15. Lamaran

2115 Kata
“Nay, kamu dengerin Mas cerita nggak?” tanya Adam heran. Malam ini ia pulang lebih cepat dan memilih mengantarkan Naya yang memang ingin kembali ke kontrakan saja karena merasa dirinya sudah bisa mengurus diri sendiri dengan baik, tapi sepertinya Naya sedang dalam mode melamun hingga Adam yang sedari tadi berceloteh bagai radio rusak, sama sekali tak ditanggapi. “Nay” Adam meninggikan sedikit suaranya sambil menyentuh lengan Naya dengan telunjuk tangan kirinya, sebab tangan kanannya mengemudikan mobil. “E-ehh, ada apa Mas?” tanya Naya terkejut dan segera memandang Adam. “Kamu kenapa? Dari tadi Mas lihat kayanya asik melamun mulu. Mas cerita sampai nggak didengerin” dengkus pria itu. “Maaf Mas, aku kayanya kecapain deh” “Ada masalah di Sekolah?” “Sedikit” sahut Naya lalu menatap jendela sampingnya yang menunjukkan jalanan yang mereka lalui. Ada rasa tak enak hati karena ia berbohong pada Adam, tapi ia merasa bahwa ini lebih baik dibandingkan pria itu tau mengenai Gio. Lagi pula ia yakin bahwa Gio tak akan mengganggunya lagi. “Tapi lamunan kamu kayanya nggak sesedikit yang Mas pikirkan. Kalau ada masalah, cerita aja sama Mas, atau kalau kamu nggak merasa bebas, kamu bisa ceritain sama Vio, seenggaknya bikin lega kalau ada yang ikutan pusing dan ngasih saran sama kamu” “Iya Mas” angguk Naya “Mas tadi ngomong apa?” “Mas bilang kalau besok, Mama, Papa, dan Mas akan ke Bandung buat ngelamar kamu” “Terus aku gimana dong Mas? Aku kan belum bisa pulang sekarang?” tanya Naya panik. Adam terkekeh lalu mengacak rambut Naya dengan gemas “Orang tua cuma mau nentuin tanggal nikah, kamu bisa ikut pakai video call” usulnya. “Tanggal Nikah, diterima aja belum” sindir Naya “Diterima secara keluarga kan bisa lewat telpon atau video call, namanya juga kamu sibuk. Lagian Mas yakin kalau kamu nggak bakal tega nolak niat baik Papa sama Mama yang udah jauh-jauh ke Bandung” “Ya lihat aja besok” godanya “Oh ya, emang Mas nggak kerja?” “Enggak, makanya Mas ambil kesempatan dihari itu juga” Setelah sampai di kontrakan, Naya segera masuk karena Adam juga harus segera pulang agar bisa beristirahat lebih cepat dan besok pagi-pagi sekali akan berangkat ke Bandung. *** Adam POV Hari ini aku bersama mama dan papa pergi ke Bandung dengan tujuan melamar Anaya kepada keluarganya dan merencanakan hari pernikahan. Orangtua Naya menyambut keluargaku dengan baik, seperti dua pasang manusia yang sudah saling mengenal lama hingga mereka tak canggung berbicara ini itu sampai mengabaikan ku. Orangtuaku bahkan mengabaikan tujuan utama kami berada di Bandung dan malah membahas kedekatan Naya dengan keluarga kami khususnya Viona. Setelah sekian lama dengan hatiku yang sedari tadi dag-dig-dug karena percakapan mereka terus berlanjut akhirnya kedua pasang paruh baya itu ke mode percakapan serius setelah papa bicara. "Sebenarnya kedatangan kami kesini untuk melamar putri Pak Andi dan Bu Rena, untuk menjadi istri anak kami Adam" "Sebenarnya kemarin Adam sudah membicarakan ini dengan kami dan Ana sendiri, dan seperti keputusan anak kami yang menerima nak Adam sebagai calon suaminya. Maka kami sebagai orangtua mendukung keputusan putri kami karena kami yakin itu yang terbaik untuknya. Jadi kami menerima pinangan dari keluarga Adam" Aku tersenyum sumringah setelah perkataan calon pak mertua. Hehehe..ngga salah kan, toh udah dapet lampu hijau. Orangtuaku pun sama bahagianya dengan aku, tidak sia-sia perjuangan mereka datang ke Bandung untuk melamar calon menantu mereka karena akhirnya lamaran di terima. Tadinya, Naya akan ikut dalam pembicaraan dengan cara video call, namun malah terhalang oleh rapat dadakan guru di Sekolahnya mengajar, sehingga mau tak mau, ia hanya memberikan jawaban cepat kepada ayah dan ibunya. Jawabannya membuatku geli sendiri karena ia seperti tak akan mempertimbangkan lagi untuk menolakku. Dan seperti yang telah direncanakan, maka pernikahan kami akan diadakan lima bulan lagi dan akan mulai mempersiapkan banyak hal yang nantinya akan membuat repot para keluarga. Aku bahkan tidak sabar menantikan bahwa Naya akan benar-benar menjadi milikku, sungguh rasanya mendebarkan menunggu selama lima bulan meski aku sudah terlatih menanti. Aku hanya berharap bawah lima bulan ini, hubungan kami tidak akan diterpa badai besar karena setahu gosip yang ku dengar, akan ada banyak masalah yang datang sebagai ujian terhadap pasangan yang akan menikah. Ya, setidaknya, jika ada banyak kesulitan hingga menyebabkan pertengkaran, aku dan Naya bisa memecahkannya dengan aman sejahtera, tanpa kata pisah atau batal nikah dan lain-lain. *** "Yank" aku segera menghubungi Naya setelah berada di mobil untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Mama dan Papa tinggal disana atas permintaan Mama yang katanya ingin cepat-cepat mempersiapkan pernikahanku dengan Anaya sekaligus pendekatan mereka sebagai besan. Aku herah, bagaimana bisa Mamaku langsung semudah itu menginap di rumah calon besannya. Untunglah calon mertuaku itu tak masalah dan malah senang dengan permintaan Mama. "Kamu lagi nyetir ya?" tanya pujaan hatiku dari sebrang sana. Senangnya mendengar suara khawatirnya yang begitu perhatian. "Ihhh, bahaya tau telponan sambil nyetir" omelnya bahkan sebelum aku menjawab. Aku terkekeh geli lalu membenarkar posisi headset ku. "Aku pake headset bluetooth, sayang. Tenang aja" "Bener?" tanyanya meyakinkan. Apakah aku harus berbohong hanya karena hal sekecil itu? "Iya" anggukku. "Oke. Emang Mas mau kemana?" "Mau ketemu kamu dong" rayuku. Aku tersenyum sendiri membayangkan pipi putih Naya yang unyu menjadi merah seperti kepiting rebus. "Ihh apaan, dasar tukang gombal. Kamu lagi nggak sama Tante sama Om?" "Mereka nginep di rumah kamu, katanya pendekatan sebagai calon besan sekaligus siapin persiapan pernikahan kita. Kayanya mereka nggak sabar buat nikahin kita" “Kamu tuh yang nggak sabar, nggak usah pakai alasan orang tua deh” dengkusnya yang membuatku tertawa. “Tau aja sih calon istrinya Mas” "Tapi kok cepat banget persiapannya? Emang pernikahannya kapan Mas?" "Iya, soalnya kita nikahnya nggk lima bulan lagi seperti rencana Mas" ringisku seolah kata-kataku serius. "Jadi?" "Sebulan lagi" sahutku singkat sambil menunggu reaksi Naya. "Hah? Kok gitu sih?" ujarnya terkejut terdengar jelas dari suaranya. Aku tak dapat menahan tawa karena semudah itu mengelabui Naya. Apakah aku orang yang begitu mudah dipercayai? Atau, justru Naya yang mudah dibohongi? "Mama maunya cepat, udah gitu ibu sama bapak juga setuju kalo lebih cepat lebih baik katanya" jelas ku "Kenapa, kamu ngga suka?" tanyaku. "Ihh, bukan gitu Mas. Cuma kan Naya belum ada persiapan" "Persiapan yang gimana, Sayang? Kamu telaten bersihin rumah, orangnya rapi, pinter masak lagi. Apa lagi?" tanyaku "Takut ngga bisa jadi ibu yang baik? Ngga mungkin kan. Ngajar anak orang aja kamu bisa apalagi anak-anak kita nanti" Ah, sepertinya aku berbakat menjadi pendidik pria untuk memberika gombalan receh pada kekasihnya. Aku bahkan geli sendiri mendengar aku bisa berkata seperti itu. Ah, jatuh cinta memang bisa merubah segalanya menjadi menggelikan dan menyenangkan secara bersamaan. Padahal aku sudah tua, tapi rasanya seperti kembali ke masa remaja yang belum sempat kuberi kisah kasih cinta di Sekolah karena terlalu fokus pada Naya. "Masss" pekiknya tak suka. "Apa sayang? kamu takut nggak bisa muasin Mas?" "Ihhh Mas kok pikirannya sampe sana sih. Naya cuma takut enggak bisa jadi istri yang baik buat Mas" Aku tersenyum kecil mendengar kekhawatirannya "Mas minta kamu jangan pikirin itu, boleh? Karena Mas juga takut nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu" aku-ku jujur. "Iya" meski tidak melihatnya, tapi aku yakin jika Naya sedang menangguk saat ini. "Yaudah, nanti Mas temuin kamu setelah ketemu temen" "Mas hati-hati" “Nanti Mas ke kontrakan kamu ya” “Terserah Mas aja” "Iya. Eh, ngomong-ngomong soal nikahan kita, acaranya lima bulan lagi. Maaf, Mas cuma bermaksud godain kamu” “Ihh, Mas jahat banget sih. Padahal aku udah percaya banget” kesalnya. “Mas sayang kamu” “Bodo amat” *** Aku menggelengkan kepala melihat tiga pria yang sudah mabuk berada di sudut lantai satu club. Ardit dan Abel masing-masing memiliki wanitanya. Aku tau dengan situasi seperti ini, mereka mungkin akan berakhir di hotel, lagi pula bukan hal baru bagi Abel dan Ardit untuk bersenang-senang dengan wanita asal comot. Sedangkan Dimas, dia hanya tepar dan bersandar di sofanya, tanpa wanita, tapi ditemani berbotol-botol alkohol. Aku segera menghampiri mereka dan duduk di samping Dimas. "Eh, lo udah dateng Dam?" tanya Abel. Basa basi banget, sumpah. Memangnya pertanyaan seperti itu harus ku jawab lagi. "Lo liat" ketusku. "Hehehe... Lo mau gue panggilin cewe nggak? Si Dimas nolak mulu" tawarnya sambil melirik Dimas yang bergumam tak jelas. "Gue juga nggak mau" desisku. Aku bukan orang yang suka melakukan itu dengan sembarangan karena tahu jelas resiko yang akan ku tanggung. Aku bergidik membayangkan Naya yang muncul dalam kepalaku dan seolah memperingatiku dengan wajah garang ‘Kita batal nikah kalau kamu gitu’. Sungguh itu membuatku meneguk ludah ngeri. "Yahhh nggak asik lo. Ini tuh pelajaran buat lo sebelum jadi suaminya bu guru itu" ujar Ardit mendukung Abel. Wajar aja kalo dua orang nih mabuk, kalau ngomong nggak akan ada beresnya. Apalagi sambil di servis sama wanita club disisi mereka masing-masing. "Gue belajar sama istri gue nanti, bukan sama wanita lain" desisku tak setuju dengan pendapatnya. Dimas menepuk bahuku "Kan udah gue bilang lo ngga usah dateng, nih orang kalau udah mabuk ngomongnya nggak bener" Aku terkekeh "Lo tenang aja. Eh, lo sendiri kenapa ngga ikutan?" goda ku. Dimas ini ngga punya pacar, cuma katanya mau dijodohin sama orang tuanya. "Gue cuma mau bersih" katanya "Lagipula gue belum bisa move on" "Lo bilang mau dijodohin" "Iya, tapi ya gimana? Hati gue nggak bisa gue paksa sekalipun mulut gue bilang mau berusaha" jawab Dimas dan Adam bergidik melihat wajah memelas sahabatnya itu. Drrrttt "Bentar, ada telpon" ujarku pada Dimas. Aku mengangkat panggilan yang ternyata dari Naya, walau sebenarnya cukup ragu jika sampai Naya marah karena aku di club. "Halo" sapaku dengan suara yang cukup kuat. Aku takut Naya tidak mendengar suaraku karena dentuman musik yang cukup kuat dan sorakan orang-orang yang ada didalamnya. "Mas, kamu lagi dimana kok berisik banget?" tuh kan, Naya ngedumel karena berisik. "Nemuin temen" jawabku. "Dimana?" tanyanya lagi. "Di club" aku berucap sedikit pelan. "Mas ngga usah jadi datang ya" "Apa sayang? Aku ngga denger" pekikku sambil menutup sebelah telingaku untuk mendengarkan suara Naya. "Mas ngga usah jadi datang" ulangnya yang berhasil membuatku terkejut. Apakah dia marah? Marah karena aku ke club kah? "Loh, kenapa?" "Nggak apa-apa” jawabnya singkat. Setelah itu panggilan kami terputus. Aku segera menepuk bahu Dimas "Gue harus ke rumah Naya sekarang" ujarku panik. Aku takut dia marah dan tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang menghancurkan rencana pernikahan kami. "Kenapa?" tanya Dimas masih linglung. "Gue takut dia marah denger gue di club" "Lo tega ninggalin gue sendiri?" tanyanya seolah aku ini jahat sekali, padahal tadi dia kesini sama Ardit dan Abel. "Lo tega liat gue ditinggalin sama Naya?" tanyaku balik. "Gue ikut" katanya seperti anak-anak yang nggak rela ditinggalin emaknya. "Ah, gila. Lo lagi mabuk" ya kali aku bawa orang mabuk ke kontrakan pacar. Nanti kalau dia niat nggak bagus sama pacarku, gimana? Ah, aku menghilangkan pikiran gila itu dan segera menatapnya kembali. "Gue ngga bener-bener mabuk" yakinnya yang kuragukan. "Fine" putusku. *** Aku mengetuk-ngetuk pintu kontrakan Naya, namun tak ada jawaban. Aku melihat jam dan seketika sadar bahwa sudah hampir tengah malam, tapi tak ada niat untuk membatalkan kunjungan karena aku sudah kepalang disini. Setidaknya, aku harus melihat senyum Naya ketika menyambut kedatanganku dan mendengar suaranya yang mengatakan bahwa ia tak marah. Tapi, aku tak tega juga mengganggu tidurnya saat sudah mengetuk beberapa kali dan tak kunjung ada jawaban atau tanda-tanda akan dibuka pintu. Ketika ingin kembali ke mobil, kudengar bunyi kunci dari dalam rumah, sepertinya Naya terbangun dan membukakan pintu untukku. "Kan udah aku bilang, Mas ngga usah datang" omelnya setelah melihatku. "Sayang, jangan marah dong" Naya masuk ke dalam, aku menyusulnya, tidak lama kemudian Dimas muncul dengan sempoyongan. "Hah? Mas Dimas" ia terkejut dan aku cukup salut karena ia masih mengenali Dimas padahal hanya sekali bertemu dan dalam pertemuan yang cukup singkat. "Selamat malam, bu guru" sapa Dimas kemudian berbaring di tikar Naya yang terbentang di ruang tengahnya. "Iya, dia ngotot mau ikut. Mas takut kamu marah, tapi beneran deh Mas ngga ada ngapa-ngapain disana" jelasku cepat. "Disana mana?" tanyanya "Di club lah sayang" "Ihhh, siapa juga yang marah. Naya nyuruh Mas ngga jadi datang karena kemalaman, tadi juga Naya udah ngantuk" "Kamu beneran ngga marah Mas ke club?" tanyaku untuk kembali meyakinkan. "Enggak Mas, ngapain marah coba?. Mas udah cukup dewasa kan buat tau yang baik dan buruk" Aku menatap Naya dalam membuatnya tampak tak nyaman dan malah menghindari tatapanku "Kenapa sih Mas?" aku suka sekali melihat wajah malu-malunya yang menggemaskan. Ingin sekali kucium pipi itu berulang kali. "Ngga apa-apa, Mas cuma mau bilang sama kamu, selamat menjadi istri Mas lima bulan lagi" "Ya terus?" "Ya, Mas seneng aja sayang, akhirnya perjuangan Mas ngga sia-sia" "Mas" ia menatapku sambil menggigit bibirnya, sebelum akhirnya kembali bicara "Makasih udah mau nerima Naya apa adanya" "Ngga perlu berterimakasih sayang. Mas nerima kamu apa adanya karena Mas bener-bener sayang sama kamu. Sepanjang hidup Mas cuma mau kamu yang jadi pendamping hidup Mas" Jujur, tidak pernah terlintas dalam benakku keinginan untuk menggantikan Naya dengan wanita lain sekalipun saat itu Naya sama sekali tak memandang ku ada. Aku hanya terus berharap dan berdoa semoga ia pada akhirnya menjadi pendamping hidupku. Saat muncul keinginan untuk menyerah mendapatkannya, aku selalu membaca chat Naya saat menolak ku 12 tahun silam. (Naya mau sama kakak, kalau kakak udah sukses dan bekerja. Naya akan terima kakak) Waktu itu yang muncul di benakku adalah Naya sungguh-sungguh mengatakan itu padaku. Sekalipun ia bercanda, aku akan tetap berjuang seperti yang dia syaratkan padaku. Itulah sebabnya setelah aku menjadi dokter spesialis, aku memantapkan hati kembali ke kampung halaman dan menemui Naya untuk menagih janjinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN