Hujan turun tipis, jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota. d**a Lucas berdebar bukan karena kecepatan, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang berputar di kepalanya. Ayana baru saja siap untuk tidur ketika bel pintu berbunyi berulang kali, tak sabar menunggu. Ayana malas-malasan beranjak dari ranjang, lalu melangkah pelan. Kemudian dia berhenti melangkah, ada firasat aneh menyelinap ke dadanya. Dia melirik jam dinding, sudah hampir pukul sepuluh malam. Namun tamu tak diundang itu terus berisik. Saat pintu dibuka, napasnya tertahan. Lucas berdiri di sana. Wajahnya tegang, sorot matanya gelap, jaketnya sedikit basah oleh gerimis. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya—lebih dingin, lebih keras. “Lucas?” Ayana terkejut. “Ada apa?” “Kau ikut aku,” ucap Lucas singkat. Ditatapnya wajah

