Naya membuka pintu kamar begitu merasa sudah aman untuk keluar karena saat ini, jam menunjukkan angka 02.30 WIB. Ia melihat Adam tertidur di Sofa dan menghampirinya dengan langkah pelan. Ditatapnya wajah tampan nan damai itu dalam diam dan mata yang berkaca-kaca. Dengan teramat lembut, ia menempelkan bibirnya di kening Adam, meninggalkan kecupan tulus disana dengan air mata yang menetes tanpa dapat ia kendalikan. Ia menatap wajah itu dengan tubuh gemetar “Maafin Naya, Mas. Maaf” lirihnya. Naya ingin berada di sana lebih lama, tapi ia tahu kalau berada di dekat Adam akan membuatnya menangis dan tak bisa mengontrol diri. Ia lebih memilih melanjutkan niatnya ke dapur dan mengambil pisau dapur yang cukup tajam. Niatnya sudah bulat dan ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk terus mempermaluk

