New Alma's

1618 Kata
Sembilan Tahun kemudian ... Akhirnya, setelah hampir sepuluh tahun berlalu Alma kembali ke kota kelahirannya. Terpaksa. Alma tidak punya pilihan lain karena kepulangannya merupakan bentuk baktinya sebagai seorang anak. Papinya sudah meninggal. Alana sedang menempuh pendidikannya di luar negeri maka tinggallah mami sendirian di rumah. Sejak kejadian menyakitkan diawal masa sekolah menengahnya, Alma memaksa untuk pindah ke tempat neneknya berada. Nun jauh di pulau yang berbeda. Alma tetap ingin pindah meski ditentang oleh sang mami. Beruntung papinya mengizinkan dengan harapan bisa membentuk kemandirian didiri putri bungsunya. Saat Alma menamatkan SMP dan masih melanjutkan SMA nya di kota yang sama, Papi Yongki masih merasa wajar dan baik - baik saja. Berbeda saat Alma mau melanjutkan kuliah masih di kota yang sama, tentu terasa aneh bagi mereka karena bagaimanapun banyak siswa dari berbagai daerah yang ingin kuliah di kota tempat orang tua Alma berada namun Alma menolaknya dengan alasan sudah terlanjur betah tinggal bersama sang nenek. Papi dan Mami Alma sampai menanyakan kesalahan apa yang sudah mereka lakukan sampai sang anak ingin menjauhi mereka. Tidak biasanya seorang anak ingin tinggal berjauhan dari orang tuanya. Bukan hanya setahun atau dua tahun saja tapi malah sampai bertahun- tahun lamanya. Alma tidak pernah kembali lagi kerumah. Pertemuan mereka hanya pada saat liburan saja, itupun karena mereka yang datang menjenguk. Apa yang sebenarnya telah terjadi hingga Alma membangun benteng pemisah diantara mereka. Setiap kali ada pembicaraan kearah sana, Alma memastikan bahwa mereka tidak bersalah sama sekali. Semuanya baik- baik saja. Hanya saja, Alma yang ingin menemani sang nenek yang memang tinggal sendirian. Hubungan Alma dan Alana tidak pernah sama lagi. Alana sudah meminta maaf atas kesalahannya. Alma juga sudah memaafkannya tapi tetap saja Alma tidak bisa dekat seperti dulu lagi dengan Alana. Selain karena jarak yang memisahkan, hubungan mereka juga menjauh karena Alma yang sengaja menjaga jarak dengan sang kakak. Rasa kecewa yang mendalam masih dirasakan oleh Alma karena Alana tidak pernah mau mengakui kesalahannya didepan orang tua mereka. Alana beralasan terlalu takut dimarahi karena sebelumnya orang tuanya sudah melarang Alana berpacaran sebelum usia tujuh belas tahun. Tapi disisi Alma, hal tersebut membuktikan kalau Alana tidak bersungguh- sungguh mengakui kesalahannya karena dengan Alana yang tidak mau jujur membuat orangtua mereka berfikir kalau kemarahan Alma pada Alana hanyalah bentuk kecemburuan semata yang dilandasi oleh rasa iri karena selama ini mereka sering dibanding- bandingkan. Alma merasa malah dipandang menjadi pihak yang bersalah. " Mami senang kamu kembali nak " ucap Mami Elen haru. Dipeluknya tubuh anak gadisnya yang sudah menyandang gelar sarjana tersebut. Terlalu banyak hari yang terlewati tanpa kehadiran sang anak. Mereka hanya bertemu setiap lebaran saja. Itupun karena mereka yang datang berkunjung. Selebihnya komunikasi mereka terjalin hanya lewat telepon saja. Mami Elen dan suami yakin bahwa ada hal besar yang Alma sembunyikan selama ini dari mereka. Rasanya mereka gagal memberi rasa nyaman dan aman pada anak mereka sendiri. Hanya karena terlihat berbeda anaknya jadi menderita. Alma balas memeluk Maminya dengan perasaan suka cita yang membuncah. Kelabat bayangan masa lalu coba ditepisnya. " Kamarmu masih sama seperti dulu. Mungkin tidak akan sesuai lagi dengan selera kamu yang sekarang " kata Mami Elen begitu mereka masuk ke kamar Alma," Mami punya kenalan desainer interior, kamu bisa nyuruh dia untuk renovasi kamar kamu " Alma tersenyum pada Maminya. " Untuk sekarang belum perlu Mi " tolaknya. " Terserah kamu saja yang penting kamu nyaman " Alma mengangguk. Kembali ibu dan anak tersebut berpelukan. Alma sudah berjanji pada Almarhum Papinya untuk menjaga sang bunda, jadi apapun yang Maminya inginkan akan Alma lakukan untuk membuatnya bahagia. Selain kembali pulang kerumah, Alma juga akan mencari pekerjaan disini. Sebuah lamaran pekerjaan sudah Alma kirimkan pada sebuah perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan sebagai seorang sekretaris direktur. Alma harap ia diterima bekerja secepatnya. sebagai wanita dewasa, kebutuhan Alma jadi meningkat dibanding saat jadi mahasiswa. sekarang Alma tampil stylist yang membuatnya sering keluar masuk salon dan butik. Yang tentu saja memerlukan uang yang tidak sedikit. Jika mengandalkan uang saku dari orang tuanya saja terpaksa Alma banyak menahan diri. Dulu, saat jadi mahasiswa Alma nyambi kerja di rumah makan sang nenek. Gajinya lumayan untuk memenuhi hasrat Alma pada dunia fashion. Alma bisa mengikuti fashion yang up to date. Selera berpakaian Alma patut diacungi jempol. Seksi elegant adalah Icon Fashion nya. " Kamu pasti capek, istirahat lah dulu nanti sore Mami bangunkan " Alma mengangguk. Sepeninggal Maminya Alma merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Fikirannya berkelana jauh. Alma gamang dengan hari esok. cemas untuk alasan yang kurang bisa ia jelaskan. # Setelah melewati serangkaian tes masuk, Alma diterima juga menjadi sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pengelolahan kelapa sawit. Dari info yang Alma dapatkan selama tes wawancara, Bosnya juga baru menjabat menggantikan orang tuanya yang baru mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang menurun. Alma tidak mencari tahu histori perusahaan yang akan ia masuki karena tidak menyangka akan langsung diterima. Ternyata perusahaan yang ia masuki perusahaan besar dan maju. Terlihat dari betapa megahnya gedung perkantoran yang ternyata milik mereka sendiri. " Nona Alma xantina, silahkan masuk " Alma mengangguk sambil bangkit dari duduknya. Hari ini akan menjadi hari pertamanya bekerja. Sebelum mulai bekerja Alma terlebih dulu harus berkenalan dengan bos yang akan ia urusi. Pertemuan pertama akan menentukan kelangsungan pekerjaannya nanti , oleh karena itu Alma tidak mau memberikan kesan buruk tentang penampilannya. Pilihan Alma jatuh pada blouse putih dengan aksen sederhana pada dadanya dipadu dengan rok selutut warna abu - abu. high heel warna senada dengan roknya mampu menonjolkan kesan eksotis pada kaki jenjang Alma. Tak ketinggalan sebuah tote bag berukuran sedang keluaran brand ternama dari Amerika. Secara keseluruhan penampilan Alma adalah simpel sexy dan elegant. " Nona Almanya sudah datang Pak " sebut orang dari tim HRD yang membawa Alma kedalam ruangan Bosnya. Alma dan si bos sama - sama mendongakkan kepala. Tidak seperti Alma yang terkejut, si Bos lebih menunjukkan wajah ... terpesona ? Sekilas, karena selanjutnya si Bos kembali menampilkan wajah biasa saja. Atau sebenarnya Alma saja yang salah menilai karena sedang gugup. Alma melihat sekali lagi papan nama yang ada diatas meja si bos untuk meyakinkan penglihatannya kalau dirinya tidak salah orang. Ternyata benar, dia orang yang sama dengan yang Alma sangkakan sebelumnya. Alma merasa heran kenapa dirinya bisa langsung mengenali sosok didepannya padahal waktu sudah sangat lama berlalu dan sosok didepannya bukan lagi abg berseragam putih dongker seperti yang dulu dikenalnya. Selain lebih tampan, pria didepannya juga terlihat lebih maskulin dan dewasa. Tapi... Sebuah deheman menyadarkan Alma. Oh Oke, Alma juga harus bersikap yang sama setidaknya sampai tidak ada orang lain selain mereka di ruangan ini. " Terima kasih pak Cahyo, bapak boleh kembali " Pak Cahyo mengangguk sebelum berlalu. " Silahkan duduk nona Alma " Alma mengangguk dan duduk. " Apa kamu tahu kalau yang melamar itu aku ?!" tanya Alma tak sabaran. " Kamu ?! " Alma mendengkus membuat sudut bibir Alex berkedut. Ya, pria yang sedang duduk dihadapannya adalah Alexander wiguna si biang kerok! " Tidak dulu dan sekarang kamu masih saja kurang ajar pada orang yang lebih tua " sindir Alex terang- terangan. " Aku memang begitu orangnya, apa itu cukup untuk jadi alasan kamu memecatku ?" tanya Alma menantang diluar dugaan Alex. " Apa kamu mau didenda sebelum bekerja ? kamu pasti sudah menandatangani kontraknya kan ?" Sial! Alma tahu ia tidak bisa bertindak gegabah. Kendali di pegang oleh si Boskan? Kalaupun Alma nantinya berhenti bekerja Alma mau punya surat keterangan kerja yang baik agar bisa jadi bahan pertimbangan melamar di tempat yang lain. " Aku tidak keberatan kamu panggil begitu " ujar Alex," tapi tidak saat didepan orang lain". " Baik pak " jawab Alma setelah menarik nafasnya. Alma sudah memutuskan untuk bekerja dengan baik di kantor Alex. Alma sudah dewasa tidak akan mengedepankan perasaan emosional lagi. waktu sudah menempah mentalnya menjadi lebih kuat. Alex merasa geli mendengar Alma memanggilnya bapak. Terdengar tidak cocok ditelinganya. " Mulai sekarang saya akan memanggil bapak dengan panggilan yang seharusnya. Saya harap, saya bisa membantu pekerjaan bapak disini " Alex mengangguk dengan wibawa seorang atasan yang memang cocok dengan tampangnya yang sekarang. " Jadi kapan saya bisa mulai bekerja ?" " Hari ini adalah hari pertama kamu bekerja, kamu bisa mencari pak Cahyo untuk informasi lanjutan " Alma mengangguk mantap. Berdiri tepat di hadapan Alex, diulurkannya tangannya kearah Alex. Alex menyambutnya dengan bingung. " Saya akan bekerja sebaik mungkin pak, Mohon bimbingannya " Alma berlalu setelah melepaskan jabatan tangannya. Alex masih termangu sepeninggal Alma. Alex tidak menyangka Alma berubah sedrastis ini. Selain berubah menjadi gadis seksi dan menarik, Alma juga terlihat jadi lebih percaya diri. Tidak bisa dipungkiri bahwa campur tangan Alex lah yang membuat Alma bisa diterima bekerja. Banyak tahun berganti tapi Alex tidak pernah bisa lepas dari bayang - bayang rasa bersalahnya. Melihat betapa hancurnya Alma saat terakhir pertemuan mereka membuat Alex sadar- sesadarnya kalau apa yang dianggapnya sepele selama ini menjadi sangat serius bagi orang lain. Bullying selamanya tetap salah meski dengan alasan bercanda sekalipun. Sepeninggal Alma yang pergi entah kemana, semuanya jadi berubah. Tidak hanya hubungan Alana dan Reyhan, pertemanan Alex dan Reyhan juga menjauh. Beruntung saat itu merupakan saat menjelang kelulusan mereka juga. Jadi semuanya bisa berjalan dengan normal karena masing - masing orang disibukkan dengan ujian dan mencari sekolah impian. Di SMA, Alex memilih berpisah dengan Reyhan dan Tomi. Terakhir Alex bertemu dengan Reyhan adalah ketika reuni akbar sekolah mereka. Alex dan Reyhan tidak bicara banyak. Cuma saling menyapa sekedar berbasa - basi saja. Alex tidak melihat Alana maupun Alma. Alma mungkin tidak menganggap sekolah tersebut sebagai Almamaternya karena memang tidak sampai setahun bersekolah disana. Tetapi kenapa Alana juga tidak datang? Alex menatap CV Alma yang ada di Laptopnya. Ternyata Alma pergi sejauh ini dari mereka. Kembali perasaan bersalah menyentak dadanya. Ada andil Alex atas apa yang terjadi pada Alma dimasa lalu. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN