Saat Ayana pulang dari makan malam bersama Kelly, rumah sudah sunyi. Lampu teras menyala redup. Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok itu berdiri di dekat pagar, memegang buket bunga besar dengan warna mencolok yang terasa asing di matanya. Ben. Ayana membeku sesaat. Dadanya menegang, napasnya terasa pendek. Dia tidak ingin berurusan dengannya lagi. Tidak malam ini, jika perlu selamanya. Ayana berjalan melewati Ben tanpa menoleh, langkahnya terus menuju pintu rumah. “Ayana,” panggil Ben, suaranya mendesak. “Aku hanya ingin bicara.” Ayana tidak menjawab. Mulutnya terkunci rapat-rapat. Bahkan telinganya pun dipaksa tuli. “Aku dengar kau naik jabatan,” lanjut Ben, mencoba tersenyum. “Ini untukmu.” Buket bunga itu terulur, seolah menjadi jembatan yang memaksa. Dia pikir A

