Alma baru saja membuat jadwal pertemuan Alex dengan salah satu investor yang akan menanamkan modal pada produk baru yang akan dirilis oleh perusahaan Alex. Ada lini bisnis baru yang bergerak dalam industri body care dan kosmetik yang memanfaatkan sisa limbah dari olahan minyak sawit. Rencananya mereka akan meeting senin depan disebuah hotel. Investornya berasal dari negeri jiran. Karena kesibukan Alex yang lumayan padat, Alma terpaksa cepat menyesuaikan diri. Beruntung Alex juga memiliki asisten pribadi yang mengurusi hal lainnya. Alma baru tahu kalau Alex yang dulu sangat cuek dan pecicilan berubah menjadi sosok yang kaku dan sangat ngebossy'. Tipikal anak orang kaya kebanyakan yang dapat jabatan secara instant. Alma tidak yakin akan bertahan lama bekerja dengan Alex, cukup sampai melewati masa kontraknya saja.
" Alma ayo ! " ajak Teo, ia baru keluar dari ruangan Alex. Mateo adalah asisten Alex.
" Kemana? " tanya Alma bingung. mereka tidak punya janji sebelumnya.
" Makan siang " jawab Teo sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya.
Belum sempat Alma menjawab pintu ruangan Alex terbuka menampilkan sosok yang punya ruangan. Seperti biasa Alex dan Teo memang selalu makan bersama. Alex yang sempat mendengar ajakan Teo pada Alma terlihat menunggu jawaban Alma juga.
" Duluan saja Bang, ntar aku makan di kantin aja " jawab Alma segan pada Alex.
" oke lah " angguk Teo pada Alma kemudian langsung mengikuti langkah Alex yang lebih dulu berlalu.
Alma tidak akan mau makan dengan mereka kecuali dalam keadaan terpaksa saja.Meskipun Alma merasa kalau Teo menerimanya dengan baik bukan berarti Alex akan bersikap yang sama, lagipula Alma harus tetap menjaga jarak dengan Alex yang notabene adalah bosnya.
" Makan bareng yuk ?" ajak Hikmal. Alma tidak menyangka Hikmal yang bekerja dilantai bawah sampai naik ke lantai atas demi mengajaknya makan bersama. Mereka tidak bisa dikatakan akrab karena baru dua kali bertemu saat meeting. Alma tidak punya banyak kenalan di kantor karena di lantai tempatnya bekerja hanya ada satu ruangan saja. Cuma ada ruangan Alex yang mana didepannya merupakan meja kerjanya dengan Mateo yang sekarang Alma panggil Abang mengikuti permintaan yang punya nama.
" Kamu belum makan juga kan ? "
Alma sebenarnya lebih suka makan sendiri. Terbiasa sejak dulu menjadikannya malas berbasa basi dengan orang lain. Ingin rasanya Alma menolak saja.
" Ayolah ... kamu nggak kasihan lihat aku yang sudah jemput kesini ? " rayunya membuat Alma semakin malas tapi tetap tersenyum setuju.
" Makannya di kantin saja " ujar Alma.
Hikmal terpaksa setuju. Niatnya ingin mengajak Alma makan di luar agar bisa melakukan pendekatan dengan lebih berkelas. Sejak pertama melihat Alma di kantor, Hikmal sudah tertarik padanya. Maklum playboy, merasa rugi jika tidak menjadi yang pertama saat ada anak baru dikantor. Apalagi look Alma sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang dipacarinya. Selama ini hanya wanita yang berkulit putih yang terlihat cantik dimatanya. Tapi sekarang lihatlah, pria mana yang bisa menolak pesona Alma. Alma memiliki tubuh sintal nan seksi. Tubuhnya membesar sempurna dibagian yang seharusnya. Hikmal bahkan bisa ngaceng hanya dengan membayangkan apa yang ada dibalik kemeja Alma. Alma adalah Beyonce didunia nyata bagi Hikmal.
Keadaan kantin kantor sudah tidak terlalu ramai lagi. Mungkin para karyawan sudah kembali ke kubikelnya masing- masing. Hanya tinggal beberapa orang lagi yang sepertinya tidak sedang diburu deadline. Ada juga duo petinggi kantor yang Alma fikir tidak akan ditemuinya disana. Ini adalah kali pertama Alma melihat Alex dan Teo makan di kantin. Mungkin karena masih terhitung baru jadi Alma tidak tahu bahwa mereka juga biasa makan di kantin.
Selesai mengambil menu yang mereka inginkan Hikmal dan Alma duduk membelakangi meja tempat Alex duduk.
Alex memperhatikan Alma dari belakang. Tidak ada lagi sosok Alma yang dulu masih tersisa pada dirinya yang sekarang. Alma yang sekarang tentu saja wanita dewasa yang cantik, seksi dan menarik. Namun bagi Alex terasa ada yang hilang.
" Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sejak awal tapi belum sempat juga " ujar Teo meminta atensi Alex " Alma ... sebelumnya kamu kenal dia kan? " tanyanya penuh selidik.
Alex mengalihkan pandangannya dari punggung Alma.
" Dia itu siapanya kamu ? "
" Bukan siapa - siapa "
" Nggak mungkin " sanggah Teo cepat " apa masuk akal seorang Alexander wiguna langsung menerima calon sekretarisnya tanpa kenal sebelumnya ?"
" Dia masuk melalui prosedur resmi "
Mateo mencibir " Prosedur resmi versi kamu saja! mau aku ingatkan bahwa seorang Alma Xantina tidak memiliki pesaing lain saat tes diadakan. Semua seleksinya hanya formalitas semata. Aku yakin, bahkan tanpa dia menulis lamaranpun kamu pasti menerimanya " ejek Teo.
" Iya seperti seseorang kan ?" sindir Alex disambut gelak tawa Mateo.
" Justru karena itu aku tahu dia orang yang kamu kenal sebelumnya " sambut Teo yakin " apa dia mantan pacar kamu ? "
Alex menggeleng.
" Mungkin Kamu pernah suka atau naksir ? "
Alex kembali mengingat masa lalu. apa dahulu Alex pernah suka pada Alma ? Sebelumnya Alex dengan yakin akan menjawab TIDAK! Pandangan Alex pada Alma dulu sama seperti kebanyakan Abg lainnya, Alma tidak cantik sedikitpun. Cantik dan Alma tidak bisa disandingkan. Cantik itu milik Alana seutuhnya.
" Tebakanku benarkan ? kamu pernah naksir padanya ?! "
Setelah kepergian Alma mungkin jawaban Alex akan berbeda, Cewek tidak harus cantik untuk bisa membuatnya dirindukan. Jika rasa rindu merupakan bentuk akibat dari rasa cinta, Mungkin BENAR Alex benar mencintainya!
" Aku bisa bayangkan betapa menariknya dia dari dulu, auranya terasa berbeda dari cewek kebanyakan. Dia eksotis dan seksi " kata Mateo pelan " orang bilang cewek berkulit eksotis itu lebih hangat dan nikmat makanya bule pada doyan ".
Alex bisa melihat seringai m***m dari sahabatnya itu.
Mateo salah! Alex sangat yakin bila Mateo kenal dengan Alma sebelumnya pasti ia akan punya pandangan yang berbeda dengan sekarang. Kulit eksotis Alma yang sekarang adalah bentuk perubahan dari Alma yang buluk. Tubuh Alma yang dulu kerempeng nggak berbentuk. Belum ada tanda - tanda akan menjadi aduhai seperti sekarang. Rata - rata tubuh cewek memang berubah saat mengalami pubertas.
Alex tidak pernah berpacaran dengan cewek dengan tipikal seperti Alma sebelumnya. Alex selalu berpacaran dengan cewek cantik standard indo' . Bukan karena tidak suka dengan cewek berkulit gelap tetapi setiap akan mendekati cewek dengan kriteria mirip atau mendekati rupa Alma, Alex frustasi sendiri. Bayangan wajah Alma akan menghantuinya. Alma adalah fantasi seksual Alex. Alex sampai merasa menjadi seorang p*****l karena membayangkan rupa anak smp saat dia bero***i diusianya sudah dewasa. Untunglah dugaan itu terbantahkan setelah Alex mencoba mengalihkan orientasinya pada Abg lain. Bukannya bernafsu, yang ada Alex jadi loyo sendiri. Dan sekarang Alex tambah yakin yang membuatnya turn on adalah ALMA nya karena sejak bertemu dengan Alma yang sekarang fantasinya jadi berubah pada Alma yang sekarang. Sosok Alma yang dulu sudah melebur menjadi satu.
" Dia sesuatu kan ? " tanya Mateo belum puas mengejar pengakuan Alex.
" Kalau kamu nggak bergerak cepat kamu akan keduluan yang lain " ingat Mateo melihat pada Alma dan Hikmal yang sudah menyelesaikan makan siangnya. Sebagai sesama pria, Mateo tahu kalau Hikmal sedang melakukan pendekatan pada Alma. Terlepas dari serius atau tidaknya, Hikmal sudah lebih dulu memulai langkahnya.
Alex tidak menanggapi ocehan Teo. Pandangannya mengikuti kesetiap gerak langkah Alma dan Hikmal yang menjauh.
#
Alma menduga kalau rekan bisnis Alex yang sedang meeting bersama mereka adalah orang yang pernah dekat dengan Alex sebelumnya. Wanita semampai berlesung pipi tersebut terlihat tidak sungkan menyuapi Alex disela makan siang mereka. Menawarkan menu pilihannya yang diakuinya sebagai menu favorit direstorant tempat mereka meeting. Alma berusaha terlihat biasa saja karena tidak mau mengganggu keakraban sang atasan. Tidak cukup dengan menyuapi saja, sang rekan juga mengelap sudut bibir Alex yang terkena noda sisa saos pasta yang dia makan.
Alma segera mengalihkan pandangannya saat bersirobok pandang dengan Alex. Jangan sampai Alex menganggapnya mengganggu mereka. Alma tahu hal seperti ini wajar terjadi. Pergaulan kalangan atas tidak sama dengan orang kebanyakan. kacung lebih baik pura - pura tidak tahu saja demi kelangsungan karirnya.
" Pertemuan selanjutnya aku mau kita berdua saja, tidak perlulah kamu bawa sekretaris segala "
Alma tersenyum samar, rupanya ada misi terselubung.
" Tidak bisa Mar, aku butuh dia untuk mencatat semuanya "
" Kenapa tidak kamu rekam saja kesepakatan kita ? " tawarnya .
Alex tersenyum seolah tidak menangkap maksud tersembunyi dari Maryam.
" Kita butuh pertemuan yang lebih santai sekalian untuk mengenang masa lalu " ucapnya sambil mengerling menggoda.
Ternyata benar, mereka memang seperti dugaan Alma. Pantas saja Maryam terganggu dengan keberadaan Alma. Sebenarnya dari tadi Alma juga merasa heran melihat Maryam datang sendirian tanpa membawa asisten dan juga dokumen yang mereka butuhkan. Setidaknya tanpa kehadiran asistennya dia akan membawa tabletnya tapi ini, alih - alih muncul dengan kesan formal, dia terlihat seperti akan menghadiri jamuan makan malam.
" Pada pertemuan selanjutnya aku harap kamu sudah membawa draf kerja sama kita " ujar Alex.
" Bisa kita bicarakan lagi nanti " balas Maryam enteng.
Tiap orang berbeda tingkat perubahannya. Begitu juga dengan Maryam. Pernah menjadi siswi berprestasi tidak menjamin dia akan menjadi sosok yang intelektual dikemudian hari. Maryam yang ada dihadapan Alex sekarang adalah Maryam yang tidak pernah ada dalam bayangan Alex sekalipun.
Bersambung