47. Tempat terakhir

1862 Kata

“Ayo pulang, Dam, kita udah cukup lama disini” ajak Dimas untuk kesekian kalinya. Adam tetap tak menghiraukannya dan terus menatap makam yang masih basah itu dengan pilu. Pemakaman sudah berakhir dari dua jam yang lalu, tapi Adam masih tak bisa meninggalkan tempat peristirahatan Naya untuk terakhir kalinya. Ia tak bisa melepas kesedihan sedetikpun karena bayangan mengenai penderitaan Naya yang menghantuinya. Ia memang menyayangkan keputusan Naya untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia lebih menyesali dirinya yang tak berhasil menjadi suami yang baik, hingga Naya memutuskan untuk meninggalkannya dengan cara yang dibenci Tuhan seperti ini. Keluarganya sudah kembali dan berniat mengunjungi rumah keluarga mertuanya untuk menyampaikan permintaan maaf atas dirinya yang sudah tak dianggap lagi ole

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN