Pertemuan ( bisnis )

1815 Kata
Alma sudah menolak tapi Alex terus memaksa. Jadilah Alma kembali menjadi penonton bayaran. Kali ini Alma memilih meja yang terpisah dengan Alex dan Maryam. Tujuannya agar ia tidak terlalu ngenes banget dihadapan dua orang tersebut. Berniat untuk masa bodoh saja. Tapi, Alma tidak bisa bersikap biasa saja saat Maryam mulai menggoda Alex dengan sentuhannya. Coba mengabaikan dengan menikmati makanan yang terhidang didepan matanya namun lagi - lagi kepala Alma melongok ke meja sebelah. Seperti ada daya magnet dari sana. Alma tidak bisa menahan diri untuk tidak terusik. Dasar ganjen! cibir Alma dalam hati. bukannya membicarakan urusan pekerjaan, sejak tadi yang ada hanya obrolan dan sentuhan ngelantur kemana - mana. Alex sama saja, kalau memang mau berduaan kenapa memaksanya ikut segala seperti Alma tidak punya pekerjaan yang lain saja. Atau mungkin juga Alex sengaja agar bisa menjadikan Alma sebagai kambing congek. Dulu dan sekarang Alex tetap raja tega padanya. Alma menghela nafas bosan terus - terusan sehingga membuat Alex melirik padanya. Sebenarnya Alex merasa tidak enak karena menempatkan Alma pada posisi seperti sekarang tapi mau bagaimana lagi Alex sendiri juga tidak nyaman dengan situasi yang diciptakan oleh Maryam. Kerja sama bisnis kali ini sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah. Maryam yang dulu menolak Alex dengan berbagai alasan yang ada dan yang Maryam ciptakan sendiri kini berubah menyukai Alex. Berbeda dengan dulu, saat menjadi adik kelas yang nakal dan pecicilan sekarang Alex berubah menjadi pria dewasa yang menggetarkan jiwa Maryam yang masih betah melajang. Tidak mudah mencari pasangan yang sesuai dengan standard Maryam yang dianugerahi fisik dan karir yang sempurna. Alex kembali melirik pada Alma, Bersamaan dengan Alma yang juga sedang menatapnya. Pandangan keduanya seolah terkunci. d**a Alex jadi berdebar saat menatap manik Alma yang sebening telaga. Alex merasakan perasaan yang berbeda setiap menatapnya. Apalagi saat sepasang bola mata tersebut menatap langsung padanya. Perasaan berbeda namun dengan landasan yang sama juga dirasakan oleh Alma. Alma tidak bisa memungkiri kalau hatinya tercubit saat melihat keakraban Alex dengan lawan jenis yang cantik jelita. Entah sejak kapan persisnya Alma merasa kalau dirinya hanya ingin menjadi satu- satunya wanita yang menerima tatapan serupa dari Alex. Apakah mungkin perasaan berlebih itu hadir karena kebersamaan mereka yang terjalin akhir- akhir ini? Alma menjadi pihak pertama yang memutus kontak mata diantara mereka. Tidak mungkin Alma membiarkan perasaannya berkembang menjadi cinta. Alma tidak cukup kuat untuk menjalani drama percintaan dengan tema cinta bertepuk sebelah tangan. Bisa Alma pastikan akan seperti apa jadinya jika Alex sampai tahu Alma menyukainya. Bisa - bisa Alex akan mempermalukan Alma nantinya. Si biang kerok itu tidak mungkin bersikap masa bodo saja. Alex pasti akan terhina ditaksir oleh wanita buruk rupa seperti dirinya dan besar kemungkinan akan menjadikan perasaan Alma menjadi bahan lelucon. Masih jelas dalam ingatan Alma bagaimana Alex memandangnya selama ini. Terkadang Alma merasa kembali kemasa lalu saat berada didekat Alex. Oleh karena itu, Alma harus cepat sadar dan kembali ke tempat yang semestinya. Demi mengusir rasa galau yang mulai mengusik relung hatinya, Alma segera mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan masuk tak lama kemudian. dari Mami yang mengabarkan bahwa sang kakak, Alana akan pulang liburan semester depan. Alma kembali menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, mencoba mengusir perasaan yang sedang mengganggunya. Tiba- tiba perasaannya menjadi tambah tak nyaman saja. Semua gerak gerik Alma tak luput dari perhatian Alex. " Ngapain sih kamu liatin dia mulu?" tanya Maryam protes. Alex diam saja. Tidak mau menjawab hal yang dirasanya tidak perlu untuk dijelaskan. " Dia pacar kamu ? " Alex mengalihkan perhatiannya dari Alma untuk melihat pada Maryam yang terasa kian mengganggu. " Jangan bilang dia sekretaris plus plus kamu ? " tuduh Maryam ketus. Kesal dicueki dari tadi. " Jaga ucapan kamu " ucap Alex memperingatkan," kita sedang membicarakan persoalan bisnis jadi tidak seharusnya membahas masalah pribadi " Alex masih menjaga intonasi suaranya agar tidak kedengaran oleh Alma dan pengunjung lainnya. Maryam memberengut mendengar ucapan Alex yang terkesan menyindirnya. Kenapa sekarang Alex jadi susah untuk didekati? Tidak mungkin Alex tidak tertarik padanya. Apalagi dulu Alex sangat memujanya. Kaum adam biasanya sulit untuk benar - benar lepas dari jerat cinta pertamanya. Apa mungkin kini Alex sedang melakukan hal yang sama dengannya dulu? Jual mahal agar bisa dikejar- kejar oleh Maryam?? Kalau benar seperti dugaannya, Maryam tidak akan keberatan sama sekali. Usahanya tidak akan sia- sia andai bisa menjadikan Alex sebagai pendampingnya. Maryam sudah membayangkan akan seperti apa masa depannya jika sudah menyandang status sebagai nyonya Alexander wiguna. Maryam sebenarnya tidak ingin menganggap sekretaris Alex itu sebagai saingan karena baginya, dirinya jauh lebih cantik dari Alma. Tapi melihat gelagat Alex yang tidak nyaman saat bersama dirinya dan terus -terusan memandang ke arah wanita tersebut menimbulkan kecurigaan tersendiri bagi Maryam yang sangat biasa dengan hubungan terselubung antara atasan dan bawahan. Bukan hubungan kekasih yang dilandasi perasaan cinta yang tulus tapi lebih kepada hubungan yang bersifat mutual semata. Bagi Maryam, dibandingkan sebagai pasangan kekasih, lebih masuk akal rasanya jika Alex dan sang sekretaris punya hubungan khusus di ranjang. Bukan tanpa alasan jika Maryam sampai berfikiran buruk seperti itu. Penampilan Alma yang cukup mewahlah yang jadi landasan fikirannya. Maryam tahu semua yang dipakai oleh Alma termasuk dalam kategori barang branded yang rasanya tidak masuk akal dapat dibeli dengan gajinya semata, terkecuali barang tersebut barang tiruan. Tapi sayangnya, Maryam tahu dengan pasti kalau barang - barang yang melekat ditubuh Alma adalah barang asli. Tanpa sadar Maryam memandang Alma dengan tatapan menilai. Sepertinya si afro' seksi itu pandai memanfaatkan kelebihannya. Maryam mendesis sinis, menatap Alma dengan tatapan merendahkan dan Alex menyadari perubahan reaksi Maryam pada Alma. " Kalau terus begini kita tidak akan menemukan kesepakatan. Apa tidak sebaiknya kamu mengirim orang kamu saja ke kantor ku, atau bisa juga kami yang langsung datang ke kantor kalian " tanya Alex mulai hilang kesabaran. " Aku akan atur segalanya menjadi lebih mudah saat cuma ada kita berdua saja " ujar Maryam cukup keras. Ia kekeh pada keinginannya. Merasa diusir tentu saja Alma tidak menyia - nyiakan kesempatannya untuk pergi. " Saya permisi dulu pak " pamit Alma tidak menghilangkan rasa hormatnya pada sang atasan " bu Maryam saya duluan " ucap Alma sambil tersenyum sopan. Alex hanya mengangguk. Lebih baik ia mengikuti maunya Maryam supaya urusan mereka cepat selesai dan tidak berlarut - larut. Alma berlalu keluar dari restorant, sampai di tempat parkir matanya menangkap kehadiran satu dari sekian sosok yang tidak ingin ia jumpai lagi. Seperti saat menerima takdirnya saat bertemu dengan Alex yang juga ingin ia hindari sebelumnya haruskah sekarang Alma juga menerima sosok yang ada didepannya dengan hati yang lapang ? Pria itu memandang Alma dengan bibir mengembang setelah sebelumnya sempat tertegun sejenak, tersenyum ramah seperti biasa yang Alma bisa ingat. Dada Alma berdegup kencang. Perasaannya tiba - tiba menjadi gugup tak menentu. Seperti inilah reaksi alami tubuh Alma saat bertemu dengan orang - orang dari masa lalunya. Mereka adalah orang - orang yang pernah membully penampilan fisiknya. Meski sekarang Alma sudah menjelma menjadi si sexy glam' tapi batinnya masih tetap rapuh seperti dulu. Perlu sugesti tersendiri bagi Alma agar keluar dari bayang - bayang masa lalunya. " Alma apa kabar ? " sapa Reyhan lebih dulu. Alma menguatkan hatinya untuk terlihat biasa saja. Jangan sampai ia terprovokasi dengan pertanyaan Reyhan yang terasa mengganggu ditelinga Alma. " Baik " Jawab Alma singkat. Tak lupa ia balas tersenyum seolah tak pernah ada ganjalan diantara mereka sebelumnya. " Sudah mau pulang ya ? sayang sekali kakak baru mau masuk " kakak ... Alma jelas tidak akan sudi memanggilnya dengan panggilan itu lagi. " Kamu sepertinya sedang terburu - buru, mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi." ucap Reyhan punya kesimpulan sendiri demi melihat Alma yang tak memberikan reaksi positif padanya. " Boleh kakak minta nomer hape kamu ? " tanya Reyhan sambil menyodorkan hape miliknya pada Alma. Alma menerima hape yang disodorkan oleh Reyhan padanya setelah sempat menimbang sejenak, lalu mengetikkan sederet nomor ponselnya disana. " Terima kasih " balas Reyhan setelah menerima hape nya kembali, langsung mendial nomor Alma. Setelah yakin kontak mereka terhubung, Reyhan memutuskan sambungan. " Itu nomer kakak, jangan lupa disimpan ya" Alma mengangguk. " Kalau begitu kakak masuk dulu ya " Kembali hanya sebuah anggukan yang Alma berikan. Sempat tercenung beberapa detik barulah Alma melangkah pergi. *** Alex kembali menjelang waktu pulang kantor. Tiba didepan ruang kantornya ia menemukan Alma sedang bekerja seperti biasanya. Alex kira Alma akan langsung pulang kerumah karena bete dengan kejadian di restorant tadi. Ternyata Alex salah mengira. Kelihatannya Alma biasa - biasa saja. Tidak seperti orang yang terganggu moodnya. " Selamat sore pak " sapa Alma begitu menyadari kedatangan Alex. " Sore " jawab Alex sambil berlalu keruangannya. Baru kembali duduk setelah sempat berdiri menyambut kedatangan Alex kini Alma terpaksa kembali berdiri karena mendengar Alex yang memanggilnya. Alex dan Alma duduk saling berhadapan tapi tidak ada yang mulai berbicara. Alma diam karena menunggu Alex berbicara. Alex sendiri masih menimbang pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Alma. Ditelitinya raut muka wanita didepannya dengan seksama. Mencari gurat - gurat yang bisa menjelaskan suasana hatinya. Terlihat biasa saja. apa itu artinya mereka tidak sempat bertemu ? " Maaf pak, ada yang bisa saya bantu ? " Alma tidak bisa santai untuk hal yang tidak pasti. " Tadi apa kamu sempat bertemu dengan Dia ? " Alma menyembunyikan raut terkejutnya dengan baik sampai Alex tidak menyadarinya. berhasil menipu Alex sehingga salah menduganya. Alma jelas saja tahu siapa yang dimaksud oleh Alex. " Rey ... " sebut Alex pelan. " Apa tadi kamu bertemu dengan Reyhan di restorant ? " " Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan sesuatu yang diluar urusan pekerjaan kita. Maafkan saya karena tidak mau membahasnya." tegas Alma," apa ada hal lain yang bisa saya bantu?" Alex tercengang mendengar pertanyaan formal dari Alma. Alma mengangkat pergelangan tangannya untuk memastikan sesuatu. " Kalau tidak ada lagi yang Bapak perlukan saya pamit pulang " Alma kemudian berlalu dari hadapan Alex. tidak semestinya mereka membahas masa lalu yang sudah Alma kubur. Alex tahu mereka pasti sempat bertemu tadi. Entah seperti apa pertemuan mereka. Pasti baik - baik saja karena Alma sekarang terlihat biasa saja. Mungkinkah Alma masih menyimpan rasa pada Reyhan ? * " Hai bro! " Panggilan dari seseorang yang terdengar familiar memaksa Alex untuk menoleh ke sumber suara. " Kamu Reyhan, kan?" Bukan Alex yang membalas panggilan Reyhan tapi Maryam. " Kak Maryam? " sapa Reyhan memastikan kalau yang bersama Alex sekarang adalah kakak kelas mereka dulu. Maryam mengangguk senang karena masih diingat oleh juniornya. " Kalian bersama sekarang ?" tanya Reyhan setelah menyalami keduanya. " Iya..." " Kami sedang membuat rencana kerja sama." jelas Alex membantah asumsi Reyhan agar tidak berkembang," tepatnya perusahaanku sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat Maryam bekerja." Reyhan tersenyum. Tidak biasanya Alex menjelaskan segala sesuatunya dengan mendetail. Mungkinkah hal tersebut bentuk dari profesionalitas Alex yang sekarang? " Oke la bro, gue pamit dulu. Kebetulan gue juga sedang ada kerjaan disini, mau ketemu klien." Alex mengangguk. Keduanya kembali bersalaman sebelum Reyhan berlalu ke meja yang lain. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN