17. Gio

2205 Kata
Anaya POV Malam ini, aku merasa agak berat untuk pergi ke pernikahan salah satu teman SMA-ku karena perasaanku tak enak sejak semalam, rasanya ada beban berat yang menimpa pundakku saat ini setelah pertemuan yang disengaja oleh Gio kemarin. Aku tak henti-henti memikirkan perkatannya yang mengusikku dan membuatku sulit memejamkan mata bahkan ketika hendak tidur. Flashback ON Aku beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat mobil Adam, memastikan apakah pria itu sudah pergi atau belum setelah mengantarku, hingga tidak sadar, saat aku berbalik, aku justru melihat senyum sinis seseorang yang sangat ku hindari. Gio. Dia muncul di Sekolah tempatku mengajar entah dengan niat apa, yang pasti aku bertekad untuk mengabaikannya. “Pagi, Anaya Selindyna” sapanya hingga membuat tubuhku bergetar. Aku meremas tali tas yang ada dalam genggamanku dengan kuat sebagai pelampiasan akan rasa takutku padanya. Aku tetap melangkah untuk menjauhinya, sayangnya ia justru mendekatiku sampai ke gerbang sekolah “Gue pikir lo bakalan jadi jalang, ternyata malah jadi guru” ujarnya sinis. Aku menatapnya dengan kesal karena semudah itu baginya untuk mengucapkan sebutan tak pantas itu di lingkungan sekolah yang masih banyak pelajar yang berlalu lalang “Jaga ucapan kamu, Gio” kecamku. Ia terkekeh dan menatap penampilanku dengan tatapan yang membuatku benci karena aku merasa seperti sedang ditelangjangi olehnya “Kenapa? Lo takut ada siswa yang dengar kalau gurunya adalah cewek—mu-ra-han” tekannya saat mengatakan kata murahan. “Pergi kamu” usirku dengan mata yang berusaha ku kontrol agar tak mengeluarkan sesuatu yang sudah mendesak. “Suusstt, jangan melakukan hal yang mengundang perhatian kalau lo nggak suka siswa lo mengetahui masalah ini” titahnya. Aku melihat beberapa siswa memperhatikan kami ketika memasuki gerbang Sekolah hingga aku memilih mengalah demi menjaga nama baikku “Apa mau kamu datang kesini?” “Loh, emangnya ada larangan? Gue kesini cuma mau memperbaiki hubungan kita” ejek pria itu yang membuatku mendengkus dalam hati. Aku tau kalimatnya sedang menghina diriku. “Apa tujuan kamu kesini? Tolong, jangan ganggu hidup aku” pintaku lirih. “Gue nggak akan ganggu lo, Anaya. Gue hanya penasaran bagaimana hidup lo sekarang karena dulu gue pikir lo bakalan jadi pemuas nafsu sialan para pria di club” “Aku nggak akan melakukan pekerjaan serendah itu sampai kapanpun” “Kenapa? Lo udah punya pacar yang bisa muasin lo?” Aku hanya diam mendengar pertanyaannya, membiarkan dia berasumsi semaunya. Dari semua hal yang terjadi, aku hanya berdoa bahwa ia tak akan pernah bertemu dengan Adam atau orang-orang terdekatku karena aku tau betapa buruknya sikap dia yang akan mempermalukanku. “Gue kesini cuma mau bilang, jangan biarin gue atau orang tua Reno dipanggil ke Sekolah, apapun alasannya. Kalau sampai itu terjadi, gue bakalan bongkar aib lo di Sekolah ini dan membuat lo kehilangan pekerjaan yang lo cintai ini” ancamnya sebelum akhirnya pergi dan membuat tubuhk lemah seperti jelly, hingga aku harus berpegangan pada gerbang agar dapat berdiri dengan baik. Flashback OFF “Nay, lo kenapa sih?” “Engh” aku tersentak saat ada pukulan dilenganku yang berasal dari Vio yang saat ini sedang menatapku dengan tajam. Ya, saat ini, aku, Vio, Adam dan Axel memang berangkat bersama menuju pernikahan teman kami ini. Tidak perlu ku jelaskan ulangkan kalau aku dan Vio adalah teman sejak SMP dan kami mengemban pendidikan dari SMP, SMA bahkan kampus yang sama, jadi kebanyakan temanku adalah teman yang juga dikenal oleh Vio dan begitu juga sebaliknya. “Kenapa sih Nay? Seberat itu beban ngurusin pernikahan sampai lo ngelamun mulu?” sindir Vio. Adam yang duduk disamping Axel, menoleh ke belakang dan menatapku dengan alis terangkat seolah menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama dengan yang Vio ajukan. Aku menunduk dan memijat keningku “Gak apa-apa, cuma sedikit pusing karena ada masalah di Sekolah” jawabku singkat. Aku menatap kearah jendela di sampingku untuk menghindari tatapan penasaran mereka dan rasa tak puas akan jawabanku. Kalau seandainya saat ini, aku hanya bersama Vio saja, aku mungkin akan langsung menceritakan kejadian pertemuan aku dengan Gio, tapi sayangnya aku tidak bisa secara gambling menceritakan didepan Adam dan Axel. Begitu kami sampai di basement hotel, kami langsung keluar dari mobil saat Axel selesai memarkirkan mobil dengan rapi. Adam mendekatiku dan langsung menggenggam tanganku hingga aku menatapnya dengan senyum kecil. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya agak pelan ketika kami berjalan dibelakang Vio dan Axel. “Nggak apa-apa Mas” jawabku yakin hingga ia mengangguk dan tak lagi menanyaiku. Aku merasa cukup nyaman karena ia tak memaksakan ku untuk menjawab pertanyaannya yang ku yakin pasti masih belum mendapatkan jawaban yang ia mau. Aku berusaha menenangkan diri agar tak membuat suasana malam ini menjadi rusak karena wajah badmoodku. *** Aku tersenyum kecil saat melihat Axel dan Adam sudah bercengkrama akrab dengan beberapa temanku dan Vio setelah kami menyalami pengantin tadi. Tampaknya mereka sangat bisa membawa diri hingga begitu mudah tertawa dengan teman-temanku, bahkan hingga mengabaikan aku dan Vio yang juga sibuk bergosip ria dengan teman-teman sesama wanita. Aku tidak tahu awal mulanya membahas apa, tapi pembahasan kami terus merambat dari kucing beranak sampai kucing bertelur, seolah tak ada habisnya. “Nay, Cahaya kok nelpon aku?” tanya Vio sambil mencolek pinggangku. Aku melihat ponselnya yang menunjukkan nama panggil dari Cahaya. Aku kemudian menepuk jidatku lalu membuka tas kecil yang kubawa sejak tadi dan mencari keberadaan ponselku. “Angkat dulu Vi, hp gue nggak kelihatan nih” titahku. Tadi, Cahaya berpesan padaku agar membelikan s**u untuk anaknya jika nanti aku pulang dari pesta ini, karena nanti malam sampai tiga hari ke depan, aku akan menginap di rumah Cahaya karena suaminya sedang ada pekerjaan keluar kota hingga tak ada yang membantu Cahaya untuk mengurus si kecil, sampai akhirnya aku menawarkan diri karena tak tega membiarkan dia kerepotan sendiri. “Hp gue kayanya ketinggalan di mobil deh, Vi” ujarku pada Vio. “Dasar teledor, tadi pulanya main hp mulu sih lo” sindirnya. Aku tadi memang sempat menyibukkan diri bermain ponsel agar bisa menghilangkan beban pikiran yang mengganjal di kepalaku. “Oh ya, tadi Cahaya bilang apa?” tanyaku. Oh ya, mengenai Cahaya yang mengenal Vio, itu bukan karena teman sekolah ataupun teman kuliah, tapi karena aku yang memperkenalkan mereka berdua hingga akhirnya mereka bertukar pesan beberapa kali. Vio juga bilang kalau dia harus memiliki setidaknya dua nomor rekan kerjaku supaya saat aku sulit dihubungi, ia bisa menghubungi teman-temanku. “Dia bilang kalau dia udah kirim pesan sama lo mengenai yang harus lo beli sebagai tambahan karena butuh banget” “Oh, gitu. Vi, temenin gue ngambil hp dulu dong” pintaku. Aku takut ada pesan atau panggilan penting jika hp itu tak berada dalam jangkauanku. “Bentar” ujar Vio lalu berjalan menghampiri Axel dan meminta kunci mobil pada pria itu. Setelah itu kami berjalan ke basement dengan menggunakan lift, meski agak terhalang dengan ramainya orang yang naik turun karena menghadiri pernikahan teman kami ini. Aku agak menyayangkan hotel besar ini hanya memiliki satu lift saja padahal sering digunakan untuk menjadi tempat resepsi pernikahan kalangan atas. “Nay, lo tahu nggak, konsep dan tema nikahnya si Rere keren banget” ujar Vio sambil menyebutkan nama pengantin wanita. Aku mengangguk setuju dengan pendapat Vio dan begitu menyukai kesan mewah yang diperlihatkan oleh acara resepsi pernikahan Rere. Tidak ada warna-warna pink seperti yang ada dalam pikiranku mengenai konsep peernikahan, tapi tetap terasa romantis dan berkelas. Mengingat aku sempat bertengkar dengan Adam karena hal itu, sepertinya aku agak menyayangkannya karena ternyata konsep yang Adam pakai mungkin akan sama kesannya seperti pernikahan Rere. “Gue sama Mas Adam bahkan berantem perkara milih tema sama konsep pernikahan. Lo harus rasain betapa nggak elitnya kalian bertengkar hanya karena hal yang sepertinya sepele kayak gitu” “Gue tau dan udah cukup mempersiapkan diri akan berdebat sama Axel mengenai hal itu, apalagi lo tahu sendiri kalau gue sama Axel itu benar-benar kebalikan banget. Untuk milih makanan sama minuman aja, kami harus berdebat dulu baru mesen” curhatnya. Tiba-tiba aku jadi memikirkan keributan keduanya karena mereka memang sering sekali memiliki pandangan yang berbanding terbalik. Aku cukup salut mengingat bagaimana Axel dapat mengalah dan mendahulukan keinginan Viona yang selalu kekeuh mempertahankan sesuatu yang ia mau. Tapi, lebih dari itu, aku sangat salut melihat mereka saling mempertahankan hubungan meski sering kali bertengkar dan hanya Axel yang paling sering mengalah dan mengatakan maaf meskipun dari pandanganku, Vio adalah pihak yang salah. “Oh ya Nay, lo tadi sebenarnya melamun kenapa sih? Gue kepo banget, sumpah. Lo tadi tuh kayak nggak mikirin masalah sekolah sama sekali. Gue udah kenal banget sama lo, jadi lo nggak bisa bohong depan gue. Gue cuma nggak mau nanya aja karena mungkin lo ngerasa nggak nyaman sama kak Adam dan Axel” jelasnya. “Sebenarnya, baru-baru ini, gue ketemu sama Gio” ujarku jujur. Vio langsung menatapku dengan tajam “Dimana? Lo nggak diapa-apainkan sama dia?” “Gue--- Gi-Gi-o” ujarku terbata ketika melihat orang yang sedang kami bahas ada di hotel ini juga dan sedang menatapku dengan seringainya. “Apa?” tanya Vio heran lalu memutar tubuhnya. “Ayo, Vi” ajakku sembari menarik tangan Vio agar kami segera berlalu dari sana karena aku sudah tak ingin lagi berurusan dengan Gio. Rasanya, aku seperti dipermalukan berulang kali olehnya. Tiap mengingat namanya saja, rasanya ketenangan dalam diriku sudah pergi entah kemana karena ia seperti menghantuiku dan membuatku merasa bahwa aku adalah wanita yang begitu buruk dan tak pantas dicinta. “Buru-buru banget sih Nay narik Vio” ejeknya. Vio berbalik dan menatap Gio dengan tajam “Dasar sialan nggak tau malu lo. Ngapain lo kesini? Lo sengaja ngikutin Naya sampai kesini?” tanyanya sinis. Aku merutuki pertanyaan yang Vio lemparkan pada Gio yang berhasil membuat pria itu tertawa picik. “Yang bener aja? Lo pikir gue rela membuang waktu gue buat ngikutin seorang jalang” “Jaga mulut lo kalau ngomong, b*****t” pekik Viona. Aku menarik tangan Vio saat merasakan beberapa orang yang berlalu lalang tertarik untuk memperhatikan kami karena adanya perdebatan yang membuat Vio berteriak pada Gio “Udah Vi, nggak usah diladenin, gue nggak apa-apa” “Lo jangan lemah, Nay, cowok b******k kayak dia ini emang harus disadarin. Lo harus bilang sama dia kalau dulu lo pacarin dia karena khilaf, bahkan mukanya aja nggak layak disebut sebagai muka manusia dan setelah tahu kebusukan otaknya, gue jadi mikir kalau dia adalah binatang yang terlahir kembali karena Tuhan kasihan sama binatang ini” ejek Viona semakin menjadi. “Vi, udah ayo” ajakku lagi. Aku sangat takut kalau Gio akan melakukan sesuatu yang kasar pada Viona karena sekarang saja aku sudah melihat tangannya yang terkepal dengan wajah memerah karena menahan marah. Bagaimana tidak? Ia dipermalukan oleh Vio didepan beberapa orang yang masih memperhatikan kami dan seolah tak tertarik untuk melanjutkan perjalanan mereka. “Gue jadi berpikir kalau lo juga sama murahannya sama Naya, sampai lo membela jalang ini dengan begitu gigih” balas Gio. Aku sama sekali tak tertarik untuk membalas ucapan Gio karena yang harus ku perhatikan disini adalah Vio yang dalam keadaan marah dan harus dihentikan sebelum ia membuat dirinya sendiri malu. “Lo mau tahu sebera murahannya gue?” tanya Vio setelah menghempas tanganku dari lengannya. Ia tersenyum sangat picik “Gue juga mau tahu seberapa besarnya pengorbanan orang tua lo mendidik anak nggak berguna dan sampah kayak lo” “Sialan” desis Gio lalu melayangkan tangannya di pipi Vio. Aku tersentak kaget dengan pukulan yang tak kuduga itu. “Vi, lo nggak apa-apa?” tanya ku sambil berusaha melihat wajah Vio yang memerah dan sudut bibir yang mengeluarkan darah. “Vi, udah” aku berusaha menahan Vio saat ia mendekati Gio dan langsung menghantam kepala pria itu dengan tas berbahan perak itu. Aku meringis karena bisa membayangkan betapa sakitnya saat mendapat pukulan dengan tas itu. “Nay, ini ada apa?” tanya Adam saat tiba-tiba berada di dekatku. Axel langsung menarik Vio yang berusaha memukul Gio terus menerus. “Dasar jalang sialan” desis Gio sebelum pergi meninggalkan keramaian ini. “Mas, ayo kita pulang” ajakku dengan lemah. Aku tak bisa membayangkan jika Gio sampai melihat Adam dan mengetahui ada hubungan spesial antara kami karena aku yakin bahwa dia akan bertindak lebih jauh untuk menghasut Adam. “Sebenernya ada apa, Nay, Vio?” tanya Adam lagi. Vio hanya membuang pandangannya dari Axel saat pria itu hanya diam namun Vio sudah mengerti kalau Axel menutut penjelasan darinya tanpa harus bertanya. Ku dengar helaan nafas Vio yang berat “Dia itu cowok b******k yang mau gangguin aku sama Naya, jadi wajar kan kalau aku membela diri dengan memukul dia, udah gitu tadi dia juga nampar aku” keluh Vio dan berakhir dengan tangis. “Kamu ditampar?” tanya Adam langsung panik dan melihat pipi Vio setelah menggeser Axel yang sama khawatirnya dengan Adam. “Maafin gue, Vi” sesalku karena Vio harus terlibat dengan masalahku dan Gio yang tak ada habisnya. Aku bingung bagaimana bisa Gio tiba-tiba muncul terus dalam hidupku dan membuatku cemas dengan kehadirannya, padahal sudah tiga tahun belakang ini aku merasakan damai dan baru sekarang aku memberanikan diri untuk membuka hati, tapi kedatanganya malah membuatku gelisah akan hubunganku dengan Adam yang mungkin nantinya akan terpengaruh. “Kamu nggak apa-apa Nay?” tanya Axel. Aku tersenyum kecil lalu menggelng “Nggak apa-apa Ax. Lebih baik kita cepat pulang supaya bisa obatin bibir dan pipi Vio yang lebam” saranku dan diangguki oleh Adam dan Axel. “Nggak usah lebay sampai harus nunggu di rumah. Di mobil juga ada perlengkapan P3K” desis Vio sinis. “Oh iya, di mobil ada perlengkapan P3K. Sampai lupa” ujar Axel menepuk jidatnya. Sesampainya di Mobil, aku langsung mengambil kotak P3K yang disodorkan oleh Axel dan langsung membukanya untuk menemukan obat merah dan kapas agar bisa segera mengobati pipi Vio yang aku yakin sangat panas karena tamparan Gio yang cukup kuat tadi. “Aww, aishh, pelan dong Nay” dumel Vio, “Maaf, Vi. Ini slaah gue” “Udahlah Nay. Ini tuh salah si b******k Gio itu. Dasar b******n busuk” umpatnya. “Gio? Mantan Naya?” tanya Adam dan berhasil membuatku memejamkan mata dengan gelisah. Aku tak siap harus menjelaskan mengenai Gio kepada Adam, meski aku sadar kalau aku harusnya juga tak menutupi hal itu dari Adam, apalagi mengingat bahwa dia adalah calon suamiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN