Pertemuan Kita

1027 Kata
Alma tahu tidak selamanya ia bisa menghindar dari orang - orang dari masa lalunya apalagi menghindar dari keluarganya sendiri. Masa itu harus Alma hadapi dengan keberanian. Orang bilang menghindari masalah adalah tindakan seorang pengecut. Sebelumnya Alma mengakui dirinya memang seorang pengecut, Alma terpaksa menjadi pengecut demi melindungi dirinya sendiri. tapi kini Alma akan mencoba untuk keluar dari lingkaran gelap tersebut. Mami Elen memperhatikan gerak gerik Alma yang terlihat sedikit gelisah menunggu kedatangan Alana. Ada sesuatu yang mengusik pikiran Alma, tapi tidak pernah bisa Mami Elen ketahui karena selama ini Alma menutupnya rapat - rapat darinya. kedatangan Alana semakin dekat, kegelisahan Alma juga semakin menjadi. " kamu baik - baik saja ? " tanya Mami Elen pada Alma yang sejak tadi mengaduk minumannya. Alma menghentikan gerakan tangannya, memandang pada ibunya dengan seulas senyuman yang terkesan dipaksakan. " kamu sedang kurang enak badan atau merasa ada yang sakit ? " Alma menggeleng. " Alma nggak papa kok Mi " jawabnya berusaha meyakinkan. " Kalau kamu merasa ada yang sakit kita Pulang saja atau bisa mampir kerumah sakit dulu " Raut kecemasan terlihat nyata pada wanita paruh baya tersebut. " Nggak Mi, Alma baik - baik saja " balas Alma meyakinkan sang Mami. Sia - sia datang jauh - jauh ke Bandara kalau harus kembali kerumah sebelum bertemu dengan sang kakak. Kali ini Alma akan berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. " Mamii...! " teriakan gembira dari Alana membuat Mami Elen menoleh sumber suara. Ia langsung berdiri menyambut kedatangan putri sulungnya. Alma memegang erat sedotan stainless yang sejak tadi ia pegang. Memandang pada Alana dengan tatapan kosong. " Mami... kangen " ucap Alana manja. " Mami juga " balas Mami Elen sambil mencium pipi kiri kanan Alana, " adikmu juga datang " bisiknya nyaris tak terdengar. Tubuh Alana sempat menegang sesaat. Kembali rileks setelah ia melepaskan pelukannya. Memandang datar sejenak sebelum berubah menjadi sebuah senyuman. berniat memeluk adiknya namun urung karena melihat gestur penolakan yang ditunjukkan oleh Alma. Alma tersenyum kaku pada Alana. *** Mami Elen merasa sekarang adalah saatnya. Alana sudah mendapatkan istirahat yang cukup sejak kepulangannya kemarin, begitu juga dengan Alma yang tidak bekerja karena kebetulan sedang akhir pekan. Mereka bertiga sedang sarapan saat Mami Elen memulai pembicaraan yang sama tidak mereka inginkan. " Bisa kalian jelaskan pada Mami apa yang sebenarnya terjadi pada kalian ? " tanya Mami Elen. Ia memandang kedua anaknya dengan sorot tegas namun penuh kasih. Baik Alana maupun Alma sama - sama terdiam dari aktivitas sarapannya. Keduanya tidak ada yang berani menatap sang Mami. " Mami mohon, cukup sampai disini kalian membohongi Mami ... ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga membuat kalian menjadi seperti orang asing begini ?" ada getar sarat emosi dalam suara Mami Elen. " Nggak ada apa - apa Mi. kami baik - baik saja kok " jelas Alana yang diangguki oleh Alma. " Kalian tega sama Mami, mau Mami bawa kebohongan Kalian sampai Mami menyusul Papi " Alma merasa seperti tertampar. apa yang Maminya ucapkan sangat membekas di hatinya. Hatinya memang sakit selama ini tapi bukan berarti Maminya baik - baik saja kan. " Alma minta maaf Mi karena selama ini sudah membuat Mami khawatir " ucap Alma menyesali apa yang telah membuat ibunya merana. " Baru nyadar kamu " perkataan Alana membuat Alma dan Mami Elen menatapnya dengan serius. " Ternyata selama ini ya kamu baru sadar. bertahun - tahun kamu menjadikan aku menjadi pelampiasan atas rasa rendah dirimu sendiri! " Menohok sekali tuduhan Alana pada Alma. bukan seperti itu yang Alma lakukan selama ini. Mami Elen menatap Alana tak mengerti. " Mami ingin tahukan apa yang terjadi selama ini? anak bungsu Mami ini marah sama aku karena pacarnya suka sama aku. dia tidak bisa terima kalau aku lebih cantik dari dia! " Alma menatap Maminya sambil menggeleng lemah. kaget dengan penuturan Alana yang menyudutkannya. " Bukan seperti itu .." sangkal Alma. " Kalau bukan karena denial karena apa lagi ? sudah jelaskan kalau Reyhan menyukai aku bukan kamu. kenapa juga kamu tidak bisa terima. putus cinta itu biasa, yang nggak biasa itu kamu yang menolak untuk menerima kenyataan yang ada " " Alana stop! cukup dari kamu.. sekarang Mami mau dengar penjelasan dari Alma " " Alma, coba ceritakan pada Mami. Apa benar yang tadi kakakmu bilang ? " Mengalirlah cerita Alma tentang apa yang telah terjadi pada mereka. tentang penghianatan yang telah melumpuhkan hati Alma selama ini. Mami Elen memandangi keduanya dengan perasaan campur aduk. " Alma tidak iri Mi ... Alma sakit hati dan kecewa " ucap Alma terisak. " Tapi tidak harus sampai selama inikan ? toh waktu dulu itu aku juga minta maaf " " apa selama ini aku tidak memaafkan kakak ?" " Jelas kamu tidak pernah bisa memaafkan kami. buktinya kamu selalu menghindar!" " Menghindar bukan berarti tidak memaafkan. aku menghindar karena mengobati lukaku sendiri " Alana tertawa ", Alma... Alma...." gelengnya ", Ternyata benar yang orang - orang katakan, orang jelek itu merasa terpuruk bukan karena hinaan orang lain tapi lebih karena perasaannya sendiri yang berlebihan menyikapi segala sesuatunya. Candaan saja bisa berubah menjadi hinaan jika diucapkan pada mereka. cinta anak sekolah itu cuma cinta monyet jadi tidak akan jadi serius jika kamu tidak lebay " " Alana, apa pantas kamu sebagai kakak bicara seperti itu pada adikmu sendiri ? " " come on Mi, kita ini sedang menghadapi dunia sebenarnya. Alma juga harus tahu bahwa setiap orang berhak berkomentar tentang kita, tinggal kitanya yang memutuskan apa yang mau kita yakini atau kita abaikan " " kakak benar... Alma juga setuju dengan pendapat kakak andai hal itu ditujukan pada orang dewasa yang telah cukup umur.akan jadi berbeda jika dilontarkan pada anak - anak yang bahkan belum tahu arti dari konsep menghargai diri sendiri. kakak tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dihina karena apa yang tidak bisa kita rubah dari diri kita. beruntunglah kakak yang terlahir cantik dan dipuja orang - orang " Mami Elen mengusap sudut matanya. masih bisakah dia menyalahkan orang lain yang sudah menghina anaknya jika nyatanya orang terdekatnya saja punya pandangan yang tidak jauh berbeda dari mereka yang acapkali menganggap bullyian sebagai candaan semata. Alana yang ia kenal sebelumnya sangat menyayangi adiknya sendiri kini telah berubah. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN