16. Masalah sebelum menikah

2024 Kata
Ternyata menyiapkan pernikahan benar-benar menguras tenaga dan menciptakan konflik kecil yang lama-lama besar jika sudah berbeda pendapat mengenai apa saja. Aku bahkan tidak tahu kalau Naya memiliki sifat keras kepala yang begitu akut, kalau bukan karena bulan lalu kami mempermasalahkan tema dan konsep pernikahan nantinya. Flashback On “Mas, kita pernikahannya out door ya?” “Lah kenapa? Malah aku mau kasih tau kamu kalau aku udah tau hotel mana yang akan dijadiin tempat resepsi kita” ujarku menjelaskan. Aku memang sudah memiliki rancangan mengenai resepsi pernikahan yang akan diadakan di hotel salah satu temanku saat SMA dulu. “Padahal aku punya harapan sejak dulu, bakalan ngadain resepsi diluar ruangan” keluhnya membuatku tak enak hati karena harapan kami yang berbeda. “Jadi kamu mau diluar ruangan nih?” tanyaku memilih membelakangkan keinginanku demi mengedepankan dirinya. “Udahlah, kamu juga maunya di Hotel kan. Aku ngikut aja” “Kok gitu sih Nay, Mas kan bermaksud mengalah” “Ya aku juga mau ngalah kok Mas kalau kamu maunya didalam ruangan” ketusnya lebih ngotot. Tapi kamu nggak ikhlas. Desisku dalam hati tapi ku tahan agar tak sampai merusak rencana kami yang akan memutuskan tema pernikahan hari ini, lalu minggu depan sudah bisa diurus. “Jadi setuju didalam ruangan kan?” tanyaku memastikan. “Iya loh” jawabnya sewot. “Biasa aja dong Yank, kalau nggak ikhlas, kita pakai konsep diluar ruangan aja seperti keingan kamu” “Udahlah, aku udah nggak pengen” ketusnya. “Jadi didalam ruangan nih?” “Dasaa nggak peka” Apa lagi? Pekikku dalam hati. Padahal aku sudah berusaha mengalah dan menanyainya berulang kali, tapi dia malah seenaknya jawab ketus dan bilang aku nggak peka. Dasar cewek. “Kenapa lagi sih Nay? Mas kan udah tanya baik-baik” “Yaudah, didalam ruangan” “Jadi kamu mau tema pernikahannya gimana?” tanyaku cepat supaya masalah sebelumnya tidak diperbesar kembali. Aku agak kesulitan menghadapi wanita jika soal memilih. “Gak tau, yang penting romantis, tapi aku maunya yang konsepnya seperti outdoor gitu. Jadi, walaupun kita didalam ruangan, tapi ada tanaman-tanaman yang diletak dekat tempat pengantin berdiri. Pokoknya kita seolah-olah diluar” jelas Naya antusias. “Sama aja bohong” gumamku. Tadi, dia sendiri yang bilang nggak tau mau konsep gimana, tapi kok kayanya banyak banget maunya. “Oh iya, terus aku juga mau konsep shabby chic” “Yang konsepnya keromantis-romantisan itu? Yang warna-warna didalamnya pink dan bunga-bunga gitu kan?” tanyaku hati-hati. Ia mengangguk antusias “Iya. Aku pernah lihat kawinan temenku yang begitu, sumpah, aku langsung jatuh cinta dan ngepoin konsep pernikahan ke dia. Rasanya romantis banget” “Enggak, aku nggak mau. Aku lebih suka yang warna elegan yang memadukan beberapa warna, bukan serba pink-pink gitu” tolakku. “Ih kok gitu sih? Aku lebih suka konsep gitu dari pada sok elegan. Lagian pink juga elegan tau” “Iya, tapi terlalu imut, sayang. Gini aja deh, nanti aku aja yang ngusungin konsep ke Mama terus Mama yang proses, kita tinggal terima jadi” “Mas egois deh. Tadi kamu bilang didalam ruangan, aku nurut, sekarang kamu juga maunya keinginan kamu aja yang dituruti” kesalnya. “Bukan gitu, Nay, masalahnya kita beda pendapat terus. Mas cuma ngambil jalan tengah biar kita nggak ribut karena konsep dan segala t***k bengek pernikahan” “Kamu nggak niat cari jalan tengah, tapi lagi memanfaat Tante buat mewujudkan kemuan kamu” “Kok gitu sih? Mas niat baik Nay. Lagian tadi juga Mas terima usul kamu buat menyematkan konsep alam walaupun kita didalam ruangan” sentak ku kesal. “Ah, udahlah, aku males banget berdebat sama kamu. Terserah kamu aja mau gimanain pernikahan kita, aku cuma peserta yang ngikut-ngikut, jadi nggak perlu ditanyai lagi pendapatnya” balasanya lalu meninggalkan ku begitu saja. Aku mengusap wajahku dan menghembuskan nafas yang sedari tadi ku tahan dengan kesal. Bagaimana bisa kami ribut hanya karena hal seperti itu. Aku bahkan tak bisa menghadapi sifat Naya yang seperti itu, apalagi dengan posisi ia ngambek seperti ini. Tadinya, aku berpikir bahwa kami akan memilih konsep dengan bahagia karena jika ia mengatakan A maka aku juga mengatakan A atau sebaliknya, jika aku yang mengatakan A maka ia juga mengatakan A. Ternyata untuk memilih saja, kami harus ribut dengan perbedaan dia menginginkan A dan aku ingin B. Flashback OFF. Belum sampai disitu, minggu lalu juga kami ribut soal gaun dan jas karena beda pendapat soal warna dan harga. Ah, pokoknya untuk mengurus masalah pernikahan ini, aku benar-benar menyerah karena terus berbeda pandangan dengan Naya. Tidak hanya itu, terkadang pendapat kami juga bersebrangan dengan orang tua hingga akhirnya bikin sakit kepala dan aku memilih menyerah, tak lagi ingin campur tangan jika tenagaku tidak dibutuhkan, tapi rupanya itu juga mengundang keributan. Flashback ON “Adam, ini yang mau nikahan, siapa sih? Kok malah kamu yang santai-santai disini. Calon mertua kamu sama calon istri kamu sibuk tuh ngurusin ini itu” omel Mama saat melihat aku memanfaatkan waktu luangku untuk bermain game lewat ponsel, sedangkan Anaya dan calon mertuaku sedang meributkan sesuatu yang aku tidak tahu. “Ya ampun Ma, kemaren aku ikut campur salah, sekarang santai-santai juga salah, padahal pendapat aku sama sekali nggak diterima” “Ya namanya juga beda pendapat dan pendapat lain lebih bagus, jelaslah pendapat kamu nggak diterima. Udah sana gabung sama calon mertua kamu, seenggaknya kasih saran atau turut berpartisipasi lah. Disini kita sibuk buat ngurusin nikahan kamu” “Iya iya” dumelku kesal dan memilih mendekati Papa, calon mertua dan Naya. Ku lihat mereka sedang meributkan tentang catering makanan dan aku hanya melihat-lihat saja sambil mereka menghitung perkiraan jumlah tamu yang akan diundang dan menyesuaikannya dengan jumlah makanan yang akan disediakan agar tidak kekurangan atau malah berlebihan sangat banyak. “Kamu mau ngundang berapa orang nanti Na?” tanya calon ayah mertua kepada Naya. “Kayaknya sih 200 orang aja Pak, lagian belum tentu juga temen Naya yang lain bisa datang” “Kalo bapak sih palingan juga segitu, udah sama kenalan ibu juga, kan Bu?” “Iya pak, atau palingan nanti lebih sedikit” “Kalau kami kayanya ada 400-an. Soalnya keluarga besar aja udah ada 100” ujar Papa. “Kita perkirakan aja deh, tamu undangan Mas Adam 250-an. Kira-kira ada nggak, Om?” tanya Naya pada Papa. Aku membelalak terkejut ketika kehadiranku sama sekali tidak dipedulikan. “Ada kayanya. Dia nanti banyak sih nih tamunya, tapi perkirakan aja segitu” jawab Papa. Sok tahu banget. Desisku dalam hati. “Yaudah, berarti kita ambil aja perkiraan kalau tamunya itu sekitar 1200 ya, biar nggak pas banget” putus calon ayah mertua dan diangguki yang lain. Aku memilih berdiri dari dudukku untuk meninggalkan rapat mereka. Lebih baik aku melanjutkan acara main game-ku dibandingkan harus mendengarkan obrolan atau rapat mengenai sesuatu yang aku pun tidak dimintai pendapat. Tapi, belum sempat aku melangkah lebih jauh, suara Papa terdengar menegurku. “Adam, kamu mau kemana? Ini kan nikahan kamu, kok malah kamu kayak nggak peduli gitu” “Mau ke kamar mandi Pa. Mau merenung” jawabku kesal. Naya hanya menatapku sinis dan aku pun membuang pandangan darinya, dari pada nanti kami semakin ribut dan malah bertengkar. Aku segera melangkah ke kamar mandi, walau sebenarnya tidak berniat buang air sama sekali. Flashback OFF *** Malam ini aku mendapat shift berjaga bersama Ardit dan dua dokter lainnya, namun Dimas malah ikutan mendaftar diri menggantikan dokter lain agar ia bisa memiliki teman yang lebih nyambung untuk bebicara selagi belum ada pasien yang memerlukannya. Aku mendesis kesal saat merasa bahwa aku sangat membutuhkan alkohol untuk mengabaikan penatku sejenak. “Woi Dam, lo diajakin ngomong juga, nggak nyahut-nyahut” pekik Ardit ditelinga ku yang membuatku sangat terkejut. “Apaan sih lo?” aku menabok wajahnya agar menjauh dari telingaku. “Segitu lelahnya lo bekerja keras untuk menyiapkan pernikahan sampai gue lihat muka lo stress setengah mati?” ejek Ardit. “Lelah banget, sumpah, rasanya gue mau mati dan nggak jadi nikah aja. Gue sibuk bertengkar dan berdebat sama calon mertua, orang tua dan calon istri” aku-ku tak main-main “Gue nggak pernah bisa sependapat sama mereka” adu-ku dan keduanya tertawa terbahak-bahak. “Pantes lo kelihatan makin nggak waras” ejek Dimas. Aku mencebikkan bibir dan pasrah dikatai seperti itu. “Lo bakalan ngerasain juga, kan” ejek Ardit pada Dimas. “Kayak lo enggak aja” balasnya. “Gue sih nggak tau kapan gue mau nikah, soalnya nggak ada niatan juga” ujarnya cuek. Aku hanya tersenyum melihat Ardit bisa menjawab seperti itu karena dia belum memiliki orang spesial yang bisa menarik hatinya, karena kalau sempat itu terjadi, dia pasti uring-uringan juga. “Mengenai pernikahan, gue rasa setelah Adam, gue bakalan segera menyusul karena pembahasan orang tua gue mengenai perjodohan udah semakin sering. Katanya juga tuh cewek yang bakalan dijodohin sama gue, udah di Jakarta setelah nyelesain S2-nya di luar negeri” “Gila lo berdua, ngebet banget nikah” ledek Ardit. “Gue yakin lo bakalan lebih gila saat diposisi udah mau nikah” tanggap Dimas mewakili suara pikiranku. “Eh, gue mau kasih tau lo berdua sesuatu yang bakal bikin terkejut” “Apaan?” tanyaku kepo. “Ritha ngajak gue pacaran. Gila kan?” “What? Lo pikir dia mau gitu sama lo” tangap Dimas cepat “Yakali Ritha yang nggak pernah bertegur sapa sama lo bisa nembak lo. Lo pikir karena lo kaya, dia mau gitu sama lo?. Dengan wajah yang cantik, kelakuan baik dan pekerjaan dia sekarang, nggak bakal susah buat dia nyari pacar yang lebih bener” “Woah, segitunya lo ngejatuhin temen sendiri demi belain Ritha” desis Ardit tak terima. Aku menepuk bahu Ardit sambil terkekeh “Lagian, apa yang dibilang Dimas emang bener. Lo nggak begitu ganteng untuk diperjuangin Ritha sampai menurunkan harga dirinya demi mengajak lo pacaran” ujarku menyadarkan. “k*****t lo berdua. Nih gue tunjukin isi chatnya” “Udahlah Dit, anggap aja itu dibajak orang iseng. Ritha nggak mungkin ngajak orang nggak beres kayak lo pacaran” “Gue bakalan buktiin kalau gue bisa pacaran sama Ritha” yakinnya. “Siap. Gue bakalan tungguin hal itu terjadi dalam mimpi” ledek Dimas sambil menepuk bahu Ardit dengan prihatin. *** Pagi ini aku berangkat ke kontrakan Naya, berniat memperbaiki hubungan kami yang beberapa hari ini renggang, dengan cara mengantarnya ke Sekolah. Saat aku mengetuk pintu kontrakannya yang terbuka, ia langsung keluar dan menatapku dengan kesal. Aku hanya terkekeh, tidak tahu apa salahku karena aku merasa tak bersalah sama sekali atas kemarahan tak jelasnya. “Pagi” sapaku sambil menyandarkan punggungku di pintu. “Mas ngapain kesini?” tanyanya ketus. “Jemput calon istri” “Oh, calon istrinya yang dibiarin ngurusin persiapan pernikahan ini itu sendirian kan?” sindirnya dan membuatku tergelak. “Iya” anggukku pasrah, tak ingin memperpanjang perdebatan dipagi hari yang akan merusak suasana hariku “Kamu udah masak?” “Udahlah, yakali jam segini belum masak. Yang bener aja” desisnya. “Yaudah, Mas numpang makan ya” izinku, langsung memasuki dapur dan membuka penutup makanan di meja. Aku menjilat bibir saat melihat ada udang sambal yang sangat menggugah selera makanku. Ku perhatikan Naya masih belum kembali keluar dari kamarnya, sepertinya ia sedang merias diri. “Kamu udah sarapan Nay?” tanyaku dengan suara yang sedikit ku kuatkan agar Anaya mendengarnya. “Belum” jawabnya sambil membawa tasnya keluar kamar dan meletakkannya di kursi kayu. “Sarapan dulu sini, jangan sungkan” ajakku dengan tak tahu malu, namun ia hanya menggelengkan kepalanya saja. “Mas nggak buru-buru berangkat kerjanya?” tanyanya ditengah makan kami. Aku menatapnya sejenak “Sebenarnya sih buru-buru, tapi Mas nggak betah jauhan terus sama kamu. Kamu sampai nggak ada ngechat Mas sama sekali” dengkusku menyampaikan kebenaran bahwa aku tak betah berjauhan dengannya. “Mas juga nggak ada ngechat aku, jadi jangan salahin aku” balasnya. “Ya karena Mas pengen diperjuangin juga” “Udahlah Mas, jangak kayak anak gadis, mendingan makan cepat supaya kita bisa segera berangkat” titahnya, karena buru-buru, akhirnya aku menuruti perintahnya dan segera makan dalam diam. “Oh ya, aku mau minta temani Mas” dapat ku lihat ada tatapan ragu disana. “Kemana?” tanyaku. “Ke pesta nikahan temen aku” “Kapan?” “Besok” “Besok? Kalau seandainya aku nggak datang pagi ini, kamu bakalan minta temenin siapa?” tanyaku. “Ya tetep minta temenin sama Mas lah. Tadi sih rencananya aku bakalan ngechat Mas, nanti siang, tapi ternyata Mas udah nyamperin duluan, jadi ya kayaknya emang udah jadi keberuntungan aku” bangganya. “Ah, seharusnya tadi Mas masih perpanjang masa membisu kita sambil menunggu kamu mengalah” kesalku. “Gitu aja, lebay banget sih Mas. Udah siap nih, ayo berangkat, nanti kamu terlambat kalau nggak cepat-cepat” ajaknya sambil mengelap mulutnya dengan tisu lalu berjalan ke kursi kayu kontrakan dan memakai sepatunya. Setelah selesai memakai sepatu masing-masing, kami akhirnya berada di mobil dan bersiap menuju Sekolah tempat Naya mengajar. Tidak membutuhkan waktu lama, kami akhirnya sampai dan aku hanya memberhentikan mobil di tepi jalan atas permintaan Naya supaya aku tidak repot memutar mobil dan malah membuatku semakin terlambat ke rumah sakit, akhirnya aku mengalah dan membiarkan Naya menyebrang jalan setelah berpamitan padaku. Sebelum aku kembali melajukan mobil, dapat ku lihat langkah Naya yang memasuki pekarangan sekolah terhenti karena seorang pria yang berusaha mengajaknya berbicara. Aku mengernyit saat melihat Naya tampak sangat resah dan ketus pada pria itu karena terlihat dari wajah garangnya, namun mengingat bahwa aku juga diburu waktu, pada akhirnya aku memilih menjalankan mobilku untuk berpacu dengan kendaraan yang memadati jalan raya dipagi hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN