakinkan. Rena terus mengawasinya, matanya mengikuti setiap pergerakan tangan Zane. "Tidak ada, Rena," kata Zane, menutup koper. "Hmm. Oke, coba cari di meja belajarmu. Mungkin terjepit di antara kertas catatan kuliah," usul Rena lagi. Di bawah pengawasan ketat Rena, Zane mulai menggeledah laci-laci meja belajarnya. Ia membuka laci pertama, membolak-balik pena dan pensil. Laci kedua, ia memindahkan tumpukan post-it dan stabilo. "Tidak ada. Aku benar-benar tidak tahu di mana lagi," kata Zane, duduk kembali di tepi tempat tidurnya, memasang ekspresi pasrah yang tampak meyakinkan. Rena duduk di sisi tempat tidurnya, persis di garis batas. Ia mencondongkan tubuh sedikit melewati garis itu. "Jangan khawatir. Ini hanya flash drive. Nanti kita bisa beli yang baru." "Mungkin kamu benar. Aku terlalu lelah dan terlalu banyak berpikir," jawab Zane. Ia memaksakan senyum tipis, menyalahkan dirinya sendiri dan kondisi psikologisnya, persis seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN