Malam ini, doa Anaya yang mengharapkan bahwa Adam memiliki jadwal tambahan memang terkabul, sayangnya kini ia malah dihadapkan dengan keluarga Adam karena Viona memaksakan kehendaknya untuk mengajak Naya menginap di kediaman Glevino. Padahal menurutnya, badannya sudah cukup baikan dan bisa dibawa untuk beraktivitas ringan, namun Viona malah terus mengomelinya hingga mau tak mau ia akhirnya menurut dan berakhir di kamar gadis itu.
“Tidur Nay” ujar Viona memaksa. Naya melihat jam yang duduk diatas nakas dan mendesah kesal saat dirinya tanpa sadar mengkhawatirkan keberadaan Adam yang tak kunjung pulang. Walaupun ia tak ingin bertemu Adam, tapi ada perasaan lega saat takdir sepertinya lebih menginginkan mereka dekat.
“Menurut lo Mas Adam masih di rumah sakit?” tanya Naya sambil memutar tubuhnya dan menghadap Viona yang berbaring menatap langit-langit kamar.
Viona terkekeh lalu melihat jam di ponselnya “Ini masih jam setengah sepuluh dan lo ngeraguin itu. Pulang jam 1 aja dia pernah”
“Oh gitu ya”
“Lo sebenarnya ada masalah apa sih sama kak Adam?” tanya Vio penasaran. Ia belum sempat menanyakan hal itu pada Naya.
“Gue minta Mas Adam buat mikirin ulang pernikahan ini” ringis Naya.
Pletak
Naya meringis lagi begitu merasakan kepalanya dipukul dengan tak berperasaan oleh Viona “Lo gila apa? Kalian lagi ada masalah apa sampai mau batalin pernikahan segala?”
“Eleh, lagian Om sama Tante juga kan belum ngelamar gue, jadi belum terlalu terlambat kalau gue batalin sekarang”
“Iya, itu terserah lo Anaya. Yang gue tanya sekarang, lo ada masalah apa sama kak Adam?” gerutu Viona menekankan setiap katanya.
Mau tak mau, Naya menceritakan kejadian di kamar mandi saat ia tak sengaja mendengar obrolan dua orang wanita yang mengatakan Adam pernah mencium salah satunya dan berakhir dengan ia yang sadar diri bahwa lebih baik Adam mencari wanita lain dan membatalkan rencana pernikahan mereka.
Viona mengangguk sambil sesekali meringis “Jadi maksud lo, kak Adam mungkin tetep mau nikahin lo karena dia udah telanjur mengejar selama 10 tahunan? Gitu?”
Naya mengangguk lemah “Menurut lo bener, nggak?”
“Bener banget” angguk Vio “Lo begonya nggak ketolongan” ejeknya yang membuat Naya memuluk kepala Vio sebagai balasan.
“Kenapa?”
“Nay, lo nggak mikir kalau itu memang sesuatu yang mengejutkan untuk diterima. Pengakuan lo jelas bikin kak Adam frustasi karena yang selama ini dia lihat adalah lo itu cewek baik-baik dan kenyataannya lo nggak baik”
“Sialan” umpatku kesal tak tertahan.
Viona tertawa “Iyalah. Lo harus kasih penjelasan sama kak Adam soal masa lalu lo itu, supaya semuanya jelas”
“Nanti nanti deh, kalau gue ada waktu dan keberanian” ringis Naya.
Tin tin
“Tuh pangeran lo udah dateng. Gue mau tidur dulu, jangan lupa m***m” pesan Vio membuat Naya terkekeh.
Naya mengambil gelas berisi minum diatas nakas lalu membawanya ke dapur. Ia dapat melihat saat Adam berjalan masuk dari pintu utama dan sengaja memperlambat jalannya agar bertemu dengan Adam. Oh, ayolah, sekarang ia bersikap munafik dengan ucapannya yang meminta Adam mundur dari rencana pernikahan mereka, tetapi kini ia dengan dramanya malah mendekati Adam.
“Eh, Naya” Adam menatap Naya dari atas hingga ke bawah “Kamu ngapain disini?” tanyanya heran.
Naya meringis kesal mendengar pertanyaan itu. Apakah Adam secara tidak langsung sedang mengatakan ‘tidak ingin melihatnya di rumah orang tua pria itu’?. Namun ia berusaha mengontrol diri “Ini Mas, tadi aku dipaksa Vio buat nginap disini karena sakit, padahal udah baikan kok”
Adam mendekati Naya dan langsung menangkup kening wanita itu dengan telapak dan punggung tangannya, yang membuat Naya membeku dengan sentuhan kecil itu “Iya sih, emang masih panas” angguk Adam setuju “Terus ini kamu mau ngapain jalan-jalan gini, bukannya tidur?”
“E-eh, itu, aku mau ambil minum baru, soalnya minum ini udah lama, Mas” alibi Naya, padahal minum itu saja baru ia bawa ke kamar setelah makan malam tadi, bersama keluarga Glevino.
“Oh, mau ke dapur. Yaudah ayo, Mas juga mau makan, laper banget soalnya” keluh pria itu sambil menepuk perutnya.
Naya merasakan perutnya seperti digelitik oleh ribuan kupu-kupu saat tangan Adam merangkul bahunya sambil mereka berjalan ke dapur. Ia dapat merasakan betapa harumnya Adam meski sudah beraktivitas seharian. Ia menatap Adam dari samping dan sudah merasakan betapa pria itu punya jakun yang bergerak dengan seksi.
Naya membuang pandangannya saat Adam menoleh padanya dan tersenyum kecil lalu mengecup pelipisnya “Aku mau ngomong abis ini, boleh?” tanyanya yang membuat Naya salah tingkah.
“Nay, Mas ngomong sama kamu loh” tegur Adam setelah mereka di dapur dan Naya hanya terdiam, tanpa menjawab pertanyaannya.
“E-eh, i-iya Mas” angguknya cepat.
Adam memeriksa meja makan dan membuka penutupnya yang langsung menunjukkan ada ikan sambal cabai hijau. Ia segera mengambil piring dan duduk untuk menikmati makan malamnya yang terlambat karena pekerjaan, sedangkan Naya tengah menuangkan minum ke gelasnya yang baru.
“Temani Mas makan, lalu kita bicara” Adam menahan tangan wanita itu dan membuat Naya mau tak mau segera mengambil posisi duduk di depan Adam sambil menunggui pria itu selesai makan.
Adam menatap Naya yang memegang erat gelasnya dengan kedua tangan, ada senyuman lega yang ia sembunyikan karena bisa menemui Naya walau tadinya terhalang jadwal. Sepertinya Tuhan memang sangat menyayangi Adam hingga mengabulkan niat pria itu untuk berbicara dengan Naya agar bisa menyelesaikan masalah mereka semalam dan saat Adam mabuk.
“Mas, jangan lihatin aku gitu” tegur Naya sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ya, Naya memang cukup malu jika ada yang memperhatikannya dengan sangat lekat. Ia jadi merasa ada sesuatu yang slaah dalam dirinya hingga dipandang setajam itu.
Adam tersenyum geli lalu meneguk minumnya setelah isi piringnya yang tadi penuh menjadi kosong “Kita ngomong di ruang keluarga aja ya” pinta Adam dan diangguki oleh Naya.
“Mas nggak mandi dulu?” tanya Naya setelah menyadari bahwa jam menunjukkan malam sudah semakin larut.
“Maunya mandi, tapi nanti kamu menghindari Mas lagi”
“Enggak, mendingan Mas mandi dulu sana. Aku bakalan tunggu disini”
“Beneran?” tanya Adam lebih memastikan.
“Iya” angguk Naya dengan wajah semeyakinkan mungkin.
“Oke, Mas mandi dulu” pamit pria itu.
Usai mandi, Adam kembali ke ruang keluarga dan menemukan Naya yang bersandar di sofa sambil menatap televisi yang menunjukkan film action dari negara barat. Ia segera menghampiri wanita itu dan duduk disampingnya hingga Naya terkejut dengan kehadiran Adam yang tanpa suara.
“Kaget ya?” tanya Adam sambil terkekeh.
Naya memukul lengan Adam “Nanti kalau aku kena serangan jantung, gimana? Mas kalau jalan tuh, bunyi dong”
Adam menarik kepala Naya untuk bersandar di bahunya dan wanita itu hanya menurut “Mas minta maaf kalau semalam bikin kamu nggak nyaman sama tingkah Mas waktu mabuk”
“Emang Mas buat salah?” tanya Naya
Adam menggaruk tengkuknya dan menggelengkan kepala “Mas juga nggak tau, tapi yang jelas, Dimas bilang kalau Mas bikin kamu nggak nyaman”
“Semalam Mas tiba-tiba lompat keatas tempat tidur aku terus melukin aku didepan Mas Dimas sama Vio. Aku jadi malu” adu Naya jujur meski ia berusaha menyembunyikan fakta bahwa yang paling membuatnya tak nyaman adalah saat Adam ingin mengungkapkan rahasia memalukannya itu didepan Dimas.
Adam meringis mengetahui hal itu “Mas minta maaf” akunya, lalu mencium kening Naya “Mas juga mau minta maaf soal permasalahan kita di rumah sakit”
Naya mendongak hingga melihat mata Adam “Mas nggak salah apa-apa, aku yang datang tidak seperti harapan Mas”
“Maaf Nay, Mas sama sekali nggak pernah berpikiran buruk tentang kamu. Mas hanya terkejut dengan pengakuan itu, tapi seribu kali pun Mas berpikir, Mas memang nggak bisa melupakan kamu. Mas cuma berharap kalau kamu yang akan menemani Mas di sepanjang umur Mas di dunia, nggak peduli gimana masa lalu kamu”
“Tapi Mas---”
“Please, jangan ngomong apapun lagi mengenai ini. Mas nggak suka membahas ini terus”
“Tapi, Mas akan nyesel kalau nikah dan mendapati Naya udah-----emph”
Adam membungkam bibir Naya dengan bibirnya yang bergerak menggigit bibir Naya agar menyambut ciumannya, tidak ada niat sama sekali mendengarkan kelanjutan ucapan Naya. Naya yang terbuai, ikut memejamkan matanya dan membuka bibirnya, membiarkan lidah Adam masuk dan mengakses ruang dengan bebas. Tangannya bahkan ia kalungkan di leher Adam hingga tubuh mereka semakin intim.
Tangan Adam memeluk pinggang Naya dengan erat dan memberikan remasan kecil saat sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat, membumbungkan harapan untuk dapat melakukan lebih. Ciuman yang terasa semakin intim itu, membuat Naya sadar dan segera menarik diri meski Adam masih mencoba menahannya.
“Maaf Mas, nanti kita kelewatan” ringis Naya.
Adam terkekeh dan mengangguk “Gih masuk kamar, sebelum aku nerkam kamu” usulnya.
“Iya” angguk Naya cepat dan segera berlari ke kamar Viona sebelum jiwa m***m Adam membuatnya tertarik.
Adam meringis “Sial. Harus mandi lagi nih” sesalnya.
***
Hari ini, Naya sudah kembali mengajar dan harus dihadapkan dengan masalah baru oleh murid kelasnya karena ia seorang wali kelas dari X Mipa 2. Ingin rasanya meringis karena ia baru saja sembuh dari sakitnya, tapi sudah harus menangani masalah yang berawal dua hari lalu, saat Reno dan Rocky-murid dari kelasnya terlibat pertengkaran yang katanya karena penghinaan keluarga.
Ia segera berjalan ke ruang BK dan mengangguk kepada guru BK begitu ia masuk dan melihat guru tersebut sedang menangani kedua muridnya yang saling bungkam “Saya akan mengatasi masalah ini, Bu” ujarnya.
“Reno, Rocky, kenapa kalin bikin ulah setelah ibu masuk, bukannya kemaren aja diselesaikan masalahnya?” ringis Naya.
“Bu, panggil orang tua aja. Saya nggak mau menyelesaikan ini dengan cara baik-baik” usul Rocky sambil melirik Reno dengan sinis.
Naya menatap tak percaya atas usul Rocky yang sepertinya lebih ingin melibatkan orang tua dibandingkan menyelesaikan masalah ini sendirian “Rocky, ibu harus tahu maslaahnya supaya ibu bisa punya alasan untuk manggil orang tua kamu. Jelasin, kenapa kalian sampai berantam? Memangnya kalian ini anak kecil” omel Naya, namun tampaknya, Rocky dan Reno tak ada niat sama sekali untuk menjelaskan dan memilih tetap diam.
“Kalian nggak mau menjelaskan sama Ibu?”
Rocky menunjukkan senyum piciknya “Udah saya bilang bu, panggil orang tua aja. Saya nggak akan mau menyelesaikan masalah ini”
“Baiklah, ibu panggil orang tua kalian” angguk Naya kesal. Ia tahu bahwa menghadapi anak beranjak dewasa jauh lebih sulit dibandingkan menghadapi anak SD. Kekeraskepalaan mereka yang tak ingin diatur, sungguh menjadi boomerang tersendiri bagi guru-guru, tapi sungguh Naya baru melihat pertengkaran yang sangat kekankan seperti ini.
“Jangan, Bu” Reno mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepala atas keputusan Naya.
“Kenapa? Lo takut ketahuan kalau orang tua lo nggak mau ngakuin lo karena lo anak haram” dengkus Rocky.
Naya membulatkan matanya “Rocky, jaga ucapan kamu” bentaknya kasar. Ia tidak suka melihat betapa angkuhnya Rocky yang berkata tak sopan didepannya.
Inilah yang paling Anaya benci saat menjadi guru murid SMA. Saat ia marah atau membentak, muridnya bisa lebih marah dan kasar darinya, berbeda dengan murid SD yang jika ditegur akan diam atau menangis, bukannya membangkang. Oh, andaikan saja Naya memiliki keberuntungan diterima menjadi dosen disalah satu perguruan tinggi, ia pasti tak membuang waktu lama untuk menerimanya karena mahasiswa akan lebih mudah diatur hanya dengan nilai yang terancam.
“Maaf Bu, saya hanya berusaha jujur” sinisnya dan itu berhasil membuat Naya muak. Andaikan saja ia adalah Reno, ia pasti akan menjambak gigi Rocky hingga tak bisa bicara dengan angkuh seperti itu.
“Baiklah, orang tua kamu akan dipanggil. Reno, kita bicara di luar” ajak Naya.
***
Naya kini harus menatap tak percaya saat melihat orang tua muridnya sangat angkuh dengan membela anaknya yang jelas bersalah. Reno bahkan teman-teman di kelasnya mengatakan bahwa Rocky memang sering mencari keributan dengan anak lain. Ia akhirnya tau dari mana sifat sombong Rocky yang tidak bisa ditolerir, setelah melihat ibunya yang begitu glamour dengan kekayaan yang terang-terangan ditunjukkan.
“Reno, kakak kamu udah datang?” tanya Naya pelan kepada Reno yang sejak tadi hanya diam dan menatap kelakuan ibu Rocky.
“Maaf Bu Anaya, saya rasa tidak perlu memperpanjang masalah ini. Lagi pula saya lebih percaya kepada anak saya dan kalau ibu ingin terus menyalahkan anak saya, maka saya akan membawanya ke jalur hukum” ujar ibu Rocky membuat Naya tercengang “Lebih baik ibu suruh siswa ibu itu untuk minta maaf pada anak saya karena sudah menyebabkan wajah tampan anak saya rusak”
“Maaf Bu, saya rasa disini adalah kesalahan putra ibu. Saya juga bersedia membawa masalah ini ke jalur hukum untuk membela siswa saya yang tidak bersalah”
“Jangan Bu” lerai Reno dengan menggelengkan kepalanya.
Naya memandang heran dan lebih terkejut lagi saat Reno meminta maaf pada Rocky dan ibunya “Saya yang minta maaf karena saya yang bersalah. Tolong jangan bawa masalah ini sampai ke hukum”
“Baiklah, saya rasa masalah sudah selesai” putus ibu Rocky lalu berpamitan pada Naya dan guru BK sambil menggandeng putra kesayangannya.
“Reno, kamu ini kenapa? Kamu kan hanya membela diri dari bulian Rocky, kenapa disini kamu jadi semudah itu minta maaf?” kesal Naya.
“Maaf Bu, saya tidak bisa membawa masalah ini ke jalur hukum. Lebih baik mempersingkatnya dengan permintaan maaf”
“Baiklah, terserah kamu saja. Ibu nggak tau harus berkata apa-apa, tapi ibu ingin bicara dengan kamu” putus Naya lebih memilih mengalah, lalu menatap guru BK “Saya pamit keluar ya Bu”
Setelah guru BK mengangguk, Naya mengajak Reno ke kursi dekat madding sekolah agar bisa berbicara lebih leluasa “Boleh ibu tanya tentang orang tua kamu?” tanyanya lebih melembutkan suara, tidak ingin Reno tersinggung dengan pertanyaannya.
“Maaf Bu, orang tua saya bukan orang tua yang layak diceritakan”
“Reno” seru seseorang dengan suara cukup kuat saat melihat adiknya.
Reno menatap kakaknya dengan terkejut dan ternyata Anaya lebih terkejut dari pada Reno, bahkan hingga ia mundur beberapa langkah saat melihat kakak Reno yang sama terkejutnya dengannya. Ia mengepalkan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala “Gio” ujarnya pelan. Tatapan Gio yang sinis dan menelitinya dari atas sampai bawah membuatnya segera melangkah ke kantor guru, bahkan tanpa permisi kepada Reno sama sekali.