Bab. 38 - Dibenci

1805 Kata

Pria itu terpekur seorang diri. Meneguk minuman dingin dalam gelas. Pikirannya menerawang entah ke mana. Joy mendekati Elang, menepuk pundaknya, lalu menggenggam tangannya. Gadis itu menatap wajah terkejut Elang, seolah baru memergoki sesuatu dari matanya. "Keliatan?" Joy mengangguk. Sementara Elang menarik senyum terpaksa. Sudah bukan hal baru baginya menghadapi situasi macam ini. Terkadang, kata-kata Ravi memang lumayan menusuk sanubari. Elang sudah terbiasa dengan hal tersebut. Mau bagaimanapun juga, Ravi tetap sahabat sekaligus saudara baginya. Ia tidak pernah menganggap rumah ini sebagai miliknya, meski sering membanggakan kebaikan keluarga Ravi. Elang sadar akan posisi dirinya di sini. Kata-kata Ravi memang terdengar sepele, tapi sebenarnya agak menyinggung. Memang dasarnya Ra

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN